26.5 C
Jakarta

Diskriminasi Jilbab Lebar Bagi Para Penggunanya, Mengapa?

Artikel Trending

KhazanahPerempuanDiskriminasi Jilbab Lebar Bagi Para Penggunanya, Mengapa?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Menjadi wanita nahdliyin yang menggunakan ukuran jilbab lebih lebar dari teman sejawatnya menggiring stigma bahwa kami adalah golongan aliran tertentu. Belum sempat menyapa dan berkenalan bahkan tau latar belakang organisasi yang dianut stigma pengguna jilbab lebar selalu dikaitkan dengan golongan tertentu. Padahal pada hakikatnya sama, jilbab digunakan untuk menutup aurat pada bagian kepala wanita. Namun mengapa ukuran jilbab yang digunakan seolah-olah dianggap identitas golongan tertentu.

Penggunaan jilbab lebar juga tidak dapat dikaitkan dengan keimanan dan ketaqwaan seseorang. Beberapa faktor penyebab penggunaan jilbab lebar antara lain: pertama, menutup aurat (khususnya bagian dada). Kedua, mengikuti trend fashion hijab. Ketiga, transformasi busana muslim. Dengan demikian tidak dapat mengenalisir bahwa para perempuan yang mengenakan jilbab lebar adalah wanita dari golongan tertentu. Berapapun ukuran dan model jilbab yang digunakan memiliki esensi yang sama yakni sebuah kain yang diulurkan untuk menutup aurat perempuan.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat kemajuan pada berbagai model jilbab yang ada. Hijab menurut agama Islam ialah pakaian yang wajib dikenakan perempuan untuk menutupi auratnya berupa: rambut, dada, serta bagian tubuh yang lain. (Sinung, 2015:129) ketentuan mengenai jilbab ini juga dijelaskan dalam Al-Qur’an yakni surah An-Nur:31 yang memiliki arti “Hendaklah mereka menutup khumur (kerudung-nya) ke dadanya” ayat ini adalah rujukan bagi para pengguna jilbab lebar dari berbagai golongan dan latar belakang organisasi.

Jadi dapat dipastikan para wanita nahdliyin yang memilih menggunakan jilbab lebar hanya ingin menutupi bagian tertentu dari tubuhnya (bagian dadanya) serta mengantisipasi jilbab tersebut tersingkap dan memperlihatkan auratnya. Selain untuk menutup aurat jilbab digunakan sebagai sarana melindungi diri, harkat dan martabat wanita. Dalam beberapa kasus seorang laki-laki akan berpikir dua kali ketika hendak menggoda perempuan berhijab. Hal ini dapat mengurangi tindak pelecehan terhadap perempuan.

Jilbab dan Budaya Populer

Perkembangan trend fashion selalu diminati oleh kalangan masyarakat. Tren fashion ini juga berdampingan dengan tren hijab yang beredar di masyarakat. Di tahun 1980 terdapat diskriminasi pada para pengguna jilbab. Mulai dari instansi pendidikan dan beberapa sektor lainnya melarang para pegawainya mengenakan jilbab. (Sinung, 2015: 126) Dari kacamata historis tersebut kini larangan penggunaan hijab berganti menjadi anjuran. Jilbab yang awalnya digunakan oleh orang-orang tertentu kini bergeser digunakan oleh berbagai kalangan.

Mulai dari anak-anak, remaja, wanita dewasa dan orang tua menjadikan hijab bukan hanya sebagai alat menutup aurat namun sekaligus sebagai trend fashion. Dalam hal ini media masa memegang peran penting dalam pengenalan berbagai tren jilbab yang ada. Para selebgram, artis, publik figur bahkan anggota dewan. Menggunakan hijab dengan berbagai model, corak dan warna. Jilbab yang digunakan biasanya disesuaikan dengan busana yang dipakai. Hal ini membuktikan bahwa jilbab menjadi bagian dari budaya populer yang ada.

Trend hijab yang beredar di masyarakat berkembang sesuai dengan fashion yang ada. Meskipun ditujukan dan memiliki fungsi menutupi aurat, nyatanya para produsen hijab memadukan antara keindahan, kecantikan dan fungsi utama dari hijab. Berbagai selebgram yang ikut trend fashion hijab membuat masyarakat semakin tertarik menggunakan hijab dengan berbagai jenis dan motif.

Salah satu fungsi keindahan dimanfaatkan para produsen hijab sebagai daya tarik bagi konsumen. Pada hakikatnya perempuan selalu menyukai keindahan dan kecantikan, maka dari itu warna, corak, dan motif hijab disesuaikan dengan pasar yang sedang populer. Selain motif hijab juga dibuat dengan berbagai model. Mulai dari bergo, segi empat, oval, dan berbagai jenis hijab yang memiliki fungsi untuk menutup aurat.

Dalam QS. An-Nur ayat 31 disebutkan bahwa perintah untuk menutup aurat dan mengenakan hijab.

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka.” (QS An-Nur 31)

Tidak ada perdebatan mengenai aturan menutup aurat, perbedaan pendapat ini merujuk pada batasan aurat yang wajib ditutupi dan tidak boleh nampak. Al-Qurtubi mengemukakan bahwa sesuai dengan kebiasaan adat serta ibadah dalam Islam, wajah dan dua telapak tangan adalah bagian tubuh yang sering terlihat, sehingga dianggap sebagai pengecualian dalan ayat 31 QS. An-Nur 31. (Oktardi, 2016) Tujuan dari menutup aurat adalah untuk menghindari fitnah, khususnya untuk kaum perempuan.

Penggunaan jilbab lebar difungsikan untuk menutup bagian dada wanita. Terkadang ketika wanita sudah menggunakan pakaian yang sopan dan longgar bagian dada masih menonjol. Maka dari itu penggunaan jilbab lebar difungsikan sebagai penutup bagian ini, harapannya tidak akan timbul fitnah, serta menarik perhatian laki-laki. Jadi ukuran jilbab lebar tidak dapat dikaitkan semata-mata dengan organisasi atau golongan tertentu. Jangan sampai melukai hati saudaramu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkannya.

Hikmah Menutup Aurat

Ketika perintah berhijab diturunkan karena Islam sangat menghargai dan menjunjung tinggi martabat perempuan. Zaman jahiliyah perempuan hanya dijadikan objek seks semata, namun setelah Islam datang kehadiran perempuan sudah dianggap keberadaannya. Semua ajaran Nabi Muhammad SAW dalam agama Islam selalu memiliki tujuan,, ajaran untuk menutup aurat bagi perempuan bertujuan supaya ia terhindar dari fitnah kehidupan. Banyak tindak kasus pelecehan seksual pada perempuan, hamil diluar nikah yang merusak martabat perempuan.

Menutup aurat bagi perempuan juga membuat perempuan semakin bernilai. Di Hadapan kaumnya maupun kaum adam. Bayangkan terdapat dua permen, satu permen terbungkus plastik dan yang satu dibiarkan terbuka. Permen yang terbuka akan dikerubungi banyak lalat, namun permen yang terbungkus plastik akan terjaga oleh lalat. Dapat diibaratkan bahwa plastik tersebut adalah hijab yang dikenakan seorang wanita.

Kendati demikian jangan pernah memandang rendah perempuan muslim yang belum mengenakan hijab. Ada hal yang lebih mulia daripada mencela, mencemooh dan menyindirnya. Memberikan doa secara diam-diam akan lebih bermanfaat untuk mereka doa supaya Allah memberikan hidayahnya untuk berhijab dan menjalankan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Setiap orang memiliki fashion dan kiblat berhijabnya masing-masing, jangan pernah mengaitkan dengan golongan tertentu. Jadilah teman yang bisa menjaga lisannya.

Anisa Rachma Agustina
Anisa Rachma Agustina
Mahasiswa Prodi PAI, Penggiat Literasi Pena Aswaja INISNU Temanggung.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru