31.7 C
Jakarta

Di Mana Pelaku Kontra-Teror di Tengah Konflik Wadas?

Artikel Trending

Milenial IslamDi Mana Pelaku Kontra-Teror di Tengah Konflik Wadas?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Perang tagar #WadasMelawan dan #FaktaWadas berkeliaran di media sosial. Yang satu menginformasikan bahwa tengah terjadi teror aparat di Wadas, Puworejo. Kabarnya puluhan orang ditahan di kantor polisi. Bahkan, penangkapan mereka dilakukan di masjid saat sedang bermujahadah. Mendengar kabar itu, di Facebook berseliweran pembelaan pada warga dan pengutukan pada Pemda dan aparat kepolisian.

Sementara itu, kabar lainnya mengatakan, fakta di lapangan tak seteruk itu. Kabarnya, masyarakat menerima ganti untung dan tidak ada pengambilalihan paksa. Bendungan Bener, yang akan dibangun, juga dikatakan banyak manfaatnya. Yang tidak setuju proyek tersebut, konon sudah diundang Komnas HAM tapi tak datang. Intinya kabar kedua membela aparat, bahwa di Wadas ada provokasi, tidak seseram apa yang ada dalam pemberitaan.

Melihat perang narasi tersebut, menarik untuk diungkapkan, itu mirip perang narasi dalam kontra-terorisme. Setiap ada penangkapan teroris, pasti beredar kabar dari sebelah bahwa aparat tengah mendiskreditkan umat Islam di Indonesia. Warganet pun merespons sesuai apa yang mereka yakini benar. Yang paham bahwa terorisme mengintai Indonesia, akan pro-aparat. Tetapi bagi yang tidak menyadarinya, mereka akan kontra.

Lalu, apakah yang terjadi di Wadas juga bisa dikatakan sebagai teror, mengingat represi aparat kepada warga? Dan jika iya, di mana posisi pelaku kontra-narasi terorisme yang selama ini ke barat ke timur bicara terorisme? Ini yang menarik.

Posisi Kontra-Narasi

Penting disampaikan, saya terinspirasi menulis ini ketika seorang teman bertanya pada saya, “Bagaimana pendapatmu tentang konflik Wadas?” Ia bertanya demikian karena melihat saya sering menulis kontra-teror. Ia bertanya demikian karena pelaku kontra-teror itu diam melihat hal-hal seperti yang terjadi di Wadas. Ia bertanya demikian karena seolah-olah pelaku kontra-teror itu cari aman; tak peduli sedang terjadi konflik.

Untuk menjawab persoalan ini, kita bisa bertolak dari akar masalah Wadas itu sendiri. Jika kita telusuri konflik Wadas, sikap aparat pada mereka berbeda konteks dengan sikap aparat pada terorisme secara umum. Terorisme berkedok agama disikapi secara super keras agar sel-selnya benar-benar mati, sehingga terkesan sangat represif hingga seolah-olah menyudutkan Islam. Padahal tidak demikian. Teror memang wajib diberantas.

BACA JUGA  Rezim Masjid (I): Memperkosa Ayat Tuhan dan Fakta Perilaku Kaum Oposan

Karena itu, dalam konteks Wadas, pelaku kontra-teror tidak memiliki beban moral untuk menulis wacana sebagaimana mereka menulis tentang ekstremisme-terorisme. Sikap pelaku kontra-teror justru kembali ke masing-masing personal; merespons silakan, tidak merespons juga silakan. Namun demikian, jika konflik Wadas benar-benar mencederai keadilan, beban moral untuk menanggapi tidak sebagai pelaku kontra-narasi, tapi sebagai bangsa Indonesia.

Jelas, bukan? Di sini perlu juga ditegaskan kemudian, seperti disinggung pada paragraf pertama tadi, konflik Wadas ada dua perspektif. NU dan Muhammadiyah telah mengambil sikap, menuntut keadilan untuk warga Wadas, dan membebaskan mereka yang ditahan. Lalu apa posisi yang enak bagi pelaku kontra-narasi? Menengahi masalah. Iya. Ini yang pas.

Menengahi Masalah

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Terbaru, Ganjar Pranowo sudah minta maaf dan berjanji akan membebaskan warga yang ditahan aparat kepolisian. Ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah juga sudah mengambil sikap. Artinya, kita semua, tak hanya pelaku kontra-teror, harus jeli melihat jalannya konflik Wadas. Tentu saja sikap tengah ini bertolak dari keadilan yang demokratis. Toh, perang tagar juga tak akan ada gunanya.

Atas nama keadilan, pelaku kontra-teror harus kembali pada nuraninya masing-masing. Yang terpenting, konflik Wadas tak bisa disamakan dengan konflik teror, seperti penembakan Zakiah Aini di Mabes Polri tahun lalu. Meski konteksnya sama-sama tentang sikap aparat, namun konteksnya tidak sama. waktu itu, pelaku kontra-teror langsung menulis tentang Zakiah Aini dari berbagai perspektif. Tapi dalam konflik wadas, bagaimana mau ditilik?

Dengan demikian, kembali pada pertanyaan di judul, di mana pelaku kontra-teror di tengah konflik Wadas? Jawabannya tiga. Pertama, kembali pada nurani masing-masing dengan melihat konflik tersebut secara adil. Kedua, tidak terburu-buru mengambil sikap dengan terus menunggu fakta-fakta Wadas tersingkap seluruhnya. Ketiga, diam, tidak menghujat yang pro maupun yang kontra. Sikap terakhir ini untuk menjaga kompetensinya sendiri.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru