Desa yang Dirindukan


0
18 shares
Harakatuna

Di tengah kehidupan yang modern seperti ini, justru sebagian ahli mengatakan bahwa masyarakat Indonesia  semakin hari semakin menjauh dari nilai-nilai luhur Pancasila. Artinya, Pancasila, entah sudah tergantingan dengan ideologi dan gaya hidup lain, tak lagi menjadi ruh dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Kenyataan bahwa sebagian masyarakat Indonesia sudah tak lagi mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari berimplikasi pada munculnya berbagai problematika dalam bumi pertiwi. Kita tahu benar bahwa dalam bidang politik, misalnya, masyarakat terpolarisasi. Cara-cara, misalnya komunikasi, yang dibangun bukan berdasarkan permusyawarahan, persatuan dan kemanusiaan yang beradab. Melainkan cenderung frontal; kamus yang dipakai saat ini adalah asal beda. Asal beda ini ini tentu sangat mengkhawatirkan. Betapa tidak. Kubu yang berbeda, dalam konteks ini akan menjadi bahan bully, yang bisa dijadikan “pesakitan” setiap saat.  Inilah yang terjadi.

Belum lagi masalah kebangsaan lainnya. Sebagai contoh kecil dalam aspek sosial, misalnya. Aspek ini sudah sedemikian parah. Dalam Pancasila, asas sosial sangat ditekankan. Hal ini tercantum dalam sila-sila Pancasila seperti persatuan Indonesia dan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia. Saat ini belum terpenuhi secara tuntas. Yang ada, masyarakat saat ini semakin individualis. Gotong-royong, yang oleh mendiang Bung Karno disebut sebagai intisari Pancasila, kini sulit ditemukan.

Kondisi-kondisi mutakhir sebagaimana digambarkan dalam uraian di atas dan sebagaimana yang tergambar secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat, mencerminkan sebuah masalah yang tidak kecil dan biasa-biasa saja. Tegas kata, ada yang salah (kurang tepat) dalam memahami dan mengamalkan Pancasila.

Untuk itu, diperlukan suatu cara untuk mengatasi persoalan pelik tersebut. Ada banyak cara yang bisa ditempuh, mulai dari memasukkan kurikulum Pancasila dalam sekolah-sekolah, sampai dengan menuntun masyarakat untuk benar-benar mengaktualisasikan Pancasila. Nah, diantara cara-cara yang begitu banyak itu, model Desa Pancasila, mungkin saja, bisa diterapkan atau menjadi pilot proyek bagi desa-desa di Tanah Air.

Baca Juga:  Halaqah Kepesantrenan: Ikhtiar Membentengi Pesantren dari Radikalisme dan Terorisme

Secara sederhana, yang disebut Desa Pancasila adalah desa yang dibangun dengan menerapkan lima sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Desa ini sangat mungkin berdiri beragam kebudayaan, bahkan agama sekalipun. Warganya multikultural, hidup saling berdampingan, tak ada dominasi mayoritas dan diskriminasi minoritas, juga tak ada yang anti suku atau etnis ini dan itu.

Secara tegas dapat dikatakan bahwa Desa Pancasila merupakan upaya serius dari masyarakat/desa setempat untuk mengaktualisasikan Pancasila sebagai jati diri bangsa. Yang dasar pemikirannya adalah, bahwa Desa Pancasila diwujudkan sebagai ruh/spirit yang mampu memberikan pedoman, inspirasi, motivasi bagi cita-cita bangsa.

Sehingga dapat dijelaskan pula bahwa Desa Pancasila adalah sebuah tatanan yang memiliki konsep kehidupan yang berbeda dengan desa pada umumnya. Ada tatanan      yang memiliki nilai tambah dalam sosial masyarakat.

Dari sini bisa dibayangkan bahwa Desa Pancasila, penerapannya adalah sebuah tatanan yang memiliki prinsip kekeluargaan dan gotong royong dan berkeadilan. Tak ada kata individualis dalam kamus masyarakat Desa Pancasila. Pun semua taat agama sebagai wujud implementasi sila pertama.

Konsep Desa/Kampung Pancasila sangat mendesak untuk terus digalakkan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang memiliki komposisi yang beragam. Melalui konsep Desa Pancasila inilah, keragaman akan dirajut sedemikian kuat dan indah.

Saat ini, ada beberapa desa yang sudah menerapkan konsep Desa Pancasila, salah satunya adalah Desa Pancasila yang berada di Dusun Balun, Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Da juga Kampung Pancasila di daerah Nogosari, Trirenggo, Bantul. Kampung ini bisa menjadi teladan bagi kampung lainnya, terutama dalam hal bagaimana cara bermuamalah dalam suatu tempat yang terdiri dari beragam agama dengan tetap saling sapa, bahkan kerjasama tanpa adanya dusta atau api kebencian terhadap suatu agama secara membara.

Baca Juga:  Pelajaran Toleransi Tingkat Tinggi dari Empat Imam Madzhab

Karena pada dasarnya, Desa Pancasila merupakan suatu aplikasi dan internalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi dalam menjalankan kehidupan sosial, agama, dan lain sebagainya. Desa/Kampung Pancasila memang sudah seharusnya “menye-mesta”. Dan menurut proyeksi kami, Desa Pancasila akan menjadi salah satu kunci utama untuk mengembalikan masyarakat Indonesia pada nilai-nilai Pancasila yang luhur; solusi atas masalah sosial, ekomoni dan lain sebagainya. Karena Pancasila adalah jati diri Indonesia. Jika jati diri ini ada dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka tak sampai menunggu lama, Indonesia akan jaya, masyarakatnya sejahtera, dan kehidupan berbangsa dan bernegara akan tentram, aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.


Like it? Share with your friends!

0
18 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.