29.6 C
Jakarta

Demi Toleransi, Pentingkah Dialog Teologis Antarumat Beragama?

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuDemi Toleransi, Pentingkah Dialog Teologis Antarumat Beragama?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Judul Buku: Dialog Teologis Kriten Islam; Mewujudkan Relasi Damai Antarumat Beragama, Penulis: Taufik Hidayat, Penerbit: Literasi Nusantara Abadi Malang, Cetakan: Februari 2020, ISBN: 978-623-7743-19-4, Peresensi: Muhammad Izul Ridho.

Harakatuna.com – Konflik antarumat beragama sudah terjadi sejak manusia dan agama-agama itu diciptakan oleh Tuhan. Agama pertama manusia hanya satu yakni agama yang mengesakan Tuhan. Seiring mulai terjadinya penyimpangan praktik beragama oleh umat manusia maka mulai muncullah perselisihan dan konflik di antara mereka. Hal itu didasari oleh perbedaan pandangan dalam beragama.

Setiap masa Tuhan memang telah mengutus seorang utusan yang dalam istilah kajian keislaman disebut sebagai “rasul” guna menyampaikan pesan Tuhan dan utusan tersebut ditugaskan Tuhan agar tetap menjaga agar umat manusia tidak tersesat dan senantiasa tetap mengesakan Tuhan.

Sejak Indonesia berdiri sebagai suatu negara konflik antara agama kembali memanas akibat dari permainan para politisi yang menggunakan isu agama sebagai senjata untuk memukul lawan dan mengendalikan pendukungnya. Di tingkat nasional memang konflik yang terjadi hanya sebatas pada ranah saling sindir dan cekcok di media sosial, namun di tingkat akar rumput konflik tersebut dapat menimbulkan konflik fisik berupa penyerangan rumah Ibadah, pembunuhan dan berbagai aksi radikal lainnya.

Dalam mengatasi problematika tersebut hendaknya setiap umat beragama lebih mengedepankan “dialog” dengan semangat menguatkan toleransi antara umat beragama dan saling memahami serta menjaga satu dan lainnya. Kajian untuk mendialogkan umat beragama sebenarnya sudah dilakukan berbagai pihak baik akademisi maupun tokoh agama itu sendiri.

Satu dari sekian banyak kajian tersebut adalah kajian yang dilakukan oleh Taufik Hidayat yang dituangkannya dalam bentuk buku berjudul “Dialog Teologis Kristen-Islam”. Kajiannya menjadi menarik sebab Taufik merupakan satu dari sekian banyak pemuda muslim yang berpaham moderat.

Secara umum Taufik di dalam bukunya menguraikan tentang perbedaan dan persamaan tiga agama semitik, mulai dari sejarah kelahirannya, kitab sucinya dan doktrin-doktrin keagamaan yang didasari oleh latar belakang yang berbeda-beda.

Poin utama dari tulisan Taufik ini adalah polemik Kitab suci, perbedaan alur kisah Ibrahim dalam keyakinan Kristen dan Islam, dan hal-hal terkait Kota suci Yerussalem sebagai refleksi hubungan Yahudi, Kristen dan Islam. Taufik berusaha mendialogkan semua pembahasannya dengan semangat mengokohkan toleransi dan perdamaian dunia.

Dalam banyak literatur Ibrahim disebut sebagai bapak para Nabi dan Utusan, hal itu memang benar adanya, setiap nabi dan utusan di zaman setelah Ibrahim memang merupakan keturunannya, Musa dan Isa adalah keturunannya dari jalur Ishak, Muhammad nabi atau utusan paling akhir juga keturunannya dari jalur Ismail.

Sehingga tidaklah heran jika di dalam teologi umat kristen Ishak merupakan putra yang dikorbankan sebab mereka berkeyakinan bahwa Isa adalah nabi atau utusan terakhir. Berbeda dengan dari keyakinan Umat Islam yang meyakini bahwa putra yang dikorbankan adalah Ismail [hlm. 261-271].

Musa dalam keyakinan Islam merupakan seorang nabi dan utusan yang dianugerahi Kitab Taurat (dalam keyakinan Kristen disebut sebagai Perjanjian Lama) dan beberapa lembaran/suhuf (dalam keyakinan Yahudi kesemuanya disebut Tanakah), Taufik belum menjelaskan secara rinci posisi Musa di dalam keyakinan Yahudi seperti apa dan bagaimana, ia hanya menjelaskan bahwa saudaranya Harun merupakan Imam Besar.

BACA JUGA  Refleksi The Arab Spring; Ketika Demokratisasi Melawan Otoritarianisme

Sedangkan Isa dalam keyakinan Islam juga merupakan seorang nabi dan utusan yang kepadanya dianugerahi kitab Injil yang dalam tradisi keyakinan kristen disebut sebagai perjanjian baru [hlm. 65-89] dan beberapa anugerah lain semisal kemampuan untuk menyembuhkan beberapa penyakit yang kala itu belum dapat dianalisis dengan pengetahuan medis.

Muhammad sendiri merupakan nabi dan utusan paripurna yang dianugerahi kitab Al-Qur’an. Posisi Muhammad adalah sebagai penyempurna dari seluruh ajaran yang dibawa oleh para nabi dan utusan sebelumnya sejak awal penciptaan manusia. Sejak awal diutusnya Muhammad keyakinan seperti ini sulit diakui oleh mereka yang tidak mendapatkan hidayah Tuhan Allah.

Meskipun mereka mengetahui kebenarannya sebab hati mereka dipenuhi dengan sifat keangkuhan terlebih ketika mereka mengetahui bahwa Muhammad sebagai utusan terakhir tidak terlahir dari keturunan Ibrahim dari jalur Ishak sebagaimana para nabi dan utusan sebelumnya, tapi ia lahir dari jalur Ismail.

Penolakan keyakinan seperti ini tetap berlanjut sampai saat ini, terbukti dengan banyaknya tokoh-tokoh orientalis yang mengakui kebenaran ajaran Muhammad tapi menolak kenabiannya, hal itu telah dijelaskan oleh Taufik dalam bukunya halaman 281-284.

Selanjutnya, semangat yang dibawa Taufik memang semangat toleransi dan moderat, namun di sisi lain kajian yang dilakukan Taufik sangat terkesan kurang berimbang dan lebih didasari oleh semangat pluralisme dan upaya menyamakan seluruh agama-agama. Pemahaman Taufik akan teologi umat Yahudi dan Kristen memang cukup mendalam dan patut diapresiasi, namun meskipun ia seorang muslim uraiannya tentang kitab suci dan teologi umat Islam terkesan dangkal.

Hal ini nampak dari daftar rujukan yang ada, ketika menguraikan tentang teologi Yahudi dan Kristen ia merujuk langsung pada naskah dan karya-karya utama/ primer. Hal itu berbeda dengan ketika ia menguraikan tentang Islam dan teologinya, ia sama sekali tidak merujuk pada sumber-sumber primer.

Ia lebih terpengaruh oleh pemikiran Mun’im Sirry, yang belakangan oleh banyak cendikiawan muslim disebut sebagai tokoh liberal dan plural. Sehingga uraian dan penjelasan Taufik pada ayat-ayat suci al-Qur’an tentu tidak dapat dianggap sebagai kajian yang kredibel karena sumber rujukannya salah.

Terakhir, sebagai umat Islam yang baik mari bertoleransi sesuai dengan pedoman Al-Qur’an. Yakni mari kokohkan sikap toleransi dan moderat dalam praktik kesosialan dan kebangsaan. Dialog keagamaan yang seharusnya bukan mencari persamaan dan perbedaan dalam ranah teologis sebab hal itu hanya akan memperuncing perbedaan dan memunculkan perdebatan baru yang tidak berujung.

Terlebih jika itu dilakukan oleh orang yang pemahamannya dangkal. Namun mari kokohkan persamaan dalam mencapai tujuan dari agama itu sendiri, yaitu keteraturan umat manusia. Mari kokohkan kesamaan setiap agama dalam memberantas setiap paham-paham ekstrimis, radikal, praktik korupsi “mencuri”, seks bebas, narkotika dan lainnya.

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Muhammad Izul Ridho
Muhammad Izul Ridho
Mahasiswa Jurusan Studi Islam, Pascasarjana UIN Khas Jember.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru