24 C
Jakarta

Deklarasi Tentara Allah, Abu Bakar Ba’asyir, dan Bahaya Laten Teroris Indonesia

Artikel Trending

Milenial IslamDeklarasi Tentara Allah, Abu Bakar Ba’asyir, dan Bahaya Laten Teroris Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Mengagetkan. Saat udara bergembing dan tidak ada angin bertiup, kabar sekelompok orang mendeklarasi diri sebagai tentara Allah menghajar suasana hidup kita: manusia Indonesia.

Deklarasi Tentara Allah dan Populisme Islam

Video yang bertebaran dan viral di media sosial, memberi nuansa “negatif” bagi Muslim di Indonesia. Video deklarasi jemaah Tentara Allah yang dilakukan di sebuah masjid, di desa Mekarmukti, Kecamatan Cihampelas, Bandung Barat, yang berdurasi 2,15 menit (detiknews/4/1/2020), memberi infiltrasi dan telah kehilangan perspektif masa depan akan Islam. Malah kehilangan “budaya” keindonesiaan.

Tentu, dengan adanya deklarasi itu, banyak pihak bertanya-tanya, bingung, memberi celaan, dan bahkan peryataan. Seperti Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bandung, ikut serta memberikan peryataan. Menurut MUI Bandung, perlu ditegaskan maksud dan tujuan adanya deklarasi Jemaah Tentara Allah tersebut. Termasuk atribut yang mereka pakai nanti harus dilihat lambangnya apa dan tujuannya apa, imbuhnya.

Bahkan ia melanjutkan, deklarasi sepertinya tergantung dari tujuannya, kalau maksudnya mengganggu keamanan masyarakat, tentu dilarang bukan hanya oleh MUI, tapi oleh aparat hukum juga, tegas ketua MUI Bandung.

Deklarasi Tentara Islam sebenarnya akibat dari berlebih-lebihannya berislam atau beragama. Suatu sikap yang kadang-kadang membelok dari apa, maksud, tujuan Islam hadir ke bumi Indonesia, dan dunia. Dan dekralasi ala kelompok tersebut, meski basisnya kecil, kadang-kadang membahayakan hidup kita. Karenanya, nantinya, apa yang mereka kerjakan, lakukan, dan semacamnya mendaku bahwa mereka adalah “utusan tentara” Allah.

Abu Bakar Ba’asyir Bebas, Teroris Tumbuh?

Tetapi, yang lebih membahayakan lagi, sesuatu yang telah, pernah, terbukti masyarakat Indonesia babak belur akibat ulah Abu Bakar Ba’asyir. Di tangan dingin Abu Bakar Ba’asyir, pimpinan sekaligus pendiri Pondok Al-Mukmin Ngeruki, Sukoharjo ini, bom meletus di mana-mana.  Para jihadis teror bergelora.

Abu Bakar Ba’asyir adalah tokoh sesepuh teroris di Indonesia. Pendiri Jemaah Islamiyah ini, terdapat daftar panjang “merah” sebab-sebab terjadinya teror-teror di Indonesia. Bolak-balik masuknya Abu Bakar Ba’asyir ke penjera, salah satunya akibat kegigihan Abu Bakar Ba’asyir membela, memberi biaya, dan terlibat dalam aksi-aksi teroris di Indonesia.

Tapi, besok Jumat nanti Abu Bakar Ba’asyir akan dibebaskan. Menurut kabar yang beredar, Abu Bakar Ba’asyir dibebaskan secara murni setelah menjalani vonis hukuman selama 15 tahun penjara (detiknews, 4/1/2021).

Dengan kabar akan bebasnya napiter besar macam Abu Bakar Ba’asyir, banyak kelompok-kelompok masyarakat yang merasa takut, deg-degan, khawatir akan terjadi pengeboman dan hilangnya nyawa lagi seperti yang lalu-lalu (dia) lakukan bersama simpatisannya.

Masyarakat begitu takut akan kehilangan keluarganya hanya akibat jihad salah kelompok teroris seperti Bom Bali, Surabaya, dan Bekasi, Sulawesi Tengah, dan Tamrin Jakarta. Masyarakat khawatir bila orang-orang tersayang, kerabat, teman, guru, aparat, dan sebagainya, mati di tangan teroris dalih jihad atas nama agama dan Tuhan. Seperti akan pulangnya Abu Bakar Ba’asyir, masyarakat, mungkin juga Anda, seperti melihat bom di depan mata, dan keluarga kita bergelimpangan di tempat itu jua.

Kita tahu Abu Bakar Ba’asyir adalah orang yang paling gigih dalam sikap, dan tak mau patuh pada aturan apapun. Anda mungkin masih ingat setahun lalu, ketika Abu Bakar Ba’asyir mau dibebaskan oleh politisi amatir, yang bermaksud ingin mendapatkan dukungan banyak dari para kaum Islam kanan?

Kebebasan Abu Bakar Ba’asyir itu dulu ada di ujung tanduk. Tapi dengan syarat Abu Bakar Ba’asyir harus, sekali lagi, harus menandatangi pernyataan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi apa yang terjadi, Abu Bakar Ba’asyir tidak menerimanya. Ia tidak menerima syarat itu, sebab tak ingin mengotori dan mengkhianati cita-citanya: mendirikan agama Islam di Indonesia.

BACA JUGA  Hati-hati! Al-Qur’an dan Hadis Sering Jadi Taktik Kamuflase HTI dan Salafi-Wahabi

Dengan menerima pernyataan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, pasti dianggap berkhianat pada dirinya sendiri, pada temannya, santrinya, simpatisannya, dan siapapun yang satu padu dalam misinya: daulah Islamiyyah.

Abu Bakar Ba’asyir adalah tokoh teroris yang paling tangguh di antara tokoh lainnya. Setidaknya dari gagasan, idealismenya, dan jalan ninjanya: yakni ingin mendirikan agama Islam sekaligus bersistem Islam. Jejak rekamnya tidak tanggung-tanggung, ia lebih dari para teroris di Indonesia, yang mana mereka adalah muridnya.

Tapi apa yang terjadi hari ini? Abu Bakar Ba’asyir besok Jumat akan dibebaskan tanpa syarat apapun. Tanpa syarat penandatangan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan ia memang Abu Bakar Ba’asyir tidak mau menandatangani pernyataan setia kepada NKRI. Sebagai orang yang ingin tertib, tentram, dan nyaman susur galur hidup kita, apakah nerima pembabasan Abu Bakar Ba’asyir yang tidak mau menandatangani surat setia itu? Anda punya jawaban sendiri.

Tetapi, dengan tidak maunya menandatangani surat setia kepada negara kita, sesungguhnya napiter macam Abu Bakar Ba’asyir tidaklah dapat dibebaskan. Dengan tidak maunya menandatangani surat setia kepada NKRI, Abu Bakar Ba’asyir sepatutnya tidak dapat diberikan keuntungan pembebasan bersyarat.

Karena, dengan pemberian kebebasan itu, meski dengan penjagaan dari aparat, sungguh sangat bisa dia melakukan apapun. Sangat mungkin Abu Bakar Ba’asyir membahayakan hidup kita. Kita telah pernah melihat ulah mereka saat dulu dibebaskan, bukan?

Abu Bakar Ba’asyir sendiri bisa saja berselancar dengan gagasan ekstremnya yang selama beberapa bulan ini rapuh, tidak terjalankan. Kita pernah lihat, pada tahun 2010, Abu Bakar Ba’asyir kembali ditangkap polisi atas tuduhan pendanaan bagi pelatihan jaringan Al-Qaeda di Aceh. Pada 16 Juni 2011, Abu Bakar Ba’asyir divonis penjara 15 tahun sebab dukungan terhadap terorisme di Indonesia.

Tetapi meski Abu Bakar Ba’asyir di sel dipenjara, akan tetapi gerakan teroris JI dan JAT terus eksis dan gencar melakukan aksinya di tengah masyarakat. Mereka menyerukan pemberlakuan syariat Islam di Indonesia dan menolak segala macam produk undang-undang Republik Indonesia.

Sebab, menurut Abu Bakar Ba’asyir dan simpatisannya, produk undang-undang Republik Indonesia berasal dari masyarakat Barat yang kafir. Karena dari Barat dan manusia, maka produk undang-undang itu dianggap bertentangan dengan Islam, dan karena itu harus ditolak.

Tujuan Abu Bakar Ba’asyir dan simpatisannya, sejak dulu, yang ingin dicapai adalah penegakan syariat Islam di Indonesia dengan jalan mendirikan Daulah/Khilafah Islamiyyah. Fokus perjuangan Abu Bakar Ba’asyir dan simpatisannya, memiliki komitmen perjuangan menegakan Din al-Islam, menuju tegaknya kesatuan umat Islam di bawah kepimpinan Khilafah Islamiyyah. Mereka menolak gagasan lain, sepperti UUD, demokrasi, dan lainnya, karena dianggap membawa kesesatan dan kekafiran semata.

Maka itu, sejak dulu, agenda Abu Bakar Ba’asyir dan simpatisannya, adalah hanya ingin mengganti sistem yang ada Demokrasi, Pancasila, Undang-Undang Dasar di Indonesia. Tapi Jumat nanti Abu Bakar Ba’asyir bebas tetap dengan sikap di atas, yaitu tidak menerima sistem yang ada, dan tidak mau setia pada keberadaan NKRI, yang di dalamnya termasuk kita.[]

Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru