30.5 C
Jakarta

Dari Sepak Bola Hingga Radikalisme, Apa Hubungannya?

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanDari Sepak Bola Hingga Radikalisme, Apa Hubungannya?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Sepak bola di Indonesia selalu dihadapkan dengan masalah pelik. Kemarin pada pertandingan klub Sepak bola Arema melawan Persebaya menghadirkan duka bersama. Sekitar 150 orang yang hadir pada pertandingan itu menjadi korban karena beberapa faktor, terutama tembakan gas air mata.

Jatuhnya korban sebanyak itu tentu menjadi image negatif dalam persepakbolaan di Indonesia. Tragedi menyesakkan dalam sejarah dunia sepak bola itu tak lain tak bukan karena tidak mampu mengendalikan hawa nafsu untuk menerima kekalahan. Mereka, Aremania, pengen selalu menjadi pemenang dan juara. Padahal, dalam pertandingan pasti ada yang menang dan ada yang kalah.

Sebatas menjadi ”pemenang” ini bukan sesuatu yang dapat dibenarkan. Karena, ini termasuk penyakit hati yang dapat mengantarkan seseorang harus memposisikan orang lain berada dalam posisi kalah. Jika mereka ternyata yang kalah, mereka tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Biasanya mereka melakukan cara-cara yang picik untuk mengalahkan mereka.

Mindset hidup sebatas menjadi pemenang atau di atas tidak jauh berbeda dengan mindset kelompok radikal yang mendesain hidup sebatas berkuasa atas yang lain. Mereka hanya menjadi pemegang kebenaran. Sementara, yang lain (yang bukan golongannya) disalahkan–bila enggan berkata ”disesatkan”, apalagi ”dikafirkan”).

Menjadi pemegang kebenaran adalah penyakit kronis yang dapat membunuh nalar berpikir terbuka terhadap perbedaan. Tak heran, jika kelompok radikal memandang perbedaan itu petaka. Mereka mengkafirkan orang lain yang berbeda dengannya, meski ia muslim. Klaim kafir di sini menghadirkan pesan bahwa orang yang dimaksud adalah musuh mereka dan darahnya halal dibunuh.

BACA JUGA  Masihkah Kelompok Radikal Terlibat Lagi dalam Perpolitikan di Indonesia?

Padahal, Islam sendiri selalu mengajarkan bahwa hidup tidak melulu soal berkuasa atas yang lemah, memangsa yang lain, dan menyalahkan orang lain. Hidup adalah ”ketersalingan”. Saling membantu, saling menghargai, dan saling menghormati. Ketersalingan ini sudah banyak dilupakan. Padahal, dengan ketersalingan ini mengingatkan akan kisah Nabi Saw. ketika menghadiri medan perang.

Nabi Saw. berperang tidak semua menang. Nabi Saw., selain menggapai kemenangan pada Perang Badar, pernah dihadapkan dengan kekalahan pada Perang Uhud. Nabi tidak pernah merasa kecewa ketika dihadapkan dengan kekalahan. Nabi Saw. selalu menghadirkan optimisme.

Selain itu, merasa benar dalam setiap saat dapat menghilangkan nilai-nilai persaudaraan antar sesama. Ini sangat berbahaya. Padahal, nilai-nilai persaudaraan ini penting diperhatikan agar kita tidak terjebak dalam permusuhan.

Persaudaraan yang dibangun bukan hanya sebatas antar sesama muslim. Persaudaraan menyentuh semua manusia, meskipun agamanya berbeda. Dengan berpegang pada nilai-nilai persaudaraan, tidak bakal dikuasai nafsu selalu menjadi paling benar dan menjadi pemenang.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru