34 C
Jakarta

Dari Prof. Quraish Shihab hingga Pengusung Khilafah, Bisakah Bersatu?

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanDari Prof. Quraish Shihab hingga Pengusung Khilafah, Bisakah Bersatu?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Dalam sebuah acara peluncurun buku, Prof. Quraish Shihab hadir dan diberi kesempatakan untuk memberikan sambutan terkait buku tersebut. Buku yang saya maksud membahas tentang Syiah, kelompok yang cukup termarjinalkan kehadirannya di Indonesia. Buku ini pasti mendapat penolakan dari beberapa kelompok yang anti-Syiah.

Prof. Quraish Shihab yang seringkali diklaim penyebar paham Syiah tidak pernah getir berdiri di podium. Seingat yang saya dengar, Prof. Quraish Shihab pernah berpesan di suatu forum kuliah, “Sampaikan sesuatu yang menurutmu benar. Tidak usah takut!” Apalagi, Prof. Quraish Shihab menyatakan dalam bukunya Islam yang Saya Anut, bahwa pakar tafsir ini menganut paham Sunni. Meski begitu, ia tetap terbuka terhadap paham yang lain.

Ada satu pesan yang cukup menarik yang Prof. Quraish Shihab sampaikan dalam sambutan peluncuran buku Syiah dan sampai sekarang masih saya ingat. Katanya, “Tidak akan ada persatuan jika tidak ada keseragaman.” Kalimat ini dapat dipahami, bahwa perbedaan di antara beberapa kelompok antara Syiah dan Sunni memang sulit dihindari. Perlu kedua kelompok yang berbeda ini dipertemukan dengan konsep keseragaman.

Terus, tidak perlu mempersoalkan perbedaan tersebut. Yang paling penting adalah bagaimana menyeragamkan perbedaan ini, sehingga dapat menghadirkan persatuan di tengah perbedaan yang ada. Keseragaman pasti ada di dalam setiap perbedaan. Sebut saja, perbedaan yang terbentang antara Syiah dan Sunni pasti memiliki keseragaman, yaitu sama-sama beragama Islam, agama yang dibawa Nabi Muhammad.

Tidak hanya itu, Sunni dan Syiah memiliki keseragaman dalam beberapa hal pula. Di antaranya, mempercayai keesaan Tuhan, membenarkan kewajiban menghormati orang lain, dan seterusnya. Beberapa keseragaman ini penting dihadirkan atau direfleksikan supaya tidak timbul gagasan yang eksklusif yang melihat perbedaan sebagai petaka. Biasanya cara berpikir yang eksklusif ini mengantarkan seseorang melakukan tindakan radikal.

Tindakan radikal biasanya tumbuh subur di tengah masyarakat yang pengetahuan keagamaannya sangat dangkal. Mereka belajar Islam tidak sampai ke akarnya, sehingga ketika mereka dihadapkan dengan perbedaan akan cenderung kaget dan tertutup. Karena itu, mereka mulai timbul cara berpikir yang keliru dalam memandang perbedaan. Mereka mulai menyalahkan dan berujung pada penyesatan.

BACA JUGA  Sudahkah Kelompok Radikal Meneladani Kepribadian Nabi?

Dalam sambutan tadi, Prof. Quraish Shihab mengutip perkataan Imam Al-Ghazali, bahwa tidak boleh mengkafirkan seseorang yang dalam dirinya terdapat satu persen keimanan, meski sembilan puluh sembilan persennya kafir. Pesan ini penting diketahui dan direfleksikan oleh mereka yang gemar mengkafirkan, sehingga dapat bertaubat dari tindakan radikal itu.

Biasanya kelompok yang gemar mengkafirkan adalah pengusung khilafah. Mereka mengampanyekan, bahwa khilafah adalah syariat Islam. Karena, bagi mereka, berdirinya khilafah pernah disinggung dalam hadis Nabi. Memang benar, Nabi menyinggung soal pentingnya khilafah. Tapi, yang perlu digarisbawahi, bahwa khilafah yang dimaksud Nabi tidak seperti khilafah yang dikampanyekan oleh kelompok ISIS dan komplotannya.

Khilafah yang dimaksud Nabi adalah sebuah sistem negara yang berbasis kerajaan (monarki). Bahkan, sistem ini tidak wajib digunakan dalam semua negara di seluruh dunia. Negara yang berbeda-beda diperbolehkan menggunakan sistem yang berbeda-beda pula. Sebut saja, Indonesia yang menggunakan sistem republik-demokratis yang berbeda dengan negara lain.

Sistem republik-demokratis jelas berbeda dengan sistem khilafah yang diusung oleh ISIS atau HTI. Karena perbedaan ini, pengusung khilafah tidak menerima, sehingga mereka tidak segan menyerang balik dengan tuduhan kafir. Bahkan, mereka menghalalkan darahnya dibunuh. Tragis sekali!

Cara berpikir dan perbuatan radikal yang mengintai pengusung khilafah sesungguhnya belum memahami arti keseragaman sebagaimana disampaikan oleh Prof. Quraish Shihab. Metode keseragaman ini jika diaplikasikan akan mampu mempertemukan dua kelompok yang berbeda. Lihat saja, bagaimana Syiah dan Sunni bisa bergandengan tangan!

Sebagai penutup, perbedaan dan persatuan adalah karakteristik Negara Indonesia. Kedua karakteristik ini hendaknya dipelihara. Jangan sampai karakteristik ini hilang karena digerus paham radikal yang membahayakan. Save persatuan![] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru