Dari Politik yang Sehat Menuju Pemimpin Berhati Nabi


0
101 shares

Kini Indonesia sedang digoncang badai politik. Kubu sini dan kubu sana berlomba-lomba satu sama lain untuk meraih kekuasaan yang terlihat di ambang pintu. Segala cara digadai, termasuk cara licik. Hoax bertebaran di mana pun. Hate-speech tumpah tak terbendung.

Politik memang penting. Nabi Muhammad pun berpolitik. Namun, politik beliau berada pada kendali yang sehat, bukan dibumbuhi berita hoax dan ujaran kebencian. Karena, politik merupakan bagian dari ajaran Islam, sehingga tidak dibenarkan, bahkan dilarang, politik yang merugikan sebagian pihak dan menodai agama.

Politik mencita-citakan kekuasaan. Tentunya, ada pemimpin yang berkuasa di sana. Dalam Islam pemimpin sering disebut dg “ulil amr” (pemegang kendali pemerintahan). Masa depan suatu organisasi ada di tangan pemimpin. Pemimpin yang bertanggung jawab akan memanage organisasi berkembang ke arah yang lebih baik. Sebaliknya, pemimpin yang picik akan menggiring organisasi ke jurang kehancuran.

Oleh karena itu, penting memilih pemimpin bijaksana, yaitu pemimpin yang berpikir seperti Nabi Muhammad Saw. Karena, dalam riset kepemimpinan Nabi Saw. dapat dijadikan cermin bagi para pemimpin yang lain. Bahkan, belum ada pemimpin sebaik beliau. Seperti apakah rekam jejak kepemimpinan Nabi Muhammad? Pertama, cerdas mengatasi masalah. Nabi Saw. termasuk sosok yang solutif melihat masalah masyarakat. Tidak pernah ditemukan Nabi Saw. yang menghindar dari masalah, melainkan mencarikan problem solving sehingga masalah cepat ditangani dan tidak melahirkan masalah yang baru.

Nabi Muhammad Saw. melihat masalah bukan sebagai petaka yang dapat menghancurkan kepemerintahan. Namun, masalah yang dihadapi menjadi cambuk dan motivasi menuju era yang lebih baik. Karena, tanpa masalah hidup tidak akan berkembang, seperti kehidupan para malaikat yang stagnan karena mereka terbebas dari masalah. Selain itu, Nabi Saw. adalah sosok pemimpin yang tidak pernah mengeluh saat dibenturkan dengan masalah, baik yang remeh maupun yang pelik. Beliau adalah sosok pemimpin yang selalu optimis, positive thinking, dan berpikir besar dan maju. Tidak heran kalau Islam pada masa Nabi Muhammad mencapai puncak keemasaan, sehingga para peneliti Barat melihat Nabi Muhammad adalah orang terbaik pertama di dunia.

Baca Juga:  Gus Dur dan Deklarasi Tentang Hubungan Pancasila dengan Islam

Kedua, amanah dalam menyampaikan risalah Tuhan. Nabi Muhammad tidak pernah menyimpan sedikit pun perintah yang Allah sampaikan. Semua perintah disampaikan kepada umatnya tanpa terkecuali. Sama sekali tidak pernah Nabi Saw. menghalalkan sesuatu yang diharamkan karena kepentingan pribadi atau kelompok. Semuanya sama, tanpa ada yang diistimewakan. Nabi Saw. memperlakukan umatnya sebagai manusia yang harus dijaga hak-haknya, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan, dalam beberapa riwayat Nabi Saw. lebih memprioritaskan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan pribadi dan juga lebih mendahulukan hubungan manusia (hamlum minannas) dibandingkan hubungan dengan Allah (hamblum minallah).

Ketiga, dapat dipercaya dalam mengemban amanah. Karakter ini membekas pada kepribadian Nabi Muhammad semenjak beliau berbisnis dengan saudagar kaya raya Siti Khadijah. Atas prestasinya yang membanggakan, hati Khadijah terketuk, sehingga tumbuh benih cinta dan kemudian berlanjut pada pernikahan. Kejujuran Sang Suami mampu mengalahkan para lelaki yang jauh lebih kaya secara materi dibandingkan beliau. Kepemimpinan Nabi Muhammad dimulai dari memimpin dirinya sendiri kemudian keluarganya, dan diteruskan pada medan yang lebih luas, negara. Pada saat menjadi Rasul Allah, Nabi Muhammad pernah menyepakati Perjanjian Hudaibiyah dengan kaum musyrik Mekkah. Nabi Saw. menjaga janji itu, walau yang diajak kerja sama tidak seiman dengan beliau. Bahkan, saat perjanjian berlangsung, di tengah jalan yang melanggar janji itu adalah kaum musyrik sendiri, sehingga Islam pada waktu itu mengalami kemenangan yang disebut Fath Mekkah (Penaklukan Kota Mekkah). Peristiwa kemenangan ini terekam dalam Al-Qur’an tepatnya surah al-Fath.

Keempat, jujur dalam segala hal. Nabi Muhammad diminta menyampaikan wahyu Tuhan kepada manusia, tentu karena beliau sudah dipercaya. Mari bayangkan, andaikata Nabi Saw. Pengecut, niscaya orisinilitas Al-Qur’an tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tiada wahyu Allah yang disembunyikan secara sengaja oleh beliau. Semuanya disampaikan kepada umatnya dan sampai sekarang wahyu tersebut dapat kita baca kembali dan diamalkan pesannya. Kejujuran Muhammad yang mengantarkan beliau pula diangkat menjadi pemimpin. Segala perkataan Nabi menjadi hadis yang dapat dijadikan sandaran suatu hukum. Dan, disepakati hadis menempati posisi kedua setelah Al-Qur’an.

Baca Juga:  Membumikan Ajaran Islam dalam  Kehidupan Masyarakat Modern

Pemimpin yang berjiwa Nabi Muhammad adalah sosok yang akan mengantar politik pada jalan yang lurus (shirathal mustaqim). Pemimpin semacam ini akan mampu menjadi negara yang penuh peradaban dan penuh anugerah seperti Negeri Saba’ seperti yang tersebut dalam surah Saba’ ayat 15:Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

Maka, di tengah kontestasi politik yang kian memanas, tanamkan dalam hati politik yang sehat sehingga dapat menghadirkan sosok pemimpin yang berjiwa dan berpikir seperti Nabi Saw. Segala ucapan dan perbuatannya menjadi suri tauladan yang baik bagi orang lain, lebih bagi masyarakatnya. Disebutkan dalam surah al-Ahzab ayat 21:  Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Selain itu, dengan politik yang sehat akan menciptakan negara yang baik dan dicintai oleh Tuhan (baldatun thayyibah wa rabbun ghafur).[] Shallallah ala Muhammad!


Like it? Share with your friends!

0
101 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
1
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Khalilullah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti Pendidikan Kader Mufasir (PKM) Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) Jakarta