Dari Orientalisme Menuju Kajian Keilmuan Islam yang Legitimatif


0
12 shares

Pada awalnya kajian sarjana barat terhadap Islam, menganggap bahwa Islam bukanlah sebuah agama legitimatif, studi islam merupakan kajian yang dikurung dalam studi kawasan timur, sehingga studi islam dipandang sejajar dengan kajian sosial ketimuran. Menurut pandangan lama para orientalis, Islam dipandang sebagai entitas mati yang tidak pernah tumbuh, yang karakter naturnya sudah ditentukan sekali waktu untuk selama-lamanya pada abad ke-7 masehi. Barat memandang bahwa agama Islam merupakan agama kerdil yang jika ingin tumbuh dewasa maka ia harus menapaktilasi perkembangan barat sampai ke tahap kedewasaan barat saat ini. Orientalisme sebagai upaya Barat memahami, mengkaji, dan mendefinisikan dunia Timur, termasuk dunia Islam, telah mengalami dinamika historis yang multi-perspekif.

Dapat diduga keras bahwa abad XIII M adalah mula munculnya orientalisme khususnya setelah masa renaissance dan reformasi ajaran agama Kristen. Pada mulanya agamalah (Kristen) yang merupakan motif utama kegiatan ini. Agamawan-Katholik lebih-lebih Protestan-menyadari benar perlunya memberi interpretasi baru terhadap teks-teks keagamaan mereka agar sejalan dengan perkembangan baru, dan dari sini mereka mengarah ke Timur mempelajari bahasa Ibrani lalu pada gilirannya mengantar mereka mempelajari bahasa Arab, karena adanya kaitan erat antara bahasa Arab dan Ibrani. Kemudian upaya tersebut berkembang sehingga studi mereka mencakup bahasa-bahasa Timur, agama dan kebudayaannya. Upaya keagamaan itu disambut oleh politisi yang merasa sangat kecewa dengan kegagalan invasi mereka ke Timur, invasi yang populer dengan nama Perang Salib agar memberinya warna dan aroma agama. Ketika itu hubungan antara gereja di satu pihak dengan ilmuan dan negara di pihak lain tidak harmonis, namun mereka memperoleh titik temu yakni reformasi dan penyebaran agama Kristen yang merupakan misi agamawan. Disatu pihak, dengan penjajahan dan penguasaan wilayah Timur yang menjadi tujuan politis di pihak lain. Pertemuan dua seteru itulah yang menumbuhkembangkan orientalisme.

Berdasarkan latar belakang sejarah tersebut, perkembangan Orientalisme terbilang cukup pesat meskipun dari setiap masanya progres dari kajian Orintalisme tidak bisa lepas dari faktor teologis dan kepentingan. Oleh karenanya, perkembangan Orientalisme telah melalui beberapa fase yang sangat mempengaruhi pola pikir dan kajian yang mereka lakukan selanjutnya. Fase-fase tersebut antara lain: pertama, fase mitos (abad pertengahan) yaitu pada masa ini orang Kristen Timur di Syuriah mengembangkan klaim negatif tentang Islam dan persoalan aqidah. Opini ini kemudian dibentuk dan dipahami oleh orang Eropa. Kedua, fase distorsi (akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19) yaitu kecenderungan ras tumbuh subur. Barat mendikte Timur dan memusuhi Islam khususnya Nabi Muhammad yang dianggap sebagai pengarang al-Qur’an. Permusuhan ini berakar sejak abad ke-7 M dari orang Kristen Syam pada masa Yohanes ad-Dimasqy dan dianggap sebagai dasar dari Orientalisme. Ketiga, fase objektivitas (awal abad ke-20) yaitu ketika kritikan terhadap Islam mulai berkurang setelah perang dunia II terjadi perceraian antara Orientalisme dan politik. 

Keberadaan Orientalisme pada akhimya merupakan sebuah bentuk pemibatas yang memisah-misahkan sebuah wilayah berdasarkan geografi dan demografi. Dua kutub peradaban yang berbeda pada akhirnya diadu dan salah satunya dijadikan musuh. Orientalis bukan hanya berangkat untuk mengkaji sebuah peradaban dai “Timr” akan tetapi juga . Klaim pemisahan sebutan “Barat” dan “Timur”. merupakan klaim sepihak yang sebetulnya tidak berujung pasti. Jika Eropa beranggapan bahwa wilayah lain yang secara geografis menurut mereka berada di wilayah Timur mereka mereka anggap sebagai “Timur” Akan tetapi klaim ini bisa juga digunakan bagi mereka yang dianggap sebagai orang Timur jika menganggap diri mereka sebagai orang “Barat” dan bangsa Eropa yang secara geografi orang Eropa dapat juga dianggap sebagai orang “Timur” kontak kedua kubu ini tidak bisa lepas dari berbagai faktor krusial yang dapat menjadi ancaman bagi salah satunya. Eropa ketika itu menumbuhkan Orientalisme bukan hanya untuk melemahkan Islam dengan berbagai cabang keilmuannya, tapi juga untuk menunjukkan bahwa ajaran yang dianut oleh Eropa adalah yang benar. Selain itu beberapa faktor seperti perluasan wilayah, ekonomi dan penjajahan yang kemudian dilakukan oleh Kolonial juga tidak terpisahkan dari perjalanan sejarah Orientalisme.

Terjadinya pergeseran paradigma dari orientalisme menuju islamologi terjadi pada paruh kedua abad ke-20 hingga awal abad ke-21, orientalis dalam konteks klasik dan modern, telah mendapatkan perlawanan sepadan. Bahkan Orientalisme telah memasuki “ladang pembantaian”, baik dilakukan oleh penulis Timur, seperti Tibawi, Anwar Abd Al-Malik, Abdallah Laroui, dan Edward Said, maupun dari penulis Barat sendiri, seperti Michael Foucault, Paul Ricouer, dan Pierre Bordeau. Para pengkaji ketimuran, terutama Timur Islam, tidak mau lagi disebut sebagai orientalis. Mereka secara spesifik menggunakan istilah Islamologi sebagai disiplin kajian keislaman dan istilah Islamolog atau Islamisis sebagai istilah bagi non-Muslim yang mengkaji Islam. Dan akhir-akhir ini orientalis dianggap telah “mati”, dan orang-orang tidak lagi menggunakan term orientalis, walaupun begitu orientalis tetap dikaji sebagai suatu studi keilmuan untuk kemajuan islam itu sendiri.

Baca Juga:  Jihad ala Generasi Masa Kini

Like it? Share with your friends!

0
12 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Fansuri