26.8 C
Jakarta

Dakwah Wasathiyah: Kunci Sunan Ampel Menyebarkan Islam dengan Nir-Ekstremisme

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuDakwah Wasathiyah: Kunci Sunan Ampel Menyebarkan Islam dengan Nir-Ekstremisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Judul Buku: Madzhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel, ISBN: 978-602-8648-36-3, Penulis: Dr. H. Abdullah Halim M.Ag. dan Dr. Prihananto, M.Ag., Tahun Terbit: 2021, Penerbit: Pustaka Iman, Tebal Buku: 260 halaman, Peresensi: Muhammad Nur Faizi.

Harakatuna.com – “Aja mangkono sira ki bayi, ramanira, apa nora nyegah, wong kang mangsuk agamane”. Janganlah bersikap sembrono (negatif) kepada ayahmu wahai Raden Patah. Apakah beliau pernah mencegah atau melarang orang-orang untuk memeluk agama Islam? Ujar Sunan Ampel kepada Raden Patah yang ingin memerangi ayahnya, Raja Majapahit, yang masih non-Muslim (hlm. 201). Sunan Ampel ingin mengajarkan kepada Raden Patah kemurnian dakwah yang disebut sebagai dakwah wasathiyah.

Dakwah wasathiyah yang dibawa oleh Sunan Ampel, tidak hanya berfokus pada Islamisasi masyarakat, namun juga ingin mengubah tatanan dakwah yang semrawut. Peta politik masa lampau, akan menyeret pola dakwah yang mengerikan; peperangan, kematian, pemaksaan, dan percaturan politik yang sangat kejam lainnya (hlm. 202). Satu sama lain berebut kursi teratas, untuk membentuk keyakinan penduduk sesuai keyakinan penguasa.

Jelas pola dakwah tersebut bertentangan dengan prinsip dakwah Rasulullah, yang dilakukan secara damai dan tidak terdapat paksaan apapun. Selain itu, apabila konsensus dakwah lama tetap diterapkan, hal itu cenderung sulit dan hanya bertahan sementara, karena keadaan orang Jawa yang sudah terlanjur memeluk agama Kapitayan. Maka pola Islamisasi dilakukan secara terbuka dan membentuk dialog-dialog yang menyentuh kalbu manusia (hal.134).

Ilmu tasawuf menjadi sangat penting karena dapat menggali kesejatian diri dan menghubungkan manusia dengan Pencipta (hlm. 156). Orang Jawa menjunjung tinggi kedekatan dirinya dengan Pencipta. Pun agama Kapitayan yang sebelumnya menjadi kepercayaan orang Jawa, secara tidak sengaja berkaitan dengan ilmu tasawuf itu sendiri. Sektor inilah yang digali oleh Sunan Ampel untuk meyakinkan penduduk pada kebenaran agama Islam.

Secara teknis, dakwah yang dilakukan oleh Sunan Ampel sangat berhasil, karena selain mampu menyebarkan Islam secara luas, Sunan Ampel juga mampu mencetak mubaligh-mubaligh yang menjadi penerus pola dakwah wasathiyah (hlm. 164). Sebut saja, Sunan Kudus yang ahli di bidang Fiqih, Sunan Gunung Jati, Raden Patah, dan beberapa mubaligh ternama lainnya. Beliau berhasil menelurkan dakwah wasathiyah sebagai gerakan wajib dalam melakukan menyebarkan Islam.

Oleh karena itu, Dr. H. Abdullah Halim dan Dr. Prihananto secara khusus ingin mengupas metode dakwah wasathiyah Sunan Ampel. Dalam buku Madzhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel yang keduanya tulis, mereka memetakan lima pembahasan.

Pembahasan mengenai nasab diletakkan dalam pokok bahasan pertama. Dalam pembahasan tersebut, disebutkan jika Sunan Ampel dari segi nasab masih termasuk keturunan Nabi Muhammad ke-21 apabila dilihat dari Naskah Negarakerthabumi. Sedangkan menurut silsilah Sunan Giri, beliau berada di garis keturunan Rasulullah saw ke-22.

BACA JUGA  Menelisik Sejarah Gerakan Islamisme di Indonesia

Kemudian dalam buku Madzhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel juga disebutkan faktor keberhasilan Sunan Ampel dalam melaksanakan dakwahnya. Dimana Sunan Ampel menggunakan pendekatan keteladanan, sehingga muridnya dapat menimba ilmu secara langsung, baik melalui narasi yang disampaikan ataupun sikap yang ditampilkan, yakni nir-kekerasan. Melalui cara tersebut, Sunan Ampel dapat menciptakan kader-kader yang membawa pengaruh kuat Islam di Nusantara.

Corak dakwah yang ditampilkan Walisongo hampir seragam, yaitu akulturasi budaya. Dipadukan pola keislaman dengan budaya setempat agar dapat diterima oleh masyarakat. Sunan Kalijaga yang menjadikan wayang sebagai tuntunan. Atau pun Sunan Bonang yang menggunakan alat musik sebagai dakwah. Atau pun Sunan Kudus yang membuat larangan khusus agar masyarakat yang berbeda keyakinan dapat bekerjasama dan dipersatukan. Pola-pola seperti itu mempunyai garis lurus pada Islam wasathiyah.

Khairan Muhammad Arif dalam jurnal yang berjudul Moderasi Islam Perspektif Al-Qur’an, As-Sunnah Serta Pandangan Para Ulama dan Fuqaha menjelaskan arti wasathiyah sebagai ajaran Islam yang mengarahkan umat untuk berlaku seimbang, proporsional, adil, dan membawa maslahat untuk makhluk. Hingga saat ini, Islam wasathiyah dipercaya sebagai solusi dakwah terbaik yang dapat menghantarkan kedamaian bagi masyarakat heterogen.

Sejak dahulu para ulama sudah merancang cara terbaik untuk menghantarkan umat menuju pola keislaman terbaik. Suatu pola yang membawa kerukunan bagi siapapun disekitarnya. Suatu pola yang membawa kemaslahatan bagi semua orang. Suatu pola yang memberi kemanfaatan sebanyak mungkin bagi setiap makhluk yang hidup berdampingan. Sosok Walisongo sudah melihat peta sosial masyarakat yang cenderung heterogen dan memandang tinggi nilai spiritualitas. Oleh karena itu, dakwah wasathiyah dipandang penting untuk menyatukan semuanya.

Buku Madzhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel sangat cocok dipelajari untuk menggali lebih dalam bagaimana dakwah wasathiyah dapat diterapkan di bumi Nusantara. Memahami lebih dalam menghadapi berbagai macam situasi dan tantangan dalam dakwah. Selain itu, buku ini juga mengajak para pembaca untuk mengenal sosok Sunan Ampel. Sosok yang mampu merubah tatanan dakwah yang cenderung keras, menjadi lembut dan menyentuh unsur kerelaan.

Apabila dihadapkan dengan kondisi sekarang, buku ini penting untuk mengurangi suhu tinggi terhadap wacana keagamaan yang berbeda. Satu kelompok berbeda dengan kelompok yang lain, yang diselesaikan dengan adu mulut atau penyelesaian secara brutal dan ekstrem.

Meredam hal tersebut, etika dakwah yang disampaikan Sunan Ampel akan mengajarkan pembaca untuk mempraktikkan bagaimana nilai yang seharusnya dijunjung dalam menghadapi perbedaan. Bagaimana seharusnya bersikap sebagai umat Islam. Bagaimana seharusnya mengayomi dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya. Dan bagaimana caranya melaksanakan nilai keislaman yang damail nirkekerasan, sebagai wasilah menunaikan adat dakwah Walisongo.

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru