31.4 C
Jakarta

Dakwah Kok ”Nakutin” Gitu Sih, Itu Dakwah atau Teror?

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanDakwah Kok ”Nakutin” Gitu Sih, Itu Dakwah atau Teror?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Majlis ilmu, masjid, bahkan media sosial sekarang sudah dipenuh dengan kajian-kajian yang jauh dari nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin. Bukankah banyak ustadz, kyai, guru besar, dan seterusnya yang menyampaikan ajaran Islam hanya untuk menyinggung orang lain atau kelompok lain? Hal-hal semacam itu berseberangan dengan sunnah Nabi Muhammad Saw. yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak karimah (budi pekerti yang luhur) di tengah-tengah umat.

Disebutkan dalam sebuah hadis yang cukup populer: ”Innama bu’itstu li utammima makarima al-akhlak, saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Pertanyaannya seberapa penting menanamkan akhlak yang baik dalam diri manusia atau membumikan akhlak yang baik di tengah-tengah semesta? Menjawab pertanyaan ini perlu saya flashback terhadap cara Nabi Saw. berdakwah di tengah-tengah manusia yang jelas-jelas menolaknya. Apakah Nabi Saw. melaknat mereka karena mereka tidak mau mengikuti dakwah beliau? Ataukah Nabi Saw. menghabisi dengan membunuh mereka karena menentang?

Dakwah Nabi Saw. sebagaimana terekam dalam surah al-Anbiya’ ayat 107 selalu beriringan dengan nilai-nilai rahmat atau cinta kasih terhadap semesta alam. Pada ayat ini objek yang harus diperlakukan lemah lembut itu bukan terbatas pada orang mukmin, melainkan kepada orang yang belum beriman. Karena, Nabi Saw. menyadari bahwa berdakwah dengan sikap lemah lembut termasuk bagian dari akhlak yang baik.

Dakwah Nabi Saw. yang dibingkai dengan budi pekerti yang luhur dapat dilihat dari tahapan-tahapan yang baik dan benar. Pada surah an-Nahl ayat 125 Nabi Saw. berdakwah dengan tutur kata yang sopan di mana dengannya orang yang mendengarkan akan terbuka hatinya untuk menerima apa yang disampaikan beliau. Itu namanya berdakwah dengan penuh hikmah dan mawidah hasanah. Jika tahapan pertama ini belum berhasil, Nabi Saw. mengajak untuk melakukan diskusi, sehingga melalui diskusi ini akan diperoleh titik temu (menurut Nurcholish Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur, ”titik temu” ini adalah ”kalimatin sawa’” sebagaimana disinggung pada surah Ali Imran ayat 64).

Diskusi yang dilakukan Nabi Saw. penting dilakukan terutama di era sekarang. Apalagi di era sekarang ini segala hal dapat dijangkau dengan mudah. Bisa dilakukan diskusi melalui media Zoom, Google Meet, dan lain sebagainya. Dengan kemudahan yang tersedia di depan mata, seharusnya manusia di era digital jauh lebih terbuka berpikirnya dibandingkan orang-orang zaman dulu yang belum mengenal teknologi. Dan, yang penting diperhatikan dalam diskusi itu, jika benar-benar diskusi itu berlangsung, adalah lakukan diskusi dengan baik. Diskusi yang baik adalah diskusi yang mencari titik temu, bukan saling menyudutkan atau merendahkan.

Dakwah rahmatan lil alamin ini merupakan konsep dasar dalam beragama yang harus diketahui. Seberapa lama seseorang memeluk agama Islam, jika mereka beragama dengan penuh kemarahan, maka nilai-nilai rahmatan lil alamin tidak akan pernah dirasakan. Padahal, pada surah Ali Imran ayat 159 Nabi Muhammad Saw. diingatkan oleh Allah Swt. hendaklah berdakwah dengan rahmah atau cinta kasih. Sebab, jika beliau keras dalam berdakwah, niscaya umat beliau akan lari alias menolak dakwah beliau. Sehingga, jika begitu Islam tidak bakal sebesar sekarang.

Perintah berdakwah dengan rahmat pada ayat tadi sesungguhnya bermaksud melarang dakwah yang dilakukan dengan keras (ekstrem) seperti dakwah kelompok teroris yang melakukan pengeboman di pelbagai wilayah tertentu. Dakwah dengan aksi-aksi terorisme itu bukanlah dakwah yang dibenarkan. Karena, Islam sendiri tidak mengajarkan pembunuhan. Allah Swt. menegaskan dalam surah al-Maidah ayat 32 bahwa membunuh satu jiwa sama dosanya dengan membunuh semua jiwa. Sebaliknya, menyelamatkan satu jiwa sama pahalanya dengan menyelamatkan semua jiwa.

Pembunuhan, baik dengan cara aksi-aksi terorisme atau yang lainnya, akan dikenai sanksi yang cukup berat. Selain mendapat hukuman di dunia, kelak akan mendapatkan siksa di akhirat. Allah Swt. mengecam para pelaku pembunuhan dan menyebutkan dalam surah an-Nisa’ ayat 93, bahwa orang yang membunuh orang mukmin secara sengaja, maka sanksinya adalah siksa neraka Jahannam. Mereka akan dimasukkan ke tempat yang paling buruk di akhirat tersebut. Sungguh sangat hina mereka!

Sebagai penutup, berdakwahlah dengan budi pekerti yang luhur agar dakwah yang dilakukan dapat membekas di hati pendengarnya. Tidak perlu memaksakan kehendak dalam berdakwah, karena yang dapat membukakan pintu hidayah itu bukan manusia, tetapi Allah Swt. Manusia hanyalah menyampaikan dakwah, selebihnya Allah Swt. yang berbuat.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Khalilullah
Penulis kadang menjadi pengarang buku-buku keislaman, kadang menjadi pembicara di beberapa seminar nasional

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru