27.7 C
Jakarta

Cukup Mie Instan yang Dikonsumsi, Uztad Instan Jangan

Artikel Trending

KhazanahOpiniCukup Mie Instan yang Dikonsumsi, Uztad Instan Jangan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sebenarnya judul di atas terinspirasi dari sebuah tagline yang kemarin penulis temui di salah satu media sosial. Bukan lagi hal yang ambigu sekarang sejumlah orang dapat memperoleh sebutan uztad atau seorang guru entah dari mana latar belakang keilmuannya didapat.

Dewasa ini, mungkin hanya karena merasa sepemahaman dalam hal pandangan, masyarakat mudah melegalkan gelar uztad ini kepada siapapun meski yang digelari seorang yang baru muallaf atau mengenal Islam. Entah orang yang dilabeli atau melabeli dirinya sendiri berasal dari orang yang tak pernah nyantri di pesantren hingga muallaf saja mudah mendapat sebutan uztad ini.

Sebut saja Yahya Waloni yang dari berbagai penelusuran dia merupakan seorang muallaf yang tadinya berprofesi sebagai seorang pendeta. Kemudian memantapkan diri sebagai muallaf yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan uztad oleh sejumlah kalangan.

Sungguh bak gayung bersambut masyarakat dengan polosnya mengundang Yahya Waloni ini sebagai penceramah mereka di tengah kedangkalan berpikir dalam memaknai setiap ajaran dari agama rahmatan lil ‘alamin ini.

Dengan nafsunya ia mengewajawantahkan agama pada nafsunya saja seperti menganggap anjing sebagai hewan najis yang ditabrak tidak apa-apa. Padahal Islam tak pernah mengajarkan berbuat durjana kepada semua makhluk hidup entah itu terhadap hewan yang dihukumi najis, toh najis dari hewan tertentu dapat hilang dengan cara disucikan.

Tak hanya demikian, Yahya Waloni kerap kali memberikan paradigma yang menyasar kepada kasus ujaran kebencian saja, di mana ia hanya membanding-bandingkan agamanya terdahulu dengan Islam. Di mana ia hanya menyebutkan kejelakan dari agamanya terdahulu. Hal inilah yang akan menjadikan kerenggangan antarumat beragama di mana terjadi rasa sakit hati saat suatu agama dihujat dan didebatkan tidak melalui perdebatan yang ilmiah.

Sungguh ironi ada orang seperti Yahya Waloni ini di mana hanya menyebarkan propaganda ujaran kebencian antar umat beragama. Dimana seperti saat seperti sekarang ini di mana ummat beragama haruslah bersatu padu memulihkan bangsa dari berbagai konflik yang menerpa bangsa.

Yang dipertanyakan hingga saat ini sejauh mana peran lembaga keagamaan sperti, seperti MUI, Kemenag dan para ulama terkhususnya saat mendapati banyaknya manusia yang berseliweran seperti Yahya Waloni ini. Saat Yahya Waloni ini kesana kemari memberikan pernyataan yang hanya sebagai simbol kebencian terhadap agama tertentu.

BACA JUGA  Radikalisme Dilawan dengan Tradisi, Bisakah?

Penulis berpandangan peran Kemenag (Kementrian Agama), MUI (Majelis Ulama Indonesia), para ulama’ khususnya dan Ormas keislaman di Indonesia lebih dapat bersatu padu menertibkan orang seperti Yahya Waloni ini. Di mana mereka perlu lebih dibina. Ditengah kerancuan pernyataan yang orang seperti Yahya Waloni inilah masyarakat diminta agar lebih menambah wawasan dalam hal beragama mereka kepada ulama yang lebih moderat dan memang jelas kesahihan sanad keilmuannya.

Seharusnya kabar bertambahnya ummat islam dari para muallaf ini menjadi angin segar akan dakwah islam yang kian berhasil bukan malah menjadi boomerang yang malah menggambarkan islam yang antipasti terhadap agama lain.

Proses mendakwahkan agama islam merupakan kewajiban bagi setiap Muslim ,tetapi tidak serta merta dakwah ini dilakukan harus di atas podium menjadi seorang dai dadakan atau yang kita kenal dengan sebutan uztad instan.

Seorang bisa dikenal sebagai seorang uztad, kyai, syaikh ataupun guru haruslah memilki sanad keilmuan yang jelas hingga sanadnya bersambung kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Tak hanya itu seorang yang dilabeli dengan istilah uztad haruslah memiliki tingkat kealiman ilmu agama seperti, tafsir, tajwid, nahwu/sharraf, balaghah hingga adab khususnya yang di mana ilmu ini hanya dapat dperoleh dari seseorang yang nyantri di pondok pesantren.

Dakwah sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara selain dengan lisan tetapi dakwah bisa pula dilakukan dengan perbuatan seperti membuat kebaikan dalam banyak hal, menerapkan ajaran Islam yang saling toleransi antar ummat beragama dan lain sebagainya.

Mungkin faktor yang melatarbelakangi fenomena munculnya uztad dadakan atau uztad muallaf karena keinginan untuk mencari ketenanaran atau mungkin bisa mencari makan dari setiap undangan ceramah yang telah disampaikan. Semua kemungkinan bisa terjadi.

Tetapi belakangan ini munculnya fenomena uztad instan atau uztad dadakan bahkan ada yang menganggap fenomena uztad muallaf menjadi perhatian kita semua bahwasannya selektif memilih guru yang benar adalah penting dalam memahami syari’at Islam.

Selain itu peran ulama, lembaga keagamaan dan masyarakat Muslim pada umumnya tidak abai akan hal demikian dan diharapkan daopat membina para uztad muallaf atau dadakan ini ke dalam ajaran Islam yang benar sesuai ketentuan Islam ala ahlussunnah waljama’ah.

Hilal Mulki Putra
Hilal Mulki Putra
Bernama Hilal Mulki Putra, lahir pada 10 Juni 2020, pernah nyantri di Pondok Pesantren Chasanah Tlogopucang (2013-2016) asuhan KH. Abdul Jalil kemudian melanjutkan nyantri kembali di Pondok Pesantren Sunan Plumbon Krajan, Tembarak Temanggung (2016-2019) asuhan KH. M. Abdul Hakim Cholil, S.Ag. Saat ini penulis merupakan seorang mahasiswa di Institut Agama Islam Nahdhatul Ulama (INISNU) Temanggung dan aktif sebagai tenaga wiyata kependidikan di MI Ma’arif 2 Tlogopucang. Di sela-sela kesibukan aktif menulis berbagai jenis artikel di beberapa media.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru