26.4 C
Jakarta

Cerita Aktivis HTI Menipu Kiai NU Pakai “Sayyidina”

Artikel Trending

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Daftar Daerah yang Tegas Menolak Kehadiran Rizieq Shihab dan FPI

Gelombang penolakan atas keberadaan organisasi Front Pembela Islam menjalar kemana-mana, utamanya pasca kedatangan Rizieq Shihab ke Indonesia dari pelariannya atas kasus hukum yang menimpa....

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Budaya Akademik dan Etos Kerja Dalam Islam

Islam sebagai agama yang kaffah tentu mengatur secara komprehensif segala aktifitas manusia dari mulai bangun tidur samapai tidur kembali. Sebagai agama yang kaffah, Islam...

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang...

Kembalinya Riziq Shihab Sinyal Merebaknya Nalar-Sikap Kekerasan?

Kembalinya Riziq Shihab menandakan bangkitnya “islamisme”. Betapa tidak, kita semua telah mengerti bahwa jejak dan rekam Riziq sebagai imam besar Front Pembela Islam, sering...

Revolusi Akhlak HRS vs Revolusi Akhlak Syekh Abu ‘Ala ‘Afifi

Era pandemi Covid-19 hingga menjelang akhir tahun 2020 ini belum nampak akan berakhir. Meskipun adanya perubahan, situasi dan kondisi saat ini pasca pulangnya Habib...

Pertama kali saya mengikuti Rakernas HTI di Bumi Perkemahan Cibubur tahun 2006. Diundang sebagai Mas’ul (Penanggung Jawab) HTI di Babel yang tanzhimnya baru dibentuk April 2004. Di sana berkumpul semua anggota Majlis Wilayah (DPP HTI) yang baru terpilih dan para mas’ul HTI dari berbagai daerah. Tidak banyak yang saya kenal dari mas’ul itu. Sedangkan dengan anggota Majlis Wilayah saya bisa ketemu langsung yang sebelumnya sering muncul di majalah Al-Wa’ie (majalah HTI) dan di website hizbut-tahrir.or.id.

Acara Rakernas dimulai dengan ta’aruf. Host pada sesi ini adalah AJ yang dikenal dengan nama GJ. Dia seorang syabab halaqah ula Hizbut Tahrir di Indonesia. Syabab halaqah ula maksudnya orang yang pertama-tama halaqah bersama Hizbut Tahrir di suatu tempat. GJ pertama kali halaqah di Universitas Jember. Masa itu (pertengahan 1980-1990-an) pimpinan tertinggi Hizbut Tahrir di Indonesia adalah Ust. Abu Fuad (Ahmad Saifullah). GJ ini anak seorang Kiai NU di Kediri. Sebagai anak Kiai dia sudah familiar dengan kitab kuning dan shalawatan. Kemudian dia merantau ke Jakarta, mungkin karena panggilan dakwah.

Saat acara ta’aruf ini, beliau bercerita tentang shalawatan. Katanya berhubungan dengan Kiai-kiai NU gampang, asal shalawat pakai “sayyidina” berarti NU. Nanti dianggap orang NU. Kiai NU tidak tahu kalau sebenarnya kita HTI. Terus beliau mencontohkan mengucapkan shalawat sambil menekankan suara ketika mengucapkan kata “sayyidina.”

Saya datar-datar saja dan agak tidak nyaman menyimak ceritanya. Sedikit tersinggung. Makanya jadi teringat terus sampai sekarang. Rasanya terlalu sakral, shalawatan dijadikan bahan guyonan. Mudah-mudahan ini atsar dari kesukaan saya pada shalawat waktu sebelum bergabung dengan HTI. Tetapi ada juga peserta Rakenas ketawa-ketiwi. Mungkin merasa lucu membayangkan betapa lugu dan polosnya Kiai-kiai NU yang cukup bershalawat dengan “sayyidina” sudah menganggap NU seseorang.

Namun kini Kiai-kiai NU di kampung-kampung sudah melek dunia luar. Dengan teknologi digital, Kiai-kiai NU terkoneksi dari desa sampai ke luar negeri. Segala macam informasi politik dan keagamaan bisa mereka terima dari Kiai NU yang lain sehingga upaya penyesatan informasi dan opini yang dilakukan HTI kepada Kiai-kiai kampung tidak berdampak sama sekali.

Faktanya kini pesantren-pesantren NU di desa-desa dipegang oleh kiai, anak dan cucu kiai yang berpendidikan tinggi. Kebanyakan sarjana (S1) selain lulusan pasca sarjana. Tidak sedikit dari mereka lulusan kampus-kampus ternama di dalam negeri dan luar negeri. Artinya kiai-kiai NU di kampung-kampung cerdas-cerdas. Mereka tidak mudah ditipu HTI pakai kata “sayyidina”.

HTI melafadzkan kata “sayyida” dalam shalawat tujuannya untuk menipu kiai-kiai NU agar diterima dan dianggap nahdliyin karena HTI sendiri tidak mentabanni (mengadopsi) secara khusus soal shalawatan. Shalawatan amalan pribadi yang tidak terlalu urgen untuk disamakan bagi semua anggota. Soal shalawatan terserah pribadi masing-masing. Namun demikian untuk memudahkan mendekati Kiai dan santri NU, aktivis HTI memilih bershalawat ala NU. Setidaknya meminimalisir resistensi Kiai dan santri NU terhadap HTI.

Sedari awal HTI menyadari penghalang terbesar dan terkuat berdirinya Khilafah mereka adalah NU. Mengingat NKRI merupakan hasil ijtihad syar’i sekaligus warisan ulama NU. Wilayah NKRI tidak boleh direplace oleh bentuk negara apapun termasuk Khilafah Tahririyah (Khilafah ala HTI).

Ayik Heriansyah
Ayik Heriansyah
Mahasiswa Kajian Terorisme SKSG UI, dan Direktur Eksekutif CNRCT

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Memberantas FPI, Memberantas Pembising Negeri

Sejumlah anggota TNI berseragam lengkap mendatangi Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Pusat, pada Kamis (19/11) lalu. Mereka menurunkan baliho Habib...

Raja Salman dan Erdogan Buka Babak Baru Melalui Dialog

Harakatuna.com. Ankara - Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dan Presiden Turki Tayyip Erdogan sepakat memperbaiki hubungan bilateral dan menyelesaikan berbagai masalah lewat dialog. Kedua pemimpin itu berbicara melalui...

Jangan Sampai Mendewa-dewakan Mereka yang Mengaku Keturunan Nabi

Gelar “habib” (jamaknya “habaib”) menjadi pembeda antara keturunan Nabi Saw. dan selain beliau. Sakralitas gelar habib tak kalah menarik dibandingkan dengan predikat nabiyullah yang...

Bullshit Para “Pembela” Islam

Sejak Ahok jadi Gubernur DKI Jakarta, Rabu, 19 November 2014, para pembela Islam tidak bisa hidup tenang sampai hari ini. mereka semakin radikal. Radikalisme...

Mendewa-dewakan Keturunan Nabi Adalah Perbudakan Spiritual

Harakatuna.com. Jakarta-Sebutan gelar habib kembali diungkit dan menjadi pembicaraan utama akhir-akhir ini. Bahkan, kata habib atau yang dikenal masyarakat sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW...

Doa Naik Kendaraan, Arab, Latin dan Terjemahannya

Di zaman modern ini kendaraan berbagai macam ragamnya, dari mulai bus, kereta api, pesawat, motor, bajai dan lain sebagainya. Sedangkan pada zaman dahulu kendaraan...

Harus Ada Program Pendekatan Baru Cegah Intoleransi di Lingkungan Pendidikan

Harakatuna.com. Yogyakarta –Kasus intoleransi di lingkungan pendidikan akhir-akhir sudah sangat meresahkan. Kondisi sangat mengkhawatirkan, apalagi masalah intoleransi adalah momok yang bisa mengancam perdamaian dan...

Revolusi Akhlak HRS vs Revolusi Akhlak Syekh Abu ‘Ala ‘Afifi

Era pandemi Covid-19 hingga menjelang akhir tahun 2020 ini belum nampak akan berakhir. Meskipun adanya perubahan, situasi dan kondisi saat ini pasca pulangnya Habib...