31.1 C
Jakarta

Cegah Paham Radikal dan Intoleran di Pondok Pesantren

Artikel Trending

AkhbarDaerahCegah Paham Radikal dan Intoleran di Pondok Pesantren
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Lombok Utara – Jajaran pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) KLU gelar Masa Orientasi Pelajar (MOP), Senin (18/7) untuk cegah radikal  intoleransi. Kegiatan ini diikuti 646 santri dan santriwati yayasan pondok pesantren (Ponpes) Bayinul Ulum Santong di Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.

“Kegiatan MOP di Yayasan BUS ini merupakan kegiatan terakhir, sebelumnya kita laksanakan setelah sebelumnya digelar di 7 pondok pesantren NU,” ujar Ketua IPNU KLU Rendi Hartono.

Dikatakannya, MOP bagi ratusan santri itu merupakan tindak lanjut program pengurus IPNU pusat. Yakni membentengi pesatnya perkembangan paham radikal dan intoleran. IPNU menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan pemahaman organisasi pada tingkat siswa.

Hingga saat ini IPNU telah melakukan orientasi kurang lebih 400 santri di tujuh pondok pesantren NU. Setelah yayasan Bayinul Ulum Santong ini, maka total santri yang ikut orientasi mencapai 1.000 lebih.

“Kami menargetkan ada 1.000 santri yang akan kami orientasi,” sambungnya.

Berdasarkan data jumlah penerimaan santri, 646 santri itu terbagi dalam sejumlah tingkatan. Di antaranya PAUD sebanyak 30 santri, Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebanyak 102 santri, Madrasah Tsanawiyah (Mts) sebanyak 235 santri, dan Madrasah Aliyah (MA) sebanyak 274 santri.

BACA JUGA  Generasi Muda Punya Peran Strategis dalam Menangkal Radikalisme di Ranah Digital

Mewakili Bupati Lombok Utara, Kepala BKAD KLU Sahabudin mengatakan, pondok pesantren telah memberikan kontribusi dalam pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM). Banyak lulusan pondok pesantren yang telah menorehkan prestasi untuk daerah. Bahkan, banyak pondok pesantren di KLU menempatkan alumninya di tempat yang strategis.

“Pondok pesantren telah membuktikan dirinya, banyak alumni pondok pesantren yang berprestasi. Contohnya saya lulusan pondok pesantren, kalian juga bisa seperti itu,” serunya menyemangati.

Pembinaan IPNU KLU itu menyebut, pemerintah hadir dalam pemerataan alokasi anggaran bagi setiap lembaga pendidikan, termasuk yayasan pondok pesantren. Tercatat sebanyak 20 persen dari total anggaran yang dimiliki diarahkan untuk pendidikan.

Anggaran tersebut dikucurkan untuk menunjang keberlangsungan aktivitas belajar mengajar. Selain itu, pemerintah juga telah mengalokasikan berbagi bantuan anggaran dalam bentuk sarana fisik.

“Bantuan sarana fisik untuk pondok pesantren dapat diakses ke pemerintah melalui bagian Kesra baik di Pemprov maupun kabupaten,” terangnya

“Anak- anakku, masa mondok adalah masa di mana kita ditempa untuk menjadi orang yang berguna, baik bagi agama nusa dan bangsa. Jadi manfaatkan dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru