Cara Mudah Menjadi Hafizh

Kesulitan yang dialami seseorang dalam hafalan sebenarnya tidak hadir dari al-Qur’an. Akan tetapi, berasal dari orang itu sendiri


0
5 shares

Judul Buku      : Jadilah Hafizh!

Penulis            : Cece Abdulwaly

Penerbit           : Diva Press

Tebal               : 174 halaman

Cetakan           : I, September 2018

ISBN               : 978-602-391-431-9

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup seorang muslim kerap dicampakkan begitu saja. Ia hanya dijadikan pajangan di lemari atau meja, bahkan sampai berdebu. Karena keadaan semacam inilah, barangkali KH. R. Muhammad Najib, pengasuh PP Al-Munawwir, Krapyak, mengatakan bahwa salah satu maksiat lisan ialah jika sudah diberi anugerah berupa al-Qur’an, tetapi tidak digunakan untuk nderes (dibaca).

Maka dari itu, mempelajari al-Qur’an menjadi hal terpenting yang mesti dilakukan muslim. Karena, dari al-Qur’an lah, kita bisa mendapatkan pelajaran berupa nasihat, kisah-kisah, hukum, dan perkara lainnya yang dibutuhkan manusia (bukan hanya muslim) untuk menjalani kehidupan di muka bumi.

Adalah Cece Abdulway, hafizh yang bisa hafal 30 juz dalam 6 bulan, coba mengajak kita untuk menghafal al-Qur’an. Di samping menghafal al-Qur’an, kita juga diajak untuk memelihara hafalan, karena sangat mudah hilang jika tidak dihafalkan. Jangan sampai, kata penulis, kita mendapat sebutan mantan hafizh!

Melalui buku Jadilah Hafizh!, kita bisa menemukan kiat mudah untuk menghafal al-Qur’an. Bahwa sebenarnya tidaklah sulit dalam menghafal al-Qur’an. Buktinya, banyak anak usia balita bahkan batita yang sudah menghafal beberapa surat bahkan sampai semua surat dalam al-Qur’an. Di sini kita perlu melontarkan pertanyaan; adakah kitab selain al-Qur’an yang bisa terjaga dalam bentuk hafalan? Tentu kita tidak akan menemukannya.

Kesulitan yang dialami seseorang dalam hafalan sebenarnya tidak hadir dari al-Qur’an. Akan tetapi, berasal dari orang itu sendiri; boleh jadi karena niat dan tekad menghafalnya kurang besar. Padahal, ada manfaat besar, baik dunia maupun akhirat, bagi muslim/muslimah yang mau menghafalkan al-Qur’an dan memahami maknanya –dan juga mengamalkan ruh ayat.

Dikatakan dalam buku bahwa menghafal al-Qur’an adalah nikmat, bukan beban. Nah, kita yang merasa terbebani dengan menghafal al-Qur’an, perlu mengetahui penjabaran penulis ini. Meminjam istilah Sayyid Quthb, bahwa nikmat tersebut digambarkan dengan “la ya’rifuha illah man dzaqaha”, yaitu nikmat yang tidak dapat diketahui rasanya dan indahnya, kecuali oleh orang yang memang merasakannya. (halaman 20)

Baca Juga:  Kontra-Narasi Radikalisme lewat Cerita Hijrah

Tentu saja, untuk mencapai tingkatan itu, kita perlu berjuang dengan sekuat tenaga. Maka, nikmatilah prosesnya, sehingga kita terbiasa dengan al-Qur’an, yang secara otomatis akan membuat kita merasa mudah untuk menghafalkannya. Bukankah kerap kita temukan, ‘bebunyian’ indah al-Qur’an, yang seolah-olah membentuk sajak tertentu? Dan juga kerap pula kita temukan, kalimat-kalimat serupa di beberapa surat dan ayat, sehingga otak kita tidak asing dengan kalimat tersebut? Itulah satu segi dari kemukjizatan al-Qur’an.

Selain itu, bagi kita yang telah memiliki hafalan, meskipun sedikit, wajib hukumnya untuk menjaga. Cara menjaga halafan tersebut bisa dengan menjadikan surat-surat al-Qur’an sebagai bacaan shalat. Lupa satu-dua surat tidaklah dosa, selama kita masih ada upaya untuk menjaga dan berusaha memelihara hafalan kita. Justru, ketika kita lupa dengan halafan, ia bisa menjadi alarm buat kita bahwa “hafalan kita telah masuk tahap lupa, jangan sampai masuk tahap hilang”. (halaman 45)

Akan tetapi, berbeda antara lupa dan melupakan. Lupa terjadi karena faktor ketidaksengajaan, tapi melupakan merupakan aktifitas yang disengaja, bagi pelakunya akan mendapat dosa dan kerugian lainnya. Seburuk-buruk penghafal al-Qur’an adalah yang melupakan hafalannya, tapi terus membanggakan diri dengan menceritakan kelebihannya kepada orang lain.

Tentu, tips-tips yang ada dalam buku ini tidak bisa memberikan manfaat kepada kita kalau belum diamalkan. Maka dari itu, penulis buku mengajak pembaca untuk langsung mengaplikasikan tips yang ia sampaikan. Buku terasa cukup berbobot karena penulisnya merupakan hafizh, yang tentu di samping memiliki pengetahuan tentang cara menghafal al-Qur’an yang baik, juga memiliki pengalaman yang tidak ditemukan dalam buku-buku lain. Selamat membaca!


Like it? Share with your friends!

0
5 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Imron Mustofa

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis lepas asal Kebumen, yang untuk sementara waktu berdomisili di Jogja.