Budaya Caci Maki dan Efeknya


0
43 shares

Bangsa Indonesia sejak dahulu kala terkenal dengan bangsa yang selalu mengedepankan budaya tepo sliro atau dikenal dengan bangsa yang selalu menjunjung tinggi sopan santun.

Sejak manusia kecil yang lahir di Indonesia mereka langsung diajarkan norma-norma yang berlaku dimasyarakat. Baik itu norma agama atau norma adat istiadat. Dari sekian norma yang begitu menonjol adalah adanya budaya saling menghormati, yang kecil menghormati yang lebih tua dan yang tua selalu menyayangi yang lebih muda. 

Dari masa ke masa, setiap bangsa didunia pasti mengalami perubahan, hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan dan perubahan zaman. Salah satu wujud nyata perubahan yang dialami bangsa Indonesia adalah mengadopsi barat, ada sebagian bangsa Indonesia yang mengganggap bahwa barat lebih maju dari kita. Salah satu wujud budaya barat yang mulai menggema adalah kebebasan berekspresi.

Kebebasan berekspresi di Indonesia sudah dijamin oleh Undang-Undang, kebebasan berekspresi yang barat anut adalah kebebasan yang sebebas-bebasnya, sedangkan dari dahulu bangsa kita mengenal kebebasa berekspresi yang menjaga kesopanan dan kesantunan.

kebebasan berekspresi ini juga didukung dengan perkembangan teknologi, dengan adanya sosmed, semua netizen bebas mengungkapkan apa yang ada dibenaknya, akan tetapi terkadang netizen ini sering kebablasan sehingga kebebasan berekspresi yang telah dijamin oleh Undang-undang ini digunakan untuk caci-maki. 

Bahkan yang lebih ekstrem, caci maki ini dilakukan oleh orang awam kepada para ulama yang ilmunya telah purna. Oleh karena yang demikian Prof. Quraish Shihab menyatakan dalam judul bukunya yang hilang dari kita adalah akhlak.

budaya caci maki yang mulai tumbuh subur di Indonesia harus segera diobati, jangan sampai julukan bangsa kita yang beradab berubah menjadi bangsa yang biadab. Nabi Muhammad bersabda apabila seseorang mencaci-maki lima komponen dalam kehidupan maka akan mendapatkan kerugian yang luar biasa.

Yang pertama barang siapa mencaci maki para ulama maka ia akan mendapatkan kerugian yang amat besar dalam agamanya, diceritakan bahwa darahnya ulama adalah racun, maka barang siapa bermain denganya akan terbunuh oleh racun itu.

Yang kedua barang siapa mencaci maki umara atau pemerintah maka ia akan mendapatkan kerugian yang nyata dalam urusan duniannya, karena pemerintah adalah badan yang mengatur urusan dunia segala kebijakan mengenai tatanan dunia ada padanya. 

Yang ketiga barang siapa mencaci maki tetangganya maka ia akan mendapatkan kerugian dengan tiada memperoleh kemanfaatan yang nyata. Mencaci tetangga sama dengan mempersulit hidup. Nabi bersabda barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangga. 

Yang keempat barang siapa mencaci maki kerabat maka ia akan mendapatkan kerugian dengan hilangnya kasih sayang dalam keluarga.

Yang kelima barang siapa mencaci maki keluarganya terutama istri maka ia akan mendapatkan kerugian yang nyata dengan sempitnya rezeki dalam kehidupan.

Melihat budaya caci maki dan efeknya yang sangat berbahaya dalam kehidupan, seyogyanya bagi kita untuk mempertahankan budaya sopan santun dalam segala lini kehidupan.

Baca Juga:  Etika Berdebat dalam Al-Qur`an (Bagian 2)

Like it? Share with your friends!

0
43 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka