Bolehkah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani Dikritik?


0
15 shares

Jika aktivis Hizbut Tahrir ditanya pertanyaan ini jawaban formal/normatifnya tentu saja berbunyi, “Ya, bisa”.

Tetapi saya heran dengan konsistensi pernyataan itu.

Ada seorang yang saya lihat mencoba mendiskusikan pemikiran Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani terkait “Thoriqoh (metode) dakwah Hizbut Tahrir”  dan menunjukkan sisi-sisi kelemahan dalil, istidlal, dan faktanya. Dari tulisannya sebenarnya sejuk-sejuk saja. Tidak ada sama sekali serangan personal kepada siapapun. Fokus pada argumen, runtut, argumentatif, dan bahasanya juga mudah dipahami. Closing statemennya juga saya lihat ma’ruf, menghormati, dan santun.

Anehnya, diskusi ilmiah semacam ini direspon dengan serangan brutal terkait personal terhadap beliau yang sama sekali tidak terkait argumentasi. Opini yang hendak dikembangkan adalah “Hanya yang selevel dengan Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani yang boleh mengkritiknya”.

Tapi saya lihat, slogan baru ini juga tidak diterapkan internal Hizbut Tahrir.

Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani punya kitab “Nizhomul Hukmi Fil Islam” (Sistem Pemerintahan dalam Islam) yang sempat menjadi kitab Mutabanat. Lalu kitab ini dikoreksi oleh Hizbut Tahrir Pusat menjadi kitab “Ajhizatu Daulatil Khilafah Fil Hukmi Wal Idaroh”. Koreksi terhadap Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani bukan hanya kitab ini, tapi banyak dalam kitab yang lain. Siapapun yang mengikuti perkembangan pemikiran Hizbut Tahrir pasti akan tahu itu.

Pertanyaannya, “Mengapa  pengurus Hizbut Tahrir boleh mengoreksi Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani padahal ilmunya sangat jauh dan tidak selevel, sementara pihak eksternal tidak boleh?” Amir Hizbut Tahrir saat ini atau Lajnah Tsaqofiyyahnya setahu saya tidak pernah mendapatkan pengakuan keilmuan dari ulama-ulama al-Azhar, atau ulama-ulama Saudi, atau ulama-ulama Ghumariyyin. Lalu atas dasar apa mereka berani mengritik dan mengoreksi pemikiran Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani?

Apakah ini konsisten?

Jika tidak, berarti gejala apa ini?

Baca Juga:  Mengapa Hizbut Tahrir Sangat Bernafsu Memujtahidkan Syekh Taqiyuddin An-Nabhani?

*Aan Yulius Prihatmoko, Alumni Universitas Brawijaya, Malang dan Mantan Aktivis HTI


Like it? Share with your friends!

0
15 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.