Bisakah Kita Berhenti Menjudge Orang Lain?


Apa yang teman-teman pikirkan ketika pertama kali melihat pria digambar ini?
Fyi, sampan itu adalah akses penyebarangan barang, orang, maupun kendaraan roda dua yang hendak menyeberang ke Enok Dalam, Inhil, Riau. “tukang ojek” sampan menjadi salah satu jenis pekerjaan masyarakat disana.

Mari lihat lagi gambarnya, beberapa dari kita mungkin berpikir pria tersebut ialah seorang pekerja keras karena bekerja hingga matahari hampir terbenam. Tetapi disisi lain ada yang berpikir pria tersebut adalah pria yang tidak sopan karena bekerja dengan baju yang tidak seharusnya dipakai untuk bekerja dan kepulan asap rokok yang ia hembuskan mengenai para penumpang sampan. Yang lain mungkin memiliki pikiran yang lain.

Well semua orang bebas berpendapat, hanya sebaiknya kita belajar melihat dua sisi berbeda yang menjadi alasan seseorang bersikap, berperilaku, bahkan berpenampilan. Alasan seseorang bersikap belum tentu sesuai dengan yang kita pikirkan. We really dont know the reasons for someone behavior. Kita ga pernah tau dengan pasti.

Pernah dengar istilah “dont judge the book by its cover” “jangan menilai buku dari sampulnya saja” ? Mungkin sudah saatnya kita memahami lebih dalam istilah tsb dan memprakteknya dilingkungan kita dengan tidak seenaknya berkomentar atas penampilan dan perilaku orang lain. Sebenarnya sulit untuk tidak berkomentar terhadap hal yang kita lihat, bahkan walaupun kita sudah berusaha menahannya. Sama seperti ketika kita duduk didepan tv, sulit untuk tidak menonton atau hanya melihat sekejap mata. Tahukah teman-teman bagian otak mana yang berkomentar tsb? It is logical brain. Otak tersebut bersifat refleksif yang sering mengendalikan perilaku kita, dan yang paling berbahaya menurut penelitian Phelps et al (2000) banyak dari sikap negatif bersifat refleksif.

Baca Juga:  Soleh Sosial

Jadi dengan kata lain, kita menggunakan logical brain untuk mengomentari orang lain, dan isi komentar tsb berpeluang besar menjadi negative judgement atau negative attitude. Mengapa demikian? Karena komentar kita sifatnya refleks, kita sulit untuk mengatur dan memilih komentar mana yang akan di lontarkan atau sekedar terlintas dipikiran. Nah untuk itu, untuk mengurangi sikap negatif kita terhadap orang lain, kita harus mengatur ulang pikiran refleksif kita dengan cara memilih kebiasaan-kebiasaan, pengalaman-pengalaman, dan informasi yang baik.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.