29.4 C
Jakarta

Berislam seperti Nabi, Bukan Berislam seperti Kelompok Radikal

Artikel Trending

Islam dan Timur TengahIslam dan KebangsaanBerislam seperti Nabi, Bukan Berislam seperti Kelompok Radikal
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Tinggal menghitung hari, kita akan memasuki bulan Rabiul Awwal, khususnya tanggal dua belas. Begitu disebut bulan tanggal ini pasti akan terbersit di benak orang Islam, bahwa kita akan memasuki Maulid Nabi Muhammad. Pada momen inilah umat Islam disibukkan dengan perayaan yang biasanya dikemas dengan pembacaan shalawat dan hidangan beragam buah-buahan. Intinya, menyenangkan!

Memasuki bulan Maulid Nabi, ada beberapa hal yang penting diperhatikan. Pertama, peran ustadz atau dai yang biasanya sibuk berceramah dari panggung ke panggung. Saya mendukung peran ustadz itu. Karena, ia termasuk bagian dari dakwah. Sedang, dakwah itu merupakan bagian dari hidup Nabi. Namun, penting diperhatikan isi dakwah yang ustadz sampaikan.

Dakwah ustadz hendaknya bersifat moderat (wasathiyah). Maksudnya, dakwah tersebut tidak berbentuk provokasi yang memacu adrenalin jamaah atau pendengar untuk melakukan perbuatan yang negatif. Pentingnya menghindari dakwah yang provokatif karena gaya dakwah ini bertentangan dengan sifat Nabi Muhammad.

Semasa hidupnya, Nabi belum pernah melakukan provokasi, meski terhadap orang yang memusuhinya. Dakwah Nabi tetap disampaikan dengan cinta, sehingga dakwah ini dapat diterima dengan cinta pula. Tak heran, masyarakat Mekkah yang pada mulanya menolak dan memusuhi dakwah Nabi, pada akhirnya menerima bahkan menjadi orang yang paling teguh agamanya. Salah seorang sahabat yang saya maksud adalah Umar Ibn Khattab.

Kedua, meneladani sifat Nabi Muhammad. Segala sifat yang melekat pada kepribadian Nabi semuanya baik dan terpuji. Dari sekian sifat terpuji beliau, ada beberapa sifat yang penting diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya, toleransi beragama. Nabi termasuk utusan Tuhan yang sangat menghormati perbedaan keyakinan. Nabi tidak pernah menghujat, apalagi mengkafirkan orang yang beragama di luar Islam. Nabi memberikan kebebasan dalam persoalan keimanan. Bukti toleransi beliau adalah tidak merusak ibadah umat non-muslim.

BACA JUGA  Allahumma Inna Naudzu bika min Radikalisme, Saya Mohon Perlindungan dari Bahaya Radikalisme

Sifat keterbukaan Nabi tersebut kini mulai banyak dilupakan. Tak sedikit umat Islam yang menyuarakan Islam, tapi sikapnya bertentangan dengan ajaran Islam. Biasanya umat Islam seperti ini memusuhi orang lain yang pemikiran dan keimanannya bertentangan. Mereka jelas memusuhi pemeluk agama di luar Islam. Bahkan, mereka getol mengkafirkan orang yang tidak sepemikiran. Bukankah negara Indonesia sering dikafirkan karena sistem yang digunakan bukanlah sistem Khilafah?

Ketiga, penting diteladani sikap nasionalisme Nabi Muhammad. Sangat tidak berdasar sebagian kelompok yang menyesatkan cinta terhadap tanah air (nasionalisme). Karena, Nabi Muhammad dan juga Nabi Ibrahim sangat mencintai tanah airnya Mekkah. Kedua nabi ini selalu mendoakan Mekkah, sehingga jadilah kota haram dan subur. Masihkah nasionalisme diharamkan? Bukan nasionalisme termasuk syariat Islam?

Kecintaan terhadap tanah air penting ditanamkan di dalam diri seseorang. Salah satu alasan yang paling masuk akal adalah agar tidak melupakan jasa tanah air yang menerimanya dengan terbuka, baik mulai lahir maupun tumbuh di dalamnya. Sangat keterlaluan seseorang yang melupakan jasa tanah airnya. Ia seakan kata pepatah, “Kacang lupa kulitnya.” Kalau dikaitkan dengan kisah Malin Kundang, orang ini melupakan jasa orangtuanya, sehingga ia menjadi anak yang durhaka. Naudzubillah!

Sebagai penutup, umat Islam hendaknya selalu mengimplementasikan sifat-sifat Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari. Jadikan momen Maulid Nabi ini sebagai jeda untuk mengevaluasi diri, “Sudahkah kita meneladani Nabi? Ataukah kita malahan menentang ajaran Nabi?” Jika kita benar mengikuti Nabi, teladani sifatnya yang terbuka terhadap perbedaan yang ada.[] Shallallah ala Muhammad.

Khalilullah
Lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru