28.9 C
Jakarta

Berislam Itu Luwes

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuBerislam Itu Luwes
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Perbaikan akhlak menjadi misi prioritas yang diemban Nabi Muhammad dalam menjalankan dakwahnya. Masa lalu, sebelum Nabi Muhammad lahir, tanah Arab dipenuhi laku yang tidak beretika. Bayi perempuan dibunuh, perempuan disamakan dengan properti, perkelahian antar suku yang tidak pernah usai, dan seabrek etika yang tidak berperikemanusiaan. Tapi tidak menafikan juga, bahwa peradabannya pada masa itu sudah lumayan maju.

Perdagangan lintas geografis, pengaruh Persia dan Romawi, sekaligus kompetisi sastra menjadi bukti peradaban maju orang-orang Arab. Nabi Muhammad lahir, suka cita menyelimuti tanah Arab. Nabi tumbuh menjadi pribadi baik, kesucian dirinya dijaga oleh-Nya. Laku kesehariannya tidak luput dari kebaikan-kebaikan. Sampai masuk usia dewasa, Nabi memperoleh tugas mendakwahkan Agama Islam keseluruh umat manusia. Meski di awal ada pertentangan, dianggap gila, didiskriminasi, bahkan sampai ada ancaman dibunuh, itu semua tidak menyurutkan keteguhannya untuk membumikan ajaran Agama Islam. Akhirnya ajaran Agama Islam bisa diterima.

Begitulah, kisah perjuangan Nabi Muhammad di masa itu. Kini Agama Islam sudah menyebar sampai ke Indonesia. Sudah barang tentu, situasi dan kondisinya sudah berbeda di tanah Arab. Secara pola saya rasa hampir sama, Agama Islam berkolaborasi dengan budaya lokal yang sedang berkembang. Ya argumennya mudah, Agama Islam jadi agama terakhir, panduan sampai akhir zaman. Sudah barang tentu, Agama Islam mesti relevan dengan perkembangan zaman, sesuai konteks dan kontekstualisasinya.

Dua Wajah Islam

Meski begitu, Agama Islam di Indonesia selalu muncul dengan dua wajah. Wajah kaku dan wajah akomodatif. Wajah kaku ya seluruhnya dipukul rata sesuai pemahaman Agama Islam yang mereka anggap otentik. Sedang wajah akomodatif tidak seperti itu, tiap unsur dilihat terlebih dahulu ada tidak yang bersinggungan dengan ajaran Agama Islam. Jika ada ya syakurlah, jika belum ada, ya dibenahi. Dilihat dulu, posisi mana yang belum sesuai, tidak lantas sepenuhnya ditolak hanya karena ada unsur kecil yang tidak sama dengan ajaran Agama Islam.

Nah, wajah kaku ini sering menjadi musabab konflik di Indonesia. Mereka ingin semuanya menganut Agama Islam versinya. Padahal Indonesia berbhineka. Begitupun Islam diturunkan orientasinya tidak lain untuk membenahi akhlak manusia. Islam ‘harusnya’ tidak kaku. Hadirnya buku “Islam Yang Menyenangkan; Etika Kemanusiaan sebagai Puncak Keimanan dan Keislaman” saya rasa menjadi kritik pembuka Islam wajah kaku ini.

“Islam yang mestinya selalu sejuk, teduh, dan murah senyum kepada siapa pun, termasuk umat beda agama, dalam keadaan yang makin murung ini, jelas sangat membutuhkan perhatian lebih dari semua kita, untuk mengembalikan kepada khittah-nya”. Begitu tulis Edi AH Iyubenu di kata pengantar buku ini.

Berawal dari klaim kebenaran mutlak, Agama Islam menjadi tertutup. Buku ini memberi istilah berhala wacana (hlm. 26). Wacana-wacana keislaman yang dibuat oleh manusia yang datangnya jauh setelah Nabi wafat dianggap paling otentik, paling benar dari sekian wacana terdahulu yang pernah ada. Padahal wacana Islam selalu berbeda, saling melengkapi sekaligus berkembang tiap waktu dan tiap tempatnya. Wacana Islam tidak stagnan, juga tidak setertutup itu.

Dampak dari ini cukup mengkhawatirkan. Kesannya ajaran Agama Islam dikenal dengan kasar, kaku, keras, tanpa kompromi (hlm. 29). Label bid’ah, sesat, kafir, musuh Islam, dan semacamnya sangat mudah disematkan pada manusia yang tidak sepemahaman dengan mereka. Di Indonesia, pengamalan ajaran Islam yang seperti ini bisa merusak persatuan kesatuan bangsa. Bisa membuat anak bangsa berseteru, berkelahi baik perasaan, pikiran, lisan, atau bahkan fisik.

Islam yang Luwes

Di buku ini, si penulis memberi contoh panjang tentang kasus seteru ini. Perayaan Natal tiap bulan Desember selalu dibarengi dengan fatwa haram dan halal perihal mengucapkan selamat Natal (hlm. 80). Kalau ada umat Islam yang mengucapkan selamat Natal, dicap haram, kafir, dan semacamnya. Padahal keduanya punya dasarnya masing-masing. Lantas kenapa harus berseteru? Ya itu tadi, ada satu pihak mengklaim wacana Islam yang diperolehnya mengandung kebenaran mutlak.

Terus bagaimana agar wajah Islam tidak tampil dengan versi kakunya? Bagaimana Agama Islam agar terlihat wajah sejuknya, menyapa tiap manusia dan semesta dengan keramahannya? Bukankah rahmatan lil ‘alamin itu luwes. Lantas mengapa Agama Islam kita belum bisa luwes?

Laku pertama agar bisa luwes, ya harus sadar dulu bahwa tiap agama yang ada di bumi ini, selalu memiliki orientasi kebaikan dan mencegah keburukan (hlm. 140). Tidak hanya Islam yang memiliki nilai-nilai kebaikan, agama lain pun juga sama. Kesadaran seperti ini, bisa dimulai dari pengertian bahwa berbeda itu pasti. Saya rasa, pemahaman ini cocok untuk iklim relasi umat beragama yang ada di Indonesia.

Penulis mengingatkan pembaca, “dalam konteks kebangsaan kita yang majemuk, sudah sepatutnya semua kita tidak menajamkan dikotomi kita dan mereka”. Karena maju mundurnya bangsa tidak bergantung pada kelompok apalagi individu, namun relasi kooperatif semua pihak yang memiliki komitmen untuk memajukan bangsa. Klaim kebenaran mutlak, pelabelan sesat, cara berfikir sempit dan menonjolkan kepentingan sendiri saya rasa harus segera dilebur.

Nabi sendiri telah memberi contoh melalui Piagam Madinah sebagai konsensus bersama. Agama Islam bisa bersanding dengan banyak suku tanpa harus mengislamkan mereka semua, tanpa juga memberi label sesat, kafir, dan semacamnya. Kita bisa meneladani itu semua melalui ejawantah untuk menjaga marwah Pancasila sebagai konsensus bersama.

Buku ini banyak memberi contoh laku Agama Islam yang luwes. Perumpamaan-perumpaan yang digunakan pun memudahkan pembaca untuk paham maksud pesan yang disampaikan. Namun jangan beranggapan bahwa setelah membaca buku ini, kita merasa yang paling islami, Islamnya paling luwes. Buku ini hanya secuil dari khazanah keilmuan Agama Islam diantara buku-buku yang lain.

Dengan begitu, penganut Agama Islam lebih terbuka dan bersahabat. Karena mau belajar lebih jauh lagi. Ejawantahnya pun akhirnya bisa menjabat erat siapapun, baik muslim maupun pemeluk agama lain. Terakhir, sebagai penutup, saya mengutip nasehat Maulana Jalaludin Rumi yang ditulis juga di dalam buku ini sebagai bahan renungan, “kemarin aku pintar, maka aku berupaya mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, maka aku berupaya mengubah diriku sendiri”. Demikian.

Judul               : Islam Yang Menyenangkan; Etika Kemanusiaan Sebagai Puncak Keimanan Dan Keislaman

BACA JUGA  Pergeseran Keagamaan di Indonesia Pasca Reformasi

Penulis             : Edi AH Iyubenu

Penerbit           : IRCiSoD

Cetakan           : cetakan I, Maret 2017

Tebal               : 224 halaman

ISBN               : 978-602-391-277-3

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru