31.1 C
Jakarta

Berdakwah tanpa Kekerasan ala Wali Allah

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuBerdakwah tanpa Kekerasan ala Wali Allah
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF
Judul Buku: Kisah-Kisah Unik Waliyullah di Tanah Jawa, Penulis: Nala Karim Al-Hammad, Penerbit: Araska, Cetakan: I, Mei 2022, Tebal: 280 halaman, ISBN: 978-623-7537-47-2, Peresensi: Sam Edy Yuswanto.

Harakatuna.com – Berdakwah tanpa kekerasan mestinya menjadi prinsip para dai atau juru dakwah. Tak ada kebaikan atau manfaat yang terlahir dari sebuah dakwah yang disertai dengan kekerasan. Alih-alih memberikan manfaat, justru mudarat atau efek buruklah yang akan didapat.

Mestinya, berdakwah harus dilakukan dengan cara-cara santun, lemah lembut, dan diiringi keteladanan. Sehingga membuat orang-orang yang mendengarnya akan merasa tersentuh hatinya dan mampu merasakan bahwa ajaran Islam begitu indah dan sangat menghargai serta memuliakan hak-hak manusia.

Bicara tentang dakwah yang penuh dengan kelemahlembutan, kita bisa mencontoh dakwahnya para ulama terdahulu serta para wali Allah, kekasihnya Allah. Misalnya dakwahnya para Wali Songo. Dalam buku “Kisah-Kisah Unik Waliyullah di Tanah Jawa” ini kita akan melihat para ulama dan wali yang begitu gigih memperjuangkan agama Islam, dengan cara-cara yang mampu membuat masyarakat merasa tersentuh hatinya.

Bicara tentang sosok wali, dalam buku ini diuraikan, sebagian ulama menafsirkan bahwa wali adalah orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan diajarkan oleh nabi-Nya, memegang teguh syariatnya lahir dan batin, lalu terus-menerus memegangi itu semua dengan dibarengi muraqabah, kontinu dengan sifat ketakwaan dan waspada agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dimurkai-Nya berupa kelalaian menunaikan wajib dan melakukan hal yang diharamkan.

Ibnu Katsir menafsirkan: Allah menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Jadi, siapa saja yang bertakwa maka dia adalah wali Allah.

Pemahaman di atas adalah pengertian wali dalam artian yang luas, mencakup setiap orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan. Dalam konteks ini tentunya masuk juga para rasul. Dan memang sering dikatakan bahwa wali Allah yang paling utama adalah para nabi. Para nabi yang paling utama adalah para rasul. Para rasul yang paling utama adalah ‘ulul azmi’. Sedangkan ‘ulu azmi’ yang paling utama adalah Nabi Muhammad Saw. (halaman 12).

Mencontoh Dakwahnya Para Wali

Seorang juru dakwah mestinya berusaha mencontoh dakwah yang pernah dipraktikkan oleh Rasululullah Saw., para sahabat, hingga para wali Allah. Sunan Bonang misalnya. Selain alim, Sunan Bonang juga dikenal memiliki kesaktian tinggi. Ketika berdakwah di Kediri, dengan ilmunya yang luar biasa, ia dapat mengubah aliran sungai Brantas, sehingga menjadikan daerah yang tidak mau menerima dakwah Islam di sepanjang aliran sungai kekurangan air.

BACA JUGA  Menelisik Sejarah Gerakan Islamisme di Indonesia

Ia berhasil mengalahkan Ki Buto Locaya dan Nyai Plencing yang sakti mandraguna. Ia juga pernah diangkat sebagai imam Masjid Demak, hingga kemudian meninggalkan jabatan tersebut. Ia tinggal di Lasem. Pada usia sekitar 30 tahun ia diangkat menjadi wali negara Tuban untuk mengurus semua hal yang bersangkutan dengan agama Islam. Ia kemudian sering terlihat di Tuban dan akhirnya menetap di sana hingga wafat (halaman 21).

Dalam buku ini dikisahkan bahwa ada legenda yang terkenal tentang buah aren yang dikaitkan dengan karomah Sunan Bonang. Hal ini terkait dengan Raden Said (Sunan Kalijaga). Waktu itu, Raden Mas Said menjadi penjudi dan perampok dengan gelar berandal Lokajaya. Saat Sunan Bonang berjalan di hutan, ada yang mengatakan saat itu beliau hendak ke Makkah, dan bertemu dengan Raden Said.

Melihat Sunan Bonang membawa tongkat yang berlapis emas, Raden Said ingin merampoknya. Sunan Bonang tidak melawan, ia justru menunjukkan perhatian dan kasih sayang. Lokajaya menyuruh Sunan Bonang memilih menyerahkan harta atau merebut dan membunuhnya.

Tapi dengan tenang, sabar, dan lembut bentakan itu disambut kata-kata emas Sunan Bonang. Lalu Sunan Bonang dengan tongkat di tangannya menunjuk buah aren yang ada di sekitarnya sembari berkata, “Lihat itu, lebih banyak emas,” katanya. Atas izin Allah, buah aren yang banyak tumbuh di pohon berubah menjadi kemilau emas.

Takjub dengan apa yang dilihatnya, Raden Said menyadari bahwa sosok yang berada di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Ia pasti akan kalah tak berdaya jika memaksakan diri melawannya. Raden Said tak bisa berbuat apa-apa ketika Sunan Bonang berlalu. Ketika kesadarannya pulih, ia mengejar Sunan Bonang dan menyatakan diri ingin menjadi muridnya. Dari sinilah ia kemudian menjadi Sunan Kalijaga (halaman32).

Sunan Bonang juga dikenal sebagai sosok pembela rakyat bawah. Terkait hal ini, kita bisa membaca keterangan Avirista Midaada (iNews.id, 11/4/2022) bahwa Sunan Bonang terkenal membela masyarakat kecil yang lemah. Bahkan kendati tak seiman dengan beliau, Sunan Bonang tetap vokal memberikan pembelaan selama ada penguasa yang tidak adil dan sewenang-wenang.

Dari sosok Sunan Bonang, kita tentu dapat belajar banyak tentang pentingnya berdakwah tanpa kekerasan. Berdakwah, sebagaimana saya utarakan di awal, harus dilakukan dengan cara-cara santun, lemah lembut, dan diiringi keteladanan. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Sam Edy Yuswanto
Sam Edy Yuswanto
Bermukim di Kebumen, tulisannya dalam berbagai genre tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional, antara lain: Koran Sindo, Jawa Pos, Republika, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dll.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru