24.2 C
Jakarta

Beragama Secara Saintifik, Mungkinkah?

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah

Presiden Soekarno, Waliyul Amri Dhoruri Bi-Syaukah Usai Kuliah Subuh, para santri yang menonton tayangan Khazanah dari sebuah stasiun televisi terlibat kegaduhan karena saling berkomentar tentang...

Judul buku: Sains Religus Agama Saintifik; Dua Jalan Mencari Kebenaran. Penulis: Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla; Penerbit: Mizan, Tahun: 2020; Tebal: 172 halaman; Peresensi: Ferdiansyah.  

Pandemi Covid-19 telah meluluh lantahkan berbagai sector kehidupan manusia, tak terkecuali dimensi agama.  Belakangan, media virtual kita banyak dibenturkan dengan berbagai perdebatan wacana antara Sains dan Agama dalam merespon badai Pandemi Covid-19. Banyak diantara para pemikir di Indonesia yang menguliti konsepsi antara Sains dan Agama. Dalam perdebatannya, Agama seringkali dianggap sebagai suatu hal yang kuno dan tidak penting, dan hanya Sains-lah yang bisa menanggulangi bencana pandemi ini. Tetapi, benarkah demikian?

Merespon perdebatan ini, Haidar Bagir (HB) dan Ulil Abshar Abdalla (UAA), kemudian menuliskan hasil refleksinya secara filosofis tentang pertautan Sains dan Agama, sebagaimana tertuang dalam buku mereka yang berjudul, Sains “Religius” Agama “Saintifik” (2020). Buku ini merupakan sebuah angin segar baru dalam khazanah keilmuan sosial-teologis di Indonesia. Secara cerdik dan bernas, HB dan UAA memotret Agama dan Sains dalam suatu pandangan yang sufistik nan filosofis.

Kondisi masyarakat terdampak pandemi Covid-19 telah terpukul di berbagai sektor kehidupannya. Merespon hal itu, berbagai kebijakan preventif telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk menanggulangi pandemi covid-19, meskipun tidak banyak mampu menekan laju penyebaran Covid-19 di Indonesia. Di lapangan, sebagian masyarakat masih tidak percaya akan Covid-19, padahal virus tersebut telah menyebar ke seantero dunia. Selain itu, kalangan ini justru menerapkan teologi Fatalistik untuk membenarkan persepsinya serta dalam menjalankan ritualitas keagamaannya.

Hal ini pun terjadi di lingkungan pendidikan keagamaan seperti Pesantren. Terdapat beberapa Pesantren di Indonesia yang tidak percaya terhadap pandemi ini, terutama ketika beberapa waktu lalu terjadi “arus balik santri” ke pesantren. Di pesantren sendiri kemudian terdapat tiga madzhab (aliran) dalam merespon pandemi Covid-19. Pertama, pesantren yang menerima arus balik santri ke pesantren dengan mengikuti protokol kesehatan dengan tanpa mengaktifkan proses pembelajaran di dalam pesantren.

Kedua, pesantren yang mengaktifkan proses pembelajaran dengan tetap menjalankan protokol kesehatan dengan penyediaan Hand Sanitizer serta wajib bermasker. Ketiga, adalah pesantren yang mengangggap pandemi Covid-19 hanya konspirasi belaka, serta mereka mempercayakan sepenuhnya takdir kehidupan mereka kepada tuhan-Nya tanpa ada ikhtiar yang bersifat saintifik. Pesantren model ini menjalankan proses pembelajarannya tanpa menerapkan protokol kesehatan Covid-19, sehingga kemudian kalangan pesantren menjadi kluster baru yang terjangkit Covid-19 seperti salah satu pesantren yang ada di Kajen, Pati, Jawa Tengah sebagaimana dilansir dari detik.com (09/08/2020).

Problem realitas pesantren di atas telah menunjukkan kepada kita akan kepelikan yang mendasar dalam proses keberagamaan kita hari ini. Sebagian masyarakat pesantren banyak yang abai terhadap Sains yang sebenarnya sangat selaras dengan titah agama. Mereka menanggalkan pemahaman dan ekspresi keberagamaan yang saintifik, sehingga mereka kemudian beragama dengan fatalistik dan tidak proporsional.

Di era yang masih belum purna dari pandemi ini, bagaimana idealnya kita menjalankan ekspresi keberagamaaan, baik di ruang privat maupun ruang publik?. Karena saat ini berbagai ritual protokol kesehatan harus terus dijalankan untuk meminimalisir korban positif Covid-19. Hal ini menandakan bahwa beragama, memang idealnya harus selaras dengan Sains, karena sejak dahulu produksi pengetahuan telah banyak lahir dari Sains. Dan Sains sendiri, meminjam bahasa Taufiqurrahman (2020) adalah satu-satunya pengetahuan terbaik tentang dunia yang kita miliki saat ini.

UAA sendiri berusaha mengkritik para pemikir orientalis yang serta merta mengatakan bahwa beragama itu menunjukkan ketidakdewasaan seorang manusia. Hal ini sebagai antitesis terhadap argumentasi Richard Dawkins yang menulis buku tentang Outgrowing God (2019). Bagi Dawkins, beragama itu adalah a failure in growing up, gagal dewasa. Semua pekerjaan para teolog saat ini, masih belum bisa mencapai outgrowing. Untuk itu, salah satu tanda seseorang dewasa adalah mengikuti Sains. Beragama saat ini telah berubah menjadi racun yang mengotori kehidupan publik, karena itulah harus dilawan dengan dakwah tandingan yakni “saintisme” [hlm. 117]. Bagi UAA masyarakat beragama perlu menyeimbangkan antara pemahaman agama dan Sains, karena keduanya merupakan realitas yang tidak bisa dipisahkan.

Dalam konteks pandemi ini, teologi fatalistik idealnya penting dikesampingkan dulu oleh umat beragama. Karena jika masyarakat beragama masih ngeyel dengan tidak mengindahkan aspirasi Sains, maka sejatinya mereka telah mengkhianati konsep dan nilai keberagamaan itu sendiri. Hal ini sebagaimana menurut HB, bahwa agama sebagaimana aliran-aliran filsafat nondiskursif tertentu, memang sering dianggap tidak bersifat rasional dalam konteks yang sederhana. Karena rasionalisme saintifik ini seringkali menganggap bahasa Agama itu tidak bisa dipertanggung jawabkan, padahal tidak demikian. Agama itu rasional dan saintifik sekaligus [hlm. 37].

Buku ini mampu mendedahkan potret keberagamaan kita dan bagaimana menjalankan agama secara saintifik. Karena antara Sains dan Agama tidak perlu dipertentangkan, kita perlu mengambil benang merah dari keduanya. Karena ibarat dua sisi mata uang, dalam sejarahnya keduanya sejak dulu telah saling melengkapi untuk memajukan perabadan manusia.

Ferdiansyah
Ferdiansyah
Peneliti di Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, konsen di kajian Sosial keagamaan, sejarah Intelektual, Politik dan Cultural Studies, domisili Jln. Petung 10F, Papringan Caturtunggal Depok Sleman Yogyakarta, IG: @ferdiansahjy

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...