30.3 C
Jakarta
Array

Benang Tipis Antara Muslim dan Islami

Artikel Trending

Benang Tipis Antara Muslim dan Islami
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Benang Tipis Antara Muslim dan Islami

Oleh: Habib Ali bin Abdurrahman Al-Jufri*

Dewasa ini banyak sekali bertebaran islamisasi istilah-istilah yang menyebabkan kegaduhan perdebatan bagi sebagian kalangan. Islamisasi istilah ini lebih tepatnya menggunakan term ‘al-islami’. Padahal sejauh ini yang kita ketahui Allah swt telah menetapkan penamaan ayah para nabi, Nabi Ibrahim as, sebagai muslimin bukan islamiyyin, baca QS al-Hajj [22]: 78

مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّـٰكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ

Agama ayah kalian, Ibrahim, sebelumnya Dia (juga) menamai kalian sebagai muslimin

Sependek bacaan penulis, istilah islami ini merupakan istilah serapan yang dititipkan oleh kaum sekuler bagi para pemerhati Islam. Selanjutnya penulis amati beberapa saudara kita yang menganggap diri mereka sebagai para pemerhati Islam, mempopulerkan istilah tersebut yang akhirnya kita sering dengar tentang ekonom islami, politikus islami, dan karyawan islami.

Tidak jarang penulis dapati beberapa kelompok yang mempertahankan istilah ini, menganggap kesahihan istilah islami dari segi bahasa menurut sudut pandangnya. Sebab mereka beranggapan istilah apapun yang bersandingan dengan kata islami secara otomatis berafiliasi pada agama Islam.

Salah satu cendekiawan mengomentari pandangan penulis secara kritis dengan berargumen suatu kaedah:

لا مشاحّة في الاصطلاح

Istilah tidak perlu dipertentangkan

Dia juga menambahkan bahwa istilah islami tersebut merupakan istilah klasik yang digunakan oleh ulama terdahulu. Cendekiawan tersebut berlandaskan nama kitab yang ditulis oleh ulama pembaharu abad ketiga sekaligus penghulu Ahlussunnah, Abu al-Hasan al-Asy’ari, yang dinamai dengan Maqâlât al-Islâmiyyîn.

Sejenak penulis renungkan bantahan sang cendekiawan, kemudian menemukan dua sanggahan baginya. Pertama, penggunaan kaedah Istilah tidak perlu dipertentangkan di atas haruslah mengetahui maksud redaksi istilah tersebut. Kedua, perlu diteliti dan dikaji ulang konteks dan latar belakang al-Asy’ari menggunakan istilah Maqâlât al-Islâmiyyîn.

Sanggahan pertama, penggunaan redaksi istilah islami tersebut menimbulkan ketidakjelasan serta tidak mudah difahami sehingga tidak bisa mewakili hakekat Islam dan juga tidak sesuai dengan istilah kontemporer. Dewasa ini berbagai aliran yang mengatasnamakan Islam mempunyai perbedaan yang cukup mencolok dengan arti istilah islami tersebut. Kita bisa lihat sebagian kelompok yang bangga membawa istilah islami namun doyan mengkafirkan sesama umat Islam.

Para pembesar kelompok jihadis tanpa segan meneriakkan kafir bagi para pemimpin negara-negara Muslim seperti Mesir, Tunisia, Maroko, Gaza dan lain sebagainya dengan dalih tidak menjalankan hukum yang diturunkan oleh Allah swt! Sementara orang-orang yang dikafirkan tersebut memandang mereka sebagai neo-khawarij yang menghembuskan pertikaian di Gaza hingga meletuslah perang!

Revolusi Iran menamai dirinya sebagai revolusi islami. Pun halnya dengan Hizbullah di Lebanon yang menjuluki diri mereka sebagai pasukan islami. Bahkan juga nama yang tidak asing dalam kelompok jihadis yakni Jamaah Islamiyah di Mesir dan Pakistan. Di Yaman ada Hizbul Ishlah yang mendeskripsikan sebagai partai politik islami yang nota bene dicap oleh tokoh salafiyah Yaman sebagai para kafir zindiq. Kedua aliran di Yaman inilah yang satu suara menuduh gerakan Houthi islami –yang nota bene beraliran Syiah zaidiyah– sebagai Syiah Majusi. Demikianlah kondisi riil dari kelompok jihadis.

Sementara para sekuler dan liberal sengaja mengumpulkan kelompok-kelompok di atas –yang sebenarnya tidak mungkin untuk disatukan dalam satu keranjang- dengan menamai mereka para islamiyyin. Hal ini dilakukan agar mereka mudah menurunkan martabat Islam dan melenyapkannya dengan sekali serangan. Oleh karena itu penulis mendapati dirinya berada di depan kegaduhan yang disebabkan tidak kesalahan dalam menggunakan istilah yang tepat. Memperbincangkan masalah istilah ini bukanlah hal yang berlebihan namun suatu hal yang harus diperhatikan agar dapat menjadi inti akar permasalahan.

Sanggahan kedua konteks penggunakan istilah Maqâlât al-Islâmiyyîn oleh al-Asy’ari bagi kitabnya, sangatlah berbeda dengan konteks yang dipakai oleh para kelompok yang mengatasnamakan Islam belakangan ini. Istilah islami mereka gunakan untuk setiap kelompok yang berafiliasi pada Islam.

Sedangkan al-Asy’ari menggunakan konteks islamiyyin untuk membedakan umat Islam dari sisi akidahnya, mana yang benar-benar kelompok Islam dan mana aliran yang menyimpang. Oleh karenanya dalam kitab Maqâlât al-Islâmiyyîn mengupas tentang sekte-sekte menyimpang sebut saja Syiah Ghulat (ekstrim Syah yang berkeyakinan kesalahan Jibril menurunkan wahyu yang seharusnya untuk Ali bin Abi Thalib), aliran Bathiniyah semisal al-Janahiyyah yang meyakini ruh Allah swt menyatu dengan jasad Adam lalu beralih yang akhirnya berakhir pada pimpinan mereka sehingga meyakininya sebagai tuhan.

Aliran ini juga mengingkari adanya hari kiamat. Pun halnya dengan sekte al-Mughîriyah dan al-Khithâbiyyah yang meyakini kenabian pimpinan mereka. Sekte al-Manshûriyyah yang berkeyakinan pimpinan mereka sebagai anak Allah. Masih banyak lagi sekte-sekte lainnya mulai Syiah kelas ringan hingga kelas berat seperti Imamiyah, Rafidhah, Zaidiyah lalu juga Khawarij, Murjiah, Mu’tazilah, Juhamiyah dan lain-lain.

Sebagai kesimpulan, pada abad ketiga al-Asy’ari menggunakan istilah islami untuk orang yang mengaku dirinya Muslim namun mempercayai keyakinan yang menjerumuskan pada kekafiran. Menurutnya tidaklah setiap orang atau apapun islami itu Muslim dan Muslim kedudukannya lebih tinggi dari islami.

Demikian penggunaan istilah islami pada abad ketiga Hijriah. Tentunya sangat berbeda sekali dengan apa yang dimaksud oleh islamiyyun di zaman sekarang ini. Lalu masih tersisa pertanyaan yang mengganjal. Apa yang dimaksud dengan islami?

Setelah dijelaskan maksud dan penggunaan istilah islami. Penulis –Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri- memproklamirkan diri bukan sebagai islami namun sebagai Muslim yang bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad saw utusan Allah swt, juga beriman pada Allah swt, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir dan kebaikan serta keburukan ketentuan-Nya (Qadha’ Qadar). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat Islam.

Penulis tutup dengan firman-Nya:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللهُ إِبْرَٰهِيمَ خَلِيلًا (125) وَلِلهِ مَا فِي السَّمٰوٰتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ الله بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا

Siapakah yang lebih baik agamanya dibanding orang yang menyerahkan dirinya karena Allah, dia berbuat baik serta mengikuti agama Ibrahim dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Segala sesuatu di bumi maupun di langit hanya milik Allah. Allah Maha Meliputi atas segala sesuatu. QS al-Nisa’ [4]: 125-126

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya dibanding orang yang mengajak kepada Allah serta beramal saleh dan berkata sesungguhnya saya ini termasuk golongan Muslimin (orang-orang yang berserah diri). QS Fushshilat [41]: 33

Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemulian hidupkanlah aku dalam keadaan Muslim, matikan aku dalam keadaan Muslim dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang saleh.    

*Penulis adalah dai Sunni terkemuka asal Jeddah yang kini tinggal di Abu Dabi UEA yang gencar menyuarakan Islam Moderat

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru