31.1 C
Jakarta

Belajar Pada Produktivitas Literasi Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari

Artikel Trending

KhazanahLiterasiBelajar Pada Produktivitas Literasi Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Dunia literasi memang tidak asing bagi kalangan Nahdliyin. Menulis adalah pekerjaan yang mulia, ulama-ulama salaf sangat kental dan masih melestraikan tradisi literasi ini, tak terkecuali salah satu Rais Akbar Nahdlatul Ulama yakni Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Dalam kesehariannya beliau selalu menyempatkan untuk memulis pemikiran dan pandangannya mengenai berbagai hal  mulai dari masalah agama, pendidikan ataupun keorganisasian.

KH Hasyim Asy’ari menulis di sela-sela kesibukannya dalam berbagai profesi seperti mengajar, berdakwah dan berjuang. Ada waktu waktu tertentu yang KH Hasyim Asy’ari gunakan dalam menulis kitab antara pukul 10:00 WIB sampai menjelang zuhur atau setelah mengajar para santrinya.

Sebelum menulis sebuah karya ada beberapa etika yang KH Hasyim Asy’ari lakukan, untuk menuangkan gagasan tulisannya. Yakni, bersuci atau berwudhu kemudian mengawalinya dengan  basmalah, shalawat dan hamdalah. Kebiasaan-kebiasaan tersebut beliau anjurkan juga kepada santrinya.

Etika atau ritual yang demikian pada dasarnya wajar dan lumrah, terutama dalam tradisi pesantren. Bagi orang pesantren bahwa ketika hendak menuangkan suatu ilmu kita harus dalam keadaan suci. Karena, ilmu merupakan cahaya, sehingga cahaya tersebut akan membawa manfaat dan keberkahan.

Semasa hidup, Kiai Hasyim merupakan salah satu kiai yang produktif pada zamannya. Karya yang beliau hasilkan ada yang berbahasa Arab dan Jawa, baik dalam akidah, fikih, dan tasawuf.  Mayoritas artikel atau risalah yang ia tulis menunjukkan respons Kiai Hasyim terhadap problematika yang masyarakat hadapi.

Mayoritas artikel atau risalah yang beliau tulis juga menunjukkan respons Kiai Hasyim terhadap problematika yang dihadapi masyarakat. Resolusi jihad, sebagai studi kasus menunjukkan bagaiaman ijtihad Kiai Hasyim yang sangat kreatif dan inovatif dalam membela kepentingan rakyat. Meski diakui semasa hidup kiai Hasyim tidak pernah menulis buku yang utuh dan tebal, tetapi berupa risalah yang membahas tema aktual dalam kondisi masyarakat.

Literasi KH Hasyim Asy’ari dalam Kitab

Pertama, Adab al-Alim wa al-Mutaallim. Kitab ini membahas tentang keutamaan ilmu dan akhlak murid kepada gurunya, begitu juga sebaliknya. Karya ini merupakan rangkuman dari kitab membahas tentang pendidikan Islam yakni Ta’lim al-Mutaallim, Adabul Mu’allim dan Tadzkiratul Shaml wal Mutakallim.

Kedua, Al-Nur alMubin. Kitab ini menerangkan tentang penting beriman  dan mencintai kepada Nabi segala akibat dari keimanan tersebut, terutama dalam hal mencintai dan meneladani, di samping berisi biografi singkat Nabi. Selain itu, berisi tentang mukjizat, tawashul, shalawat, ziarah, tahlil dan syafaat.

BACA JUGA  Mendongkrak Gelora Menulis, Bagaimana Caranya?

Ketiga adalah Al-Tabihat wa alWajibat, karya ini berisi reaksi dan kecaman KH Hasyim Asy’ari terhadap praktik-praktik peringatan maulid yang beliau jumpai di masyarakat sekitar pesantren yang ramai dengan hal-hal maksiat.

Keempat adalah AlDurar al-Muntasirah, yang membahas tentang hakikat dari orang-orang pilihan dan praktik sufi dalam tharqah secara benar.

Kelima, Al-Tibyan, karya ini menjelaskan tentang tata cara menjalin tali silaturahmi, bahaya atau larangan memutuskan dan arti membangun interaksi sosial.

Keenam, Al-Mawai’dz. Karya ini menjelaskan pentingnya persatuan dan kesatuan di antara sesama Islam dalam merespons upaya-upaya yang telah Belanda lakukan. Terutama dalam masalah pernikahan dan penganaktirian hukum Islam pada lembaga peradilan ketika itu.

Ar-Risalah Ahlisunnah wal Jamaah, tulisan ini  menjelaskan konsep akidah menurut paham Ahlu Sunnah wa al-Jamaah (ASWAJA). Seperti dalam kaitan dengan konsep bid’ah, kematian, hadis dan ijtihad.

Selain menulis kitab klasik, KH Hasyim Asy’ari juga menuliskan pemikirannya melalui media cetak yang memuat tulisan beliau antara lain, Soera Moeslimin NO, berita  NO dan lain sebagainya. Tetapi juga perlu kita ketahui bahwa Kiai Hasyim menulis tidak sebatas bidang ilmu keagaman, tapi juga meliputi pertahanan, politik dan sebagainya.

Dari KH Hasyim Asy’ari kita dapat mengambil pelajaran bahwa betapa besar semangat perjuangan tradisi literasi yang beliau teladankan. Keterbatasan fasilitas pada masa itu tidak menyulitkan beliau untuk tetap produktif. Maka bagaimana dengan zaman yang sudah serba teknologi seperti sekarang ini? Tentunya harus lebih produktif.  Wallahu A’lam.

Nafilah Sulfa
Nafilah Sulfa
Mahasantri Ziyadatut Taqwa, Mahasiswi semester akhir Program Studi Ilmu al-Qur'an dan Tafsir.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru