26.6 C
Jakarta

Belajar Menulis Cerpen Hikmah Lewat Gus Mus

Artikel Trending

Nama KH. Musthofa Bisri adalah nama yang tak asing bagi insan pesantren maupun yang menggeluti kepenulisan bergenre sastra. Di samping ia adalah seorang kiai, pengasuh sebuah pondok pesantren. Ia juga seorang penulis sastra. Lebih tepatnya ia menulis sastra berjenis cerpen dan puisi. Tulisan ini akan sedikit mengulas beberapa hal yang penting diketahui oleh penulis pemula, tentang Gus Mus dan cerpen pertamanya: Gus Jakfar.

Tahukah anda bila cerpen karya Gus Mus yang berjudul Gus Jakfar, adalah cerpen pertama beliau sekaligus yang paling fenomenal di antara cerpen-cerpen lainnya? Ya, berdasar pengakuan Gus Mus sendiri, Gus Jakfar beliau tulis hanya sekedar untuk coba-coba saja. Beliau tidak pernah menulis cerpen sebelumnya. Namun, setelah Gus Jakfar jadi, beberapa hal mengejutkan muncul.

Sastrawan terkemuka bernama Danarto adalah orang yang, oleh Gus Mus dimintai penilaian tentang cerpen Gus Jakfar. Menurut Danarto, Gus Jakfar sudah bagus namun terlalu panjang. Ini menimbulkan kekecewaan tersendiri pada Gus Mus. Lalu, beliau yang kebingungan bagaimana hendak mengedit cerpennya, akhirnya memberanikan diri mengirimkan cerpen tersebut ke Kompas. Di luar dugaan, cerpen itu dimuat dengan space koran di luar bagaimana biasanya. Ini membuat Danarto kagum.

Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata sosok tokoh dalam cerpen tersebut berhasil menyedot perhatian banyak orang. Bahkan ada yang memiliki dugaan kuat bahwa sosok Kiai Tawakkal yang diceritakan dalam cerpen itu adalah sosok nyata. Sampai-sampai ada yang meminta kepada Gus Mus agar beliau bersedia mempertemukannya dengan Kiai Tawakkal. Gus Mus menanggapinya dengan santai.

Menulis Cerita Berkembang di Kalangan Pesantren

Kalau kita mau mengamati bersama, cerpen Gus Jakfar pada dasarnya cerita hikmah yang biasa disampaikan dari satu mulut ke mulut, di kalangan para santri. Itu bisa diketahui dengan tokoh-tokoh yang tak bisa jauh dari area atau budaya pesantren. Cerita serupa banyak didapati dengan tokoh, latar belakang, serta konflik yang berbeda-beda. Tapi, kesemuanya hampir memiliki kesamaan, yaitu mendorong pembacanya untuk lebih merenungi kembali ajaran agamanya.

Santri yang ingin mengikuti jejak Gus Mus; berdakwah lewat literasi, bisa memanfaatkan cerita-cerita serupa yang berkembang di pesantren-pesantren. Dalam menjadikannya sebuah cerpen jangan sampai sama persis dengan yang ada agar tidak menjadi semacam biografi. Tapi, samarkanlah dengan nama atau sedikit bentuk konflik yang berbeda. Ini bila hendak dibuat cerpen semacam Gus Jakfar, bukanlah suatu bentuk pembohongan atau pemalsuan fakta. Sebab, begitulah berjalannya cerpen fiksi. Sebuah cerita yang dinyatakan tak nyata. Meski beberapa poin-poinnya berdasar kisah nyata.

Cerita-cerita yang berkembang di kalangan pesantren umumnya memuat hal-hal yang cukup menyedot perhatian banyak orang, khususnya kalangan para santri. Tidak seperti dongeng yang berkembang di sebuah masyarakat, cerita yang berkembang di pesantren umumnya memuat ajaran agama dan memiliki masa kejadian lebih pendek serta tidak terlalu sulit difahami, daripada dongeng yang berkembang di masyarakat.

BACA JUGA  Jangan Berhenti Menulis Hanya Karena Writer’s Block

Mutiara Hikmah

Menulis cerpen layaknya Gus Jakfar selain membutuhkan cerita yang menginspirasi, juga kelihaian bercerita lewat tulisan. Ini juga bisa dipelajari lewat cerpen Gus Mus tersebut. Beberapa hal yang dapat kita amati dan tiru antara lain. Pertama, membuat paragraf pembuka yang dapat menyedot perhatian pembaca dengan baik. Dalam kasus Gus Jakfar, ini dipraktikkan dengan menceritakan bagaimana kekaguman orang-orang terhadap sosok Gus Jakfar. Ini bisa kita kembangkan dengan menceritakan prilaku yang unik, bentuk yang unik, desa yang unik, atau hal-hal lain yang saat kita kisahkan lewat lisan, pendengarnya akan kesulitan untuk tidak memperlihatkan ia sedang mendengarkan cerita kita.

BACA JUGA  Teknik Memunculkan Ide Tulisan dari Hal-hal Sederhana

Kedua, menggabungkan antara narasi dan dialog. Dialog antar tokoh di dalam sebuah cerita akan membuat cerita semakin kuat. Selain itu, pembaca yang bosan dengan narasi akan sedikit terhibur dengan dialog-dialog yang ada. Apalagi bila dialog tersebut disisipi dengan bahasa jawa, logat, atau ucapan khas daerah tertentu.

Ketiga, membungkus pesan dengan baik. Pesan yang baik dalam sebuah cerita adalah pesan yang tatkala disampaikan, pembaca merasa tidak sedang dinasihati seseorang. Hal ini dapat dipraktikkan seperti dalam sebuah cerita ada adegan seorang guru yang sedang menasihati muridnya, layaknya dalam cerpen Gus Jakfar. Saat pembaca membaca cerpen Gus Jakfar, tepatnya saat kiai Tawakal bertanya pada Gus Jakfar apakah sudah menemukan makna tulisan ahli neraka di kening kiai Tawakal, yang ada dalam pikiran pembaca adalah bagaimana kiai Tawakal membuka hal yang selama ini mengganjal di hati Gus Jakfar.

Ini berbeda bila penulis cerpen sendiri yang menerangkan berbagai hal tentang ajaran agama. Tentu ini akan amat membosankan. Bahkan akhirnya tidak ada bedanya antara cerpen dengan buku khutbah. Inilah yang amat disayangkan beberapa kritikus sastra terhadap gaya penulisan beberapa novel populer seperti Ayat-Ayat Cinta, atau Ketika Cinta Bertasbih.

Keempat, hal yang selalu tak bisa dilepaskan dari dunia kepenulisan adalah, mempelajari Bahasa Indonesia itu sendiri. Mulai dari kata baku, tanda baca dan sebagainya. Selain itu, pengembangan paragraf juga amat berguna untuk menajamkan konflik. Semua itu akan terasa mudah bila anda sudah terlebih dahulu banyak membaca-baca cerpen atau novel yang baik.

Avatar
Mohammad Nasif
Lulusan Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru