Belajar Menjadi Muslim Inklusif dari Gamal Al-Banna


Akar radikalisme di dunia Islam ditengarai dari kelompok (firqhah) Khawarij. Khawarij sendiri muncul ke permukaan sebagai akibat terjadinya fitnah besar (fitnah al-kbro) yang terjadi didunia Islam pada masa antara tahun 656 dan 661 Masehi. Suib Didu (2006:7) menjelaskan bahwa Khawarij berarti orang-orang yang keluar, dan mencabut dukungan politik terhadap Ali bin Abi Thalib, yang kala itu sedang bersitegang dengan Muawiyyah bin Abi Sofyan. Kaum Khawarij mengingkari keputusan Imam Ali yang melakukan arbitrasi (tahkim) Karena menganggap Imam Ali tidak sesuai dengan Alquran.

Maka, untuk merespon itu, Imam Ali mengatakan bahwa Alquran merupakan kitab yang “bisu”, sehingga memerlukan seorang pembaca yang akan membuatnya berbicara (Farit Afrizal: 2016). Jadi, peran pembaca akan mengarahkan ke mana petunjuk Alquran itu berjalan.

Uraian di atas hendak menegaskan bahwa Khawarij, yang merupakan salah satu golongan Islam, dalam gerakannya sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam seperti perdamaian. Bahkan kelompok ini lebih mengerikan. Sekalipun sesame Muslim, jika tidak sepaham dengan mereka, darahnya “halal”.

Memang, ada sejarawan yang mengatakan bahwa sikap ekstrim yang kemudian melekat pada Khawarij itu, lebih disebabkan Karena latar belakang kehidupan mereka yang berasal dari Arab Badewi (pegunungan) yang berdarah panas, dan suku-suku pengembara dari Semenanjung Arabia dan perbatasan Irak (Didu, 2006).

Namun, banyak analisis yang tegaskan mengatakan bahwa sikap Khawarij yang ekstrim itu dipengaruhi oleh ciri dangkal berfikir. Terutama dalam memahami teks-teks Alquran. Hal ini sangat mungkin terjadi, mereka mencari dalil-dalil, baik dari Alquran maupun hadis untuk melegitimasi tindakan mereka, seperti mengkafir-kafirkan guna “menghalalkan” darah seseorang. Sekali lagi, hal ini lantaran pandangan sempit mereka (mudah menjustis seseorang sesat dan sejenisnya) dan fanatik terhadap kelompok lain yang tidak sepaham.

Yang demikian itu ditegaskan oleh Harusn Nasution (1995) dalam Islam Rasional. Bahwa mereka bersikap fanatik dalam paham dan  tidak segan-segan menggunakan kekerasan dan pembunuhan untuk mencapai tujuan mereka.

Baca Juga:  Dari Islam Muram dan Seram, Menuju Islam Cinta dan Ramah

Yang hendak penulis katakana setelah menguraian sedikit banyak akar radikalisme yang ternyata berawal dari Khawarij adalah, bahwa keras atau lembutnya seseorang tergantung doktrin yang ia anut. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Khawarij bahwa meskipun sama-sama berpedoman kepada Alquran dan Hadis, tetapi mereka justru cenderung radikal atau ekstrim. Sementara ada banyak kelompok lain seperti Ahlu Sunnah wal Jamaah yang cenderung soft dan inklusif. Yang demikian itu disebabkan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Zuhairi Misrawi (2007) bahwa ada sejumlah 176 ayat Alquran yang dapat ditafsirkan sebagai pendorong intoleransi. Akan tetapi, jumlah ayat yang mengajarkan toleransi sejumlah 300 ayat.

Jadi, letak ketidak-nyambungan antara ajaran Islam dengan tindakan umat adalah intepretasi atau doktrin-doktrin yang “digoreng” sedemikian rupa guna melegitimasi gerakan dan perjuangan kelompok yang bersangkutan. Jadi, Khawarij, ISIS dan lainnya, ketika hendak melakukan serangan bom dan sejenisnya, sama-sama mengucap Syahadad dan Basmalah. Buktinya, mereka melakukan semua atas nama agama.

Belajar dari Gamal Al-Banna

Di lain tempat, ada pelajaran yang menarik dari perjalanan spiritualitas tokoh Muslim kenamaan. Hal ini juga akan memberikan keyakinan kepada kita (Muslim) agar kritis, inklusif dan pluralis.

Dia tidak lain dan tiada bukan adalah Gamal Al-Banna (lahir pada tanggal 15 Desember 1920). Lelaki yang telah menulis lebih dari 100 buku mengenai isu-isu plurarisme agama, kebbebasan berfikir dan gender ini adalah adik Bungsu Hasan Al-Banna (1906-1946), yang sangat terkenal itu karena ia adalah pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin yang sangat erat dengan “cap” terorisme itu. Namun, siapa sangka, Gamal Al-Banna tidak seperti Hasan Al-Banna yang kaku, Gamal lebih berani melakukan pembacaan teks Alquran dan kajian keislaman secara kritis, melepaskan belenggu dari doktrin kakanya maupun ulama tradisonal yang sepaham dengan Hasan Al-banna (Masduqi, 2011:70-71).

Baca Juga:  Belajar Islam Pada Cheng Ho di Surabaya (I)

Sejarah mencatat bahwa Gamal sempat menjadi anggota gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) yang ekslusif itu. Namun, setelah melampui proses yang panjang dan tentunya melelahkan, karena melalui berbagai renungan dan penelitian mendalam, ia berubah menjadi Muslim Inklusif dan Pluraris.

Tidak hanya berhenti ketika sudah menemukan hidayah. Ia berusaha mempengaruhi atau menyebarkan paham atau doktrin-doktrin yang menyejukkan dan bersamaa dengan itu melawan doktrin-doktrin yang memonopoli kebenaran dengan cara kekerasan.

Secara tegas, sebagaimana dikutip dari Irwan Masduqi (2011), dia menyatakan bahwa: “Alquran melarang masing-masing kelompok agama mengklaim sebagai umat yang paling utama sereya merendahkan kelompok agama lain. Kelompok-kelompok agama tidak boleh mengklaim dirinya adalah ahli surga sementara kelompok lain adalah ahli neraka. Klaim-klaim seperti ini, tegas gamal, sama saja merampas hak Allah.”

Beberapa kritik

            Secara spesifik, Gamal Al-Banna melancarkan kritik terhadap kalangan eksklusif dan fuqaha radikal. Pertama, kritik terhadap kalangan eksklusif yang gemar mengkavling surga. Terkait hal ini, Gamal sepaham dengan Syaikh Abd al-Mut’al al-Sa’idi, yang mempunyai pendapat bahwa bisa jadi non-Muslim yang masuk surga. Mengapa demikian? Adalah benar bahwa Alquran tegas mengatakan bahwa yang pantas masuk neraka hanyalah orang kafir yang membangkang setelah mengetahui kebenaran Islam. Namun, non-Muslim yang tidak memeluk islam akibat stigmatisasi buruk dari kelompok Islam sendiri (seperti gejala Islamphobia di eropa), maka mereka tidak dikatakan kafir dan sangat mungkin masuk surga.

Jadi, yang hendak ditegaskan Gamal adalah bahwa justru dakwah yang salah dari segolongan kelompok ekstrimis inilah yang menjadikan citra Islam buruk dan menakutkan sehingga banyak orang yang enggan masuk Islam harus diberhentikan. Bukan malah dimusuhi. Sebab, tidak menutup kemungkinan juga kelompok merekalah yang justru masuk neraka. Sebagaimana yang ada dalam hadis:  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seseorang yang dimasukkan ke surga oleh amalnya.” Lalu ada yang bertanya: “Tidak pula engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak pula saya, kecuali Tuhanku melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Muslim). Jadi, orang kafir yang sungguh-sungguh mempelajari Islam tetapi meninggal dunia terlebih dahulu sebelum masuk Islam akan mendapat ampunan dari Allah. Maka, jangan mengotak-otak surga.

Baca Juga:  Muslim, Pribumi Tapi Bukan Warga Negara

Kedua, kritik terhadap fuqaha radikal. Bahwa ulama ini mewajibkan memerangi non-Muslim atas kekafiran mereka. Fuqaha radikal gemar melancarkan kebencian terhadap orang kafir dan mewajibkan peperangan sampai mereka masuk Islam. Terkait hal ini, Gamal menjelaskan bahwa semua ayat Alquran tentang perintah perang dilakukan ketika Islam mendapatkan tekanan dari pihak luar sehingga menjadikan jiwa Muslimin terancam, maka disitulah wajib berperang (Masduqi: 2011).

Nah, ada pemikiran yang dapat dijadikan teladan dan diterapkan oleh Muslim, khususnya di Indonesia, yakni terkait inklusvisme. Bahwa gamal Al-Banna menganjurkan agar kaum Muslim tidak merendahkan kelompok lain karena belum tentu lebih baik dibandingkan non-Muslim. Bagi orang Indonesia, teologi inklusifisme ini sangat relevan diterapkan. Terlebih saat ini jiwa primordialisme muncul dengan berlebihan sehingga kelompok lain mejadi sasarannya.

Cara berfikir Muslim inklusif adalah, bahwa kunci keselamatan bukanlah semata-mata status Muslim yang disandangnya. Keselamatan hanya dapat diperoleh dengan iman, taqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan melakukan amal baik. Oleh sebab itu, sebelum mengkafir-kafirkan orang lain, lihat dulu diri kita sendiri: apakah sudah beriman kepada Allah dengan benar dan telah beramal baik? Jangan-janngan kita belum sampai tahap itu. Wallahu a’lam bi al-shawab.

*Muhammad Najib, peneliti Senior Monash Institute Semarang, Dosen STEBANK Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta.


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.