25.1 C
Jakarta

Belajar Bijak Bermedia Sosial dari Kasus Eko Kuntadhi

Artikel Trending

KhazanahTelaahBelajar Bijak Bermedia Sosial dari Kasus Eko Kuntadhi
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Pegiat media sosial Eko Kuntadhi, yang dikenal oleh netizen memiliki track record kurang baik dalam bermedia sosial akhir-akhir ini ramai dibicarakan oleh netizen muslim, khususnya warga NU. Hal ini bermula pada cuitan yang diposting oleh Eko Kuntadhi, sebuah potongan ceramah dari Ning Imaz Fatimatuz Zahra, dengan keterangan (caption) kasar dan menghina.

Cuitan tersebut banyak mendapatkan respon. Bahkan meskipun dihapus oleh Eko, netizen sangat menyayangkan apa yang sudah dilakukan Eko dalam cuitannya itu. Apalagi secara sanad keilmuan, Ning Imaz memiliki otoritas keilmuan agama yang cukup cakap di bidangnya. Berasal dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, ia merupakan puteri dari pasangan almaghfurlah KH Abdul Khaliq Ridwan dan Nyai Hj Eeng Sukaenah. Dari garis keturunan, Ning Imaz merupakan cucu Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Jampasy, pengarang kitab Siraj ath-Thalibin. Berdasarkan hal itu, Ning Imaz merupakan sosok penghafal Qur’an dan ahli fiqih. Secara kemampuan fiqih, Ning Imaz dalam setiap kajiannya selalu menyasar anak muda dan menjadi salah satu figur panutan dalam pemahaman agama.

Banyak sekali gugatan yang datang kepada Eko, termasuk sikap yang ditampilkan oleh Gus Rifqil Muslim Suyuti, suami ning Imaz. Bagaimana melihat peristiwa ini?

Pendakwah dan sikap tabayyun

Posisi Gus Rifqil selaku suami ning Imaz, sangat tegas melihat kasus ini. Apalagi, kalimat yang dilontarkan oleh Eko, benar-benar kalimat hinaan secara personal kepada istrinya. Selain itu, ia menampilkan sikap yang patut dicontoh oleh generasi muda sebagai pelajaran dalam bermedia sosial. Salah satu sikapnya tersebut adalah meminta Eko untuk bertemu sebagai sikap tabayyun serta konfirmasi dari postingan yang sudah ramai di media online.

Sikap tabayyun merupakan sikap memcari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas dan benar keadaannya. Karena media sosial adalah ruang yang terbatas, maka sangat wajar, apabila Gus Rifqil meminta untuk bertemu Eko dengan aalsan sikap tabayyun tersebut. Sikap tabayyun ini yang kadang luput dari kita ketika mengetahui informasi secara singkat dari seseorang. Hal tersebut yang sangat perlu kita contoh dari Gus Rifqil ketika mendapatkan informasi singkat dari seseorang, tidak reaktif

BACA JUGA  Khilafatul Muslimin: Taktik Licik yang Bergerak Seolah-olah Pancasilais

Sementara itu, ning Imaz, selaku orang yang sudah dihina oleh Eko Kunthadi, menanggapi dengan cuitan sebagai berikut:

“Minta maafnya jangan ke saya. ke imam ibnu katsir, ke umat se indonesia yg sakit hati agamanya dihina2,” tulis Ning Imaz dalam akun twitter pribadinya, @ImazzFat.

Respon Ning Imaz menjadi salah satu contoh yang cukup bijak sebagai seorang pendakwah. Melihat respon tersebut, kita bisa melihat kebijaksanaan seorang pendakwah ketika sisi personalnya diserang. Jawaban yang dilontarkan bukan membela, tapi dijawab secara santun, tidak menghina dan tidak menyinggung orang yang menghina. Selayaknya seorang pendakwah, Ning Imaz menunjukkan sikap bersahaja sebagai seorang pendakwah di media sosial. Tentu saja, ini menjadi pelajaran para ustaz-ustaza yang suka marah-marah ketika dihina dan direndahkan oleh orang lain sehingga menampilkan sikap kurang elok ketika berhadapan dengan penghinaan seperti halnya kelompok sebelah, dikit-dikit kriminalisasi ulama.

Berdasarkan kasus ini pula, kiranya cukup menjawab dengan jelas bahwa, ilmu dan akhlak yang dimiliki oleh seseorang akan tampil sangat bersahaja di tempat manapun. Sekalipun ada orang lain yang menghina sisi personalnya, tidak berpengaruh terhadap kemolekan akhlak yang dimiliki.

Media sosial adalah ruang jihad

Media sosial adalah ruang jihad yang siapapun bisa berjihad di dalamnya. Berbuat baik untuk kemashlahatan umat, sangat bisa. Sebaliknya, apabila digunakan untuk mengadu domba, menyebar hoax dan menebar kebencian, juga sangat bisa. Kegunaan media sosial tergantung dari penggunanya. Tidak perlu susah payah untuk ke Suriah supaya bisa berjihad. Sebab dengan media sosial, kita bisa menebar kebaikan di ruang yang tidak terbatas.

Jika jihad diartikan sebagai upaya untuk mencapai kebaikan, maka media sosial bisa menjadi ladang kebaikan kita semua. Menyebar informasi positif, tidak mengadu domba, tidak menghina orang lain, juga menjadi bagian dari jihad. Dengan demikian, yang perlu kita perhatikan adalah, pemanfaatan media sosial harus kita gunakan untuk berbuat baik serta tidak lupa etika dalam bermedia sosial. kalau kita merasa tidak menguasai ilmu agama, jangan ikut komentar, apalagi menghina orang yang berilmu. Itu namanya kita tidak memiliki etika. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru