26.2 C
Jakarta

Beginilah Hukum Shalat Sambil Memakai Sandal

Artikel Trending

Di zaman nabi dahulu, pelaksanaan shalat sambil menggunakan sandal lumrah terjadi. Pasalnya, masjid kala itu tidak berlantai ubin seperti masjid-masjid di zaman sekarang. Sehingga para sahabat selalu menggunakan alas kaki (sandal) di manapun berada, termasuk di tempat-tempat ibadah mereka seperti masjid. Dan sering kali dijumpai mereka tidak melepaskan sandalnya saat melaksakan sholat. Di samping, rasulullah juga pernah melakukan hal demikian. Diriwayatkan dari abu Maslamah Sa’id bin Yazid, beliau berkata:                                             سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ قَالَ نَعَمْ

“Aku bertanya kepada Anas bin Malik, ‘Apakah nabi SAW pernah shalat memakai sandal?’ beliau menjawab, ‘Ya’” (hr. al-bukhari no. 386).

Bahkan, para sahabat juga pernah sholat bersama rasulullah sambil menggunakan sandal. Diriwayatkan dari Sa’id al-Khudzri:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ ، فَخَلَعَ النَّاسُ نِعَالَهُمْ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ : لِمَ خَلَعْتُمْ نِعَالَكُمْ ؟ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، رَأَيْنَاكَ خَلَعْتَ فَخَلَعْنَا، قَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ بِهِمَا خَبَثًا، فَإِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقْلِبْ نَعْلَيْهِ فَلْيَنْظُرْ فِيهِمَا خَبَثٌ، فَإِنْ وَجَدَ فِيهِمَا خَبَثًا فَلْيَمْسَحْهُمَا بِالأَرْضِ، ثُمَّ لِيُصَلِّ فِيهِمَا

“Sesungguhnya, rasulullah melepas sandalnya saat shalat. Kemudian para makmum pun melepas sandal mereka. Ketika selesai shalat, nabi bertanya, ‘Mengapa kalian melepas sandal-sandal kalian?’ para sahabat menjawab, ‘Wahai rasulullah, kami melihat engkau melepas sandal, maka kami pun mengikuti engkau.’ ‘(Sedangkan aku,) sesungguhnya jibril mendatangiku dan mengabarkanku bahwa pada kedua pasang sandalku terdapat najis. Maka jika salah seorang dari kalian mendatangi masjid, hendaknya melihat bagian bawahnya apakah terdapat najis. Jika ada maka usapkan sandalnya ke tanah, lalu shalatlah menggunakan kedua sandal itu’”.

BACA JUGA  Hukum Memperingati Hari Ibu Dalam Islam

Kalau begitu, agar shalat dianggap absah maka sandal yang digunakan harus suci. Lantas, bagaimana seandainya baru tahu saat shalat sedang berlangsung bahwa sandal yang sedang dipakai ada kotoran (barang najis) maka ia harus segera membersihkannya dengan cara menggosok-gosokkan sandalnya ke tanah secara perlahan (sekiranya tidak dianggap gerakan yang banyak).

Dan menurut sebagian ulama, tujuan disyari’atkannya shalat sambil memakai sandal adalah sebagai kemudahan (rukhshah) saat ada hajat. Seperti ketika shalat di luar bangunan, ketika di lapangan, ketika di perjalanan, ketika lantai sangat dingin dan semisalnya yang memang dibutuhkan kemudahan untuk shalat memakai sandal. Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathur Baari (1/494),

BACA JUGA  Hukum Merayakan Tahun Baru Dalam Islam

قَالَ بن بَطَّالٍ هُوَ مَحْمُولٌ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِمَا نَجَاسَةٌ ثُمَّ هِيَ مِنَ الرُّخَصِ كَمَا قَالَ بن دَقِيقِ الْعِيدِ لَا مِنَ الْمُسْتَحَبَّاتِ لِأَنَّ ذَلِكَ لَا يَدْخُلُ فِي الْمَعْنَى الْمَطْلُوبِ مِنَ الصَّلَاةِ

“Ibnu Batthal menyebutkan bahwa maksud dibolehkannya memakai sandal ini adalah selama tidak ada najis pada sandal tersebut. Dan ini merupakan rukhshah (kemudahan), sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Daqiq Al-Ied. Sehingga bukan sesuatu yang mustahab (dianjurkan), karena hal ini tidak termasuk hakikat yang dituju dari shalat.”

As’ad Humam

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru