27.6 C
Jakarta

Beginilah Geliat Tafsir di Barat

Artikel Trending

Asas-asas IslamTafsirBeginilah Geliat Tafsir di Barat
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Dalam pembahasannya, tafsir selalu disandingkan dengan takwil. Sebagian kelompok ada yang memaknai tafsir sama dengan takwil. Sarjanawan muslim yang termasuk dalam golongan ini adalah al-Zarqani. Ia menyatakan, bahwa takwil adalah istilah yang mutaradif (sinonim) dengan tafsir. Sedangkan, sebagian kelompok lain menyatakan bahwa tafsir dan takwil adalah istilah yang sama sekali berbeda. Al-Raghib al-Isfahani misalnya. Dalam kitabnya yang berjudul Mufradat Alfadz Al-Qur’an, ia menyatakan bahwa tafsir adalah istilah yang lebih umum daripada takwil. Al-Raghib mengimbuhi, bahwa istilah tafsir lebih banyak digunakan ketika membahas lafadz. Sedangkan, istilah takwil banyak digunakan ketika membahas makna (lihat, Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhith, 2010

Dalam kajian yang lebih luas, tafsir juga dibandingkan dengan terjemah. Meskipun kajian ini masih dibilang jarang daripada kajian yang membahas tentang tafsir dan takwil. Namun, kajian mengenai tafsir dan terjemah ternyata juga menimbulkan beberapa reaksi dikalangan para ulama. Wahbah al-Zuhaili misalnya, dalam al-Tafsir al-Munir nya, ia menyatakan bahwa terjemah bukanlah bagian dari Al-Qur’an, melainkan bagian dari tafsir (lihat, Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir, t.t. ). Sedangkan, cendekiawan ahli bahasa, Ibn Mandzur juga menyatakan hal yang senada dengan al-Zuhaili. Dalam Lisan al-Arab nya, Ibn Mandzur menyatakan bahwa terjemah adalah al-mufassir li al-lisan yang berarti penafsir lisan (lihat, Ibn Mandzur, Lisan al-Arab, 2010). Dari argumen ini, penulis berpijak bahwa ketika berbicara tentang penerjemahan, berarti sama halnya dengan berbicara tentang tafsir.

Sejarah Penerjemahan Al-Qur’an di Barat

Pertengahan perang Salib yang berlangsung kurang lebih 3 abad lamanya, ternyata memberikan peluang bagi umat Kristiani untuk melakukan kajian terhadap kitab suci umat Islam yang dinilai dapat memajukan umat Islam dari berbagai aspek, termasuk pengetahuan. Akhirnya, pada pertengahan abad ke-12 M, seorang Biara Cluny bernama Petrus Venerabilis berkunjung ke Toledo guna menyampaikan sebuah visi kepada para pakar terjemah untuk menerjemahkan teks-teks Arab kedalam bahasa latin yang nantinya proyek ini dinamai dengan Cluniac Corpus. Menurut Taufik Adnan Amal, proyek ini dimaksudkan menjadi bekal bagi para misionaris dalam mendalami kajian keislaman (lihat, Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, 2011).

Satu abad berselang, seorang pendeta yang bernama Monte Croce, juga meneruskan perjuangan pendahulunya, Petrus Venerabilis untuk menerjemahkan Al-Qur’an. Akhirnya, lahirlah sebuah terjemah Al-Qur’an yang lahir dari tangannya dan diberi nama Anti Alcoran Machometi yang kini dimuseumkan di museum Britanica. Dominasi Islam yang semakin menguat di Eropa Timur, tepatnya di Konstantinopel (Istanbul) menyiutkan nyali umat Kristiani untuk melawan Islam dari segi militer. Akhirnya,  Juan Alfonsi, seorang orientalis Spanyol mendapatkan cara untuk menghancurkan Islam dari jalan lain, yakni dengan cara menerjemahkan Al-Qur’an kedalam bahasa latin. Cara ini, menurutnya merupakan cara yang paling efektif untuk melemahkan Islam yang saat itu sedang dalam kondisi terbaiknya (lihat, Irwan Masduqi, Qur’anic Studies di Eropa, t.t.).

Di Swiss, terjemahan Al-Qur’an yang dihasilkan dari tangan Petrus kemudian di edit dan dicetak ulang oleh orientalis Swiss yang bernama Theodor Buchmann. Namun, editan dari Buchmann ternyata kurang diapresiasi sarjana Al-Qur’an lainnya, seperti Erpinius dan Voux. Mereka memandang, bahwa hasil editan Buchmann banyak menyimpang dari kaidah bahasa Arab. Dari kasus ini juga akhirnya lahir anggapan bahwa Buchmann merupakan orientalis yang pengetahuan bahasa Arab nya tidak terlalu baik. Dua abad berikutnya, seorang orientalis Inggris yang bernama George Sale berhasil menerjemahkan Al-Qur’an kedalam bahasa Inggris yang dinamai dengan The Coran Commonly Called Alcoran of Mohammed. Menurut para sarjanawan yang menggeluti kajian Al-Qur’an, hasil terjemahan Sale ini merupakan kajian yang objektif. Sebab, Sale mempertimbangkan hasil terjemahannya dengan pengetahuan, salah satunya adalah dengan mengakui kenabian Muhammad (lihat, Irwan Masduqi, Qur’anic Studies di Eropa, t.t.).

Menimbang Kajian Orientalis

Usaha yang dilakukan oleh orientalis dalam mengkaji khazanah keislaman, khususnya penerjemahan terhadap Al-Qur’an terus membuahkan hasil. Paling tidak, usaha yang diinisiasi oleh Petrus Venerabilis ini menjadi model percontohan bagi orientalis yang hidup di era setelahnya. Namun, perlu ditinjau ulang, bagaimana efektivitas kajian orientalis terhadap Al-Qur’an. Pertama, berkaca dari argumentasi yang menyatakan bahwa motif utama penerjemahan Al-Qur’an ini adalah mencari titik lemah umat Islam menjadi sebuah masalah tersendiri. Problemnya, penerjemahan yang harusnya memperhatikan rambu-rambu dam seni menterjemah, terkadang kurang diperhatikan. Terjemahan Theodor Buchmann misalnya. Hasil terjemahannya itu, kurang diapresiasi oleh sarjana lain. Lantaran, Buchmann ternyata tidak memiliki modal bahasa Arab yang bagus.

Kedua, penerjemahan Al-Qur’an kedalam bahasa asing yang dilakukan oleh para orientalis kini membuahkan hasil. Hal ini dibuktikan dengan banyak beredarnya terjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa di dunia, seperti : Korea, Inggris, Jepang, Latin, Spanyol dan lain-lain. Tentu, produk terjemahan Al-Qur’an ini menjadi pembantu penduduk suatu bangsa dalam memahami Al-Qur’an. Paling tidak, membantu masyarakat non-Arab (khususnya) dalam mencari makna dari sebuah lafadz yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Di akhir kesimpulan, penulis ingin menyampaikan bahwa disatu sisi kajian yang dilakukan oleh orientalis terkadang menuai kontroversi. Namun, disisi lain, ternyata kajian yang dilakukan oleh orientalis ternyata juga memberikan dampak yang positif bagi manusia, terkhusus bagi mereka yang memeluk agama Islam. Seperti terjemahan Al-Qur’an dalam berbahasa Inggris yang sekarang mulai banyak tersebar diberbagai belahan dunia.

Rahmat Yusuf Aditama, Ponpes Merah Putih, UIN Sunan Kalijaga

 

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru