28 C
Jakarta

Begini Ternyata Alasan FPI Dibubarkan Pemerintah

Artikel Trending

Pembubaran FPI masih menjadi kontroversi. Ada yang setuju. Ada pula yang tidak setuju. Terlepas dari kontroversial ini penting untuk diperhatikan alasan orang yang setuju dengan pembubaran yang dilakukan oleh pemerintah.

Alasan mendasar dibubarkannya FPI dapat dilihat dari argumentasi yang disampaikan eks-returnis ISIS Pebriansyah dan mantan napiter Syahrul Munif. Mereka melihat FPI pantas dibubarkan karena satu alasan: radikalisme.

Apa itu radikalisme? Terus bagaimana ciri-cirinya? Radikalisme itu paham yang diwarnai dengan mindset yang tertutup dan aksi-aksi kekerasan. Sedangkan, ciri-cirinya, sebut Habib Husein Jakfar Al-Hadar, mencakup 3 hal: 1- takfiri (mengkafirkan orang lain), 2- menjadikan aksi-aksi kekerasan sebagai solusi, dan 3- meletakkan kepentingan politik di atas nilai-nilai kemanusiaan.

Tiga ciri radikalisme tersebut jelas tergambar dalam tubuh FPI. Dengan mindset yang tertutup FPI mudah mengklaim orang lain yang tidak sepaham dengan orang kafir. FPI tidak segan-segan melakukan aksi-aksi kekerasan semisal sweeping dan demonstrasi terhadap tempat-tempat yang dianggap maksiat, dan berpolitik dengan berlindung di balik instrumen agama.

Meletakkan politik di atas nilai-nilai kemanusiaan sungguh membahayakan banyak orang. Akibat dari kekejaman tangan FPI, orang baik seperti Ahok harus mendekam di dalam penjara. Tapi, karma tidak memandang siapapun. Banyak orang FPI yang harus mendekam dalam penjara akhir-akhir ini. Sebut saja, pendiri FPI Habib Rizieq Shihab, Habib Bahar bin Smith, Ahmad Dhani, dan beberapa yang lain.

Perjalanan FPI ke depan semakin tidak sehat. FPI yang pada mulanya sebagai organisasi keagamaan seperti halnya NU dan Muhammadiyah, kini FPI berganti wajah. FPI sudah mulai (bahkan sudah) berpolitik. FPI secara tidak langsung menelanjangi nilai-nilai agama demi kepentingan kelompok. FPI sudah menjual agama Islam demi menggapai apa yang diinginkan.

BACA JUGA  Islam Tidak Disebarkan dengan Amarah

Karena itu, Gus Dur sudah gelisah sejak beliau masih hidup melihat gerak FPI yang tidak manusiawi. Gus Dur bahkan punya impian membubarkan FPI. Senangnya, impian Gus Dur tercapai pada akhir tahun 2020 di mana FPI berakhir di tangan Menkopolhukam Mahfudh MD, seorang politikus kebanggaan Gus Dur.

Sikap yang diambil oleh pemerintah termasuk sesuatu yang paling baik dan bijak. Pemerintah ingin menyelamat Indonesia dari gempuran radikalisme. Negara Suriah hancur karena radikalisme. Indonesia sebagai negara pluralistik hendaknya dijaga dari radikalisme. Karena, jika radikalisme berkuasa, akan terjadi pertumpahan darah antar sesama warga Indonesia yang berbeda, mulai perbedaan pemikiran sampai perbedaan agama.

BACA JUGA  Tidak Selamanya Salah yang Menghina Nabi

Siapapun yang masih belum setuju dengan keputusan pemerintah hendaknya lebih sering refleksi agar suatu ketika datang hidayah yang mampu menyadarkannya. Mereka yang pro-FPI sesungguhnya masih berada dalam jerat jahiliyah karena dibodohi oleh pemikiran FPI. Ingat, FPI itu bukan terorisme, tapi FPI dapat mengantarkan seseorang menjadi teroris. Menjadi teroris jelas dilarang dalam Islam.

Islam dengan namanya mencintai perdamaian. Perdamaian ini akan tercipta dengan tegaknya persatuan, hadirnya pemikiran yang terbuka, dan tidak gampang mengkafirkan orang lain. Perdamaian ini benar-benar terlihat pada masa Nabi di mana negara tumbuh dan berkembang tanpa radikalisme.

Sebagai penutup, penting diingat bahwa FPI dibubarkan karena motif politik yang tidak sehat. FPI telah meletakkan politik di atas nilai-nilai kemanusiaan. Hal itu tidak boleh dan tentunya melanggar ajaran Islam yang meletakkan nilai-nilai kemanusiaan di atas segalanya.[] Shallallah ala Muhammad

Khalilullah
Khalilullah
Lulusan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru