31.7 C
Jakarta

Banyak Followers, Haruskah Itu Menjadi Syarat Seorang Penulis?

Artikel Trending

KhazanahLiterasiBanyak Followers, Haruskah Itu Menjadi Syarat Seorang Penulis?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Zaman semakin maju dan berkembang pesat. Kecanggihan teknologi semakin ke sini semakin memanjakan kehidupan kita dan membuat segalanya terasa menjadi lebih mudah. Kiwari, media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram, seolah menjadi hal yang harus dipunyai oleh setiap orang.

Selain sebagai sarana berinteraksi dan bersilaturahmi dengan teman dan kerabat yang jauh, juga menjadi sarana yang sangat efektif untuk melancarkan usaha atau bisnis. Lewat media sosial, para pelaku bisnis dapat mempromosikan produknya dengan mudah, murah, dan efisien.

Termasuk orang-orang yang menekuni dunia kepenulisan. Para penulis di era sekarang juga dituntut memiliki akun media sosial untuk membantu mempromosikan karya-karyanya. Bahkan saat ini, jumlah followers menjadi salah satu persyaratan ketika kita ingin menerbitkan buku di penerbit mayor. Saya mengatakan hal ini karena baru-baru ini saya mengalaminya sendiri.

Jadi ceritanya begini, pada bulan Maret 2020 naskah nonfiksi karya saya di-ACC oleh sebuah penerbit mayor di daerah Jakarta. Katanya, naskah tersebut akan diterbitkan. Namun sebelum terbit, terlebih dahulu saya diminta untuk melengkapi (bila memang ada hal-hal yang ingin saya revisi atau kelengkapan lain) naskah tersebut. Karena saya merasa sudah lengkap, maka saya pun membalas lewat email bahwa naskah sudah lengkap.

Namun ternyata, hingga berbulan-bulan lamanya naskah tersebut tak kunjung diterbitkan. Ditambah lagi kondisi negeri ini tiba-tiba dihantam krisis akibat pandemi yang datang tanpa diundang. Mungkin karena banyaknya toko buku yang tutup efek pandemi, penerbit terpaksa mengurangi jumlah buku yang hendak diterbitkan.

Singkat cerita, karena merasa naskah saya digantung, pada tanggal 27 Agustus 2021 saya memutuskan untuk menghubungi pihak penerbit melalui email. Saya jelaskan semuanya dan tak berselang lama kemudian saya langsung mendapatkan balasannya. Pihak penerbit, sebut saja si B, meminta maaf karena terlalu lama menunggu.

Sekaligus menjelaskan bahwa dia tak dihubungi oleh, sebut saja si A yang meng-ACC naskah saya dulu, mengenai naskah yang sudah diterima tersebut. Selanjutnya, saya diminta untuk mengisi form proposal perencanaan buku, untuk kepentingan didiskusikan di forum redaksi. Singkatnya, form proposal tersebut akan menentukan apakah naskah saya layak terbit ataukah tidak.

Saya pun segera mengunduh form proposal tersebut. Ternyata isinya sederet pertanyaan dan pernyataan yang menurut saya cukup rumit dan memusingkan. Misalnya, saya disuruh menjelaskan tema buku dan mengapa saya memilih tema tersebut, apa sesuai dengan tren saat ini, apa saja manfaat yang bisa diperoleh pembaca setelah membaca buku saya.

Selain itu menjelaskan target pembaca primer dan sekunder, bonus apa yang hendak saya berikan untuk pembaca, dan lain sebagainya. Selain itu, saya juga diminta menuliskan link dan jumlah follower media sosial yang saya miliki dan keaktifan (engagement) follower. Aduh, semakin bertambah puyenglah saya, mengingat jumlah followers akun Instagram saya baru 2000-an.

BACA JUGA  Read Aloud, Pembiasaan Budaya Baca Sejak Kecil

Setelah saya mengisi form proposal tersebut, saya segera mengirimkan ke pihak penerbit. Saat mengirim, jujur saya merasa pesimistis dan tak yakin bakal diterima. Dan, dugaan saya menjadi kenyataan. Ketika saya mendapat balasan, naskah tersebut memang ditolak alias gagal diterbitkan dalam bentu fisik (cetak).

Namun saya masih diberi sebuah kesempatan oleh pihak penerbit. Jika saya berkenan menerbitkannya dalam bentuk ebook, pihak penerbit akan mengurusnya. Saya langsung menolak karena menurut saya ebook masih kurang diminati dan nilai jualnya rendah. Saya merasa sebagian buku yang terbit dalam format ebook seperti terkesan asal-asalan, misalnya dalam pembuatan covernya.

Kembali ke persoalan jumlah followers yang, di era sekarang, secara tidak langsung menjadi salah satu syarat diterbitkannya naskah kita oleh pihak penerbit. Saya sangat memaklumi dan menyadari bila media sosial seperti Instagram, dapat menjadi sarana promosi buku-buku karya kita. Namun, mencari banyak followers tentu butuh waktu. Bisa sih, secara cepat dengan cara membeli followers sebagaimana diiklankan di media sosial.

Tapi saya sama sekali tak berminat untuk melakukannya, karena selain terkesan menipu, juga efeknya kurang terasa. Buat apa memiliki followers ribuan bahkan jutaan tapi yang menyukai (nge-like) dan mengomentari postingan kita hanya seratus orang bahkan kurang? Lagi pula, komentar mereka juga bukan menjadi penanda tertarik membeli karya-karya kita, bukan?

Oke. Memiliki banyak pengikut di media sosial memang perlu bahkan menjadi keniscayaan bagi seorang penulis yang ingin menerbitkan bukunya. Namun, menurut saya, hal tersebut juga bukan “jaminan” karya kita akan diminati oleh para pengikut kita, terlebih ketika karya kita masih kurang bagus, bahkan kurang layak untuk diterbitkan.

Artinya, ketika kita ingin menaikkan jumlah followers maka harus disertai dengan menaikkan kualitas karya-karya kita. Para pembaca yang sudah terlanjur kecewa dengan karya-karya kita sebelumnya, tentu tidak akan sudi membeli karya kita lagi. Karenanya, kualitas sebuah karya menjadi hal niscaya dan harus terus ditingkatkan.

Selain persoalan jumlah followers, sebenarnya ada hal yang lebih penting lagi yang harus diperhatikan oleh setiap penerbit, yakni keseriusan untuk mempromosikan buku-buku dari para penulis secara adil. Karena berdasarkan pengamatan saya selama ini, sebagian penerbit masih terkesan pilih kasih.

Hanya penulis-penulis tertentu, yang sudah punya nama besar, yang mendapat tempat istimewa di hati para penerbit. Buktinya, di media sosial seperti Instagram, penerbit tampak begitu gencar mempromosikan karya-karya penulis besar saja. Sementara penulis-penulis yang belum memiliki nama seolah dianaktirikan dan tak ada upaya serius untuk sesering mungkin mempromosikannya.

Kalau sudah begini, buku-buku yang bakal laris diserbu pembeli ya hanya buku-buku karangan penulis itu-itu saja. Iya, kan?

Sam Edy Yuswanto
Sam Edy Yuswanto
Bermukim di Kebumen, tulisannya dalam berbagai genre tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional, antara lain: Koran Sindo, Jawa Pos, Republika, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dll.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru