25.6 C
Jakarta

Bangkit Melawan Ideologi Transnasional Perusak NKRI

Artikel Trending

Milenial IslamBangkit Melawan Ideologi Transnasional Perusak NKRI
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap 20 Mei, tahun ini mengusung tema “Bangkit Untuk Indonesia Emas”. Tema tersebut mencerminkan spirit dan tekad bangsa Indonesia untuk bangkit dari segala tantangan, termasuk ancaman ideologi transnasional yang dapat merusak kedaulatan NKRI. Karena itu, refleksi terhadap Harkitnas menjadi krusial, yang tujuannya tidak lain adalah mengaktualisasi spirit kontra-transnasionalisme itu sendiri.

Penting dicatat bahwa, ideologi transnasional tidak pernah mengenal batas-batas nation-state dan kerap kali berusaha mengubah tatanan sosial-politik dan kultural suatu negara. Di Indonesia, ancaman itu datang dari berbagai arah, mencakup radikalisme agama, ekstremisme politik, dan gerakan separatis. Ideologi-ideologi tersebut berusaha menggantikan Pancasila dan mengubah bentuk NKRI sesuai dengan agenda mereka.

Radikalisme agama, misalnya, menyusup ke masyarakat melalui propaganda yang memanfaatkan ketidakpuasan sosial dan ekonomi dengan tuduhan sekularisme dan kapitalisme. Tujuannya, menciptakan mindset anti-nasionalisme di masyarakat dengan menanamkan ideologi-ideologi yang kontras dengan nilai-nilai Pancasila​. Artinya, jika ideologi transnasional bangkit, negara ini sedang menuju titik nadir kehancuran.

Sebaliknya, jika spirit untuk melawan ideologi transnasional yang bangkit, maka agenda transnasionalisme untuk merusak NKRI dapat teratasi sepenuhnya. Tentu saja, untuk melawan ideologi transnasional, pendidikan memainkan peran sentral: tidak hanya memberikan pengetahuan akademis tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Dari situlah, cita-cita “Indonesia Emas” akan tercapai dan ideologi transnasional akan musnah.

Tema Harkitnas “Bangkit Untuk Indonesia Emas” bukan sekadar slogan belaka, melainkan sebuah panggilan untuk bertindak. Seluruh elemen bangsa bersatu dalam melawan setiap ancaman yang datang dari ideologi transnasional. Harkitnas menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat komitmen tersebut, dengan memperkuat nasionalisme dan patriotisme sebagai landasan utama membangun masa depan bangsa.

Apa yang Harus Kita Bangkitkan?

Sebagai refleksi, kita mesti bertanya dan mengamati, apa yang tengah bangkit dari bangsa kita dan dengan apa kita harus merayakannya? Harkitnas adalah momentum di mana rakyat mulai menumbuhkan rasa kesadaran nasional sebagai ‘orang Indonesia’. Secara historis, ia ditandai dengan dua peristiwa penting, yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928).

Benih perjuangan terpupuk hari demi hari. Kemerdekaan yang dimimpikan seluruh rakyat semakin mendekati kenyataan. Rakyat bangkit melawan penjajah dengan spirit yang berlangsung dalam skala besar dan terus-menerus. Sekarang kita secara sadar harus kembali menyoal: apakah Harkitnas masih berjalan seperti eksistensi idealnya? Pertanyaan ini penting karena banyak alasan, salah satunya adalah semaraknya ideologi transnasional itu sendiri.

Jika faktanya tidak ada yang bangkit dari diri kita sebagai orang Indonesia, justru disuguhi fakta meningkatnya animo masyarakat terhadap ideologi transnasional, maka Harkitnas bisa disebut sebagai Hari Kebangkitan Transnasionalisme Nasional. Ini dalam rangka menyadarkan bahwa kita tidak sedang di ambang kemerdekaan, melainkan ambang perpecahan. Kelompok-kelompok HTI, umpamanya, atau bahkan Wahabi, justru menang di masyarakat.

BACA JUGA  Refleksi Hardiknas: Selamatkan Lembaga Pendidikan dari Wahabisme!

Dalam konteks itu, kesadaran kolektif menjadi tolok ukur kepulihan Harkitnas ke bentuk idealnya. Baik pemerintah maupun masyarakat harus sama-sama berbenah, mengembalikan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang semestinya. Ideologi transnasional—apa pun kelompoknya—sangat mengancam eksistensi NKRI di masa depan. Karena itu, yang harus kita bangkitlah adalah semangat melawan transnasionalisme secara kaffah.

Ideologi transnasional menyebarkan narasi yang membahayakan bagi NKRI. Mau dengan cara menghasut atau sekadar mengeluarkan aspirasi ke masyarakat, jika membahayakan persatuan negeri maka tetap harus dilawan. Masyarakat Indonesia perlu menyadari hal tersebut, lalu bersama-sama memperkuat persatuan dan kesatuan untuk melawan ideologi transnasional perusak NKRI. Itulah hakikat dari Harkitnas.

Memberantas Ideologi Transnasional

NKRI tidak kosong-kosong amat dalam urusan memberantas ideologi transnasional. Setelah HTI dibubarkan melalui Perppu Ormas, pada 2017 lalu, atau pelarangan FPI tiga tahun setelahnya, sebenarnya spirit melawan transnasionalisme itu sudah sangat kuat—bahkan menjadi agenda besar pemerintah. Harkitnas dalam arti kebangkitan semangat melawan ideologi transnasional bisa dilacak sejak era Reformasi.

Sebelum itu, para founding father memaknai Harkitnas sebagai spirit meraih dan mempertahankan kemerdekaan, membawa NKRI ke mata dunia, dan memperjuangkan kedaulatan negara agar bebas dari segala bentuk imperialisme. Harkitnas dalam makna seperti itu secara esensial sama dengan yang mesti dilakukan sekarang, yakni membawa Harkitnas pada spirit memberantas transnasionalisme.

Untuk tujuan itu, media keislaman yang fokus pada topik kebangsaan dan keagamaan mesti ambil peran yang besar. Ia harus aktif dalam kampanye publik untuk mempromosikan nilai-nilai Pancasila dan kebhinekaan melalui konten yang edukatif guna membentuk opini positif publik tentang negaranya sendiri. Media juga perlu andil dalam mengalau laju propaganda ideologi transnasional.

Selain itu, keterlibatan pemerintah melalui stakeholder terkait seperti BNPT—sebagai koordinator penanggulangan radikalisme—adalah sesuatu yang urgen. Regulasi, monitoring, dan penegakan hukum secara tegas bagi penebar ideologi transnasional mendesak untuk segera dirumuskan. Jika tidak, sekalipun organisasinya bubar, transnasionalisme akan bermetamorfosis ke dalam wujud yang lain.

Masyarakat Indonesia wajib menyadari bahwa Harkitnas bukan untuk perayaan twibbon belaka. Visi-misi “Indonesia Emas” mustahil tercapai jika ideologi transnasional masih semarak di negara ini dan meracuni masyarakat. Karena itu, semuanya harus bangkit dan menjadikan Harkitnas sebagai titik tolak kebangkitan itu sendiri. Bangkit untuk apa? Tidak lain adalah menyelamatkan NKRI dari rongrongan ideologi transnasional perusak negara.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Analis, Penulis

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru