28.4 C
Jakarta

Bahaya Laten Kekerasan

Artikel Trending

KhazanahResensi BukuBahaya Laten Kekerasan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Judul Buku: Menjadi Orang Tua Bijaksana, Penulis: Rimalia, Riawani Elyta, Risa Mutia, Penerbit: Indiva Media Kreasi, Cetakan: I, Maret 2020, Tebal: 224 halaman, ISBN: 978-602-495-291-4, Peresensi: Sam Edy Yuswanto.

Disadari atau tidak, selama ini masih banyak orang tua yang gemar melakukan tindak kekerasan terhadap anak-anaknya. Kekerasan yang dimaksudkan di sini tentu tak melulu bersifat fisik (non-verbal) semisal memukul anggota tubuh anak. Tetapi juga kekerasan yang bersifat verbal (kata-kata) yang menyakiti hati anak. Kekerasan yang dilakukan oleh orang tua pada anaknya tentu akan memberikan dampak buruk bagi tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikis, terlebih saat ia telah dewasa.

Memang, kekerasan yang bersifat verbal tak memberikan bekas luka pada anggota tubuh. Namun menorehkan luka hati yang begitu dalam dan bisa membuat anak mengalami kesedihan berkepanjangan dan trauma di kemudian hari. Irene Anindyaputri dalam laman hellosehat.com menulis, meskipun kekerasan verbal tidak meninggalkan bekas luka yang kasat mata, bentuk kekerasan ini sama menyakitkannya dengan kekerasan fisik. Sejumlah penelitian membuktikan korban kekerasan verbal bisa mengalami trauma psikologis yang serius.

Dalam buku berjudul “Menjadi Orang Tua Bijaksana” ini penulis mengungkap, pola asuh orang tua yang sering melakukan kekerasan atau pun serba permisif menyebabkan otak sang anak mengalami kerusakan atau pun tidak berkembang dengan baik. Sehingga, walaupun anak sudah remaja bahkan deawasa, ia tidak memiliki kemampuan tingkat tinggi dalam menganalisis berbagai hal yang menimpa dirinya.

Penulis melandasi keterangannya tersebut berdasarkan pengalaman saat mewawancarai seorang remaja akhir yang mendapatkan kekerasan seksual dari orang terdekatnya. Dalam proses wawancara, penulis melontarkan pertanyaan, “Nak, apakah kamu tahu bahwa tidak boleh membiarkan tubuhmu terutama tubuh paling privacy disentuh laki-laki apalagi yang bukan mahrammu?” Si remaja terdiam dan kemudian menggelengkan kepala. Kurangnya pengetahuan remaja tersebut tentang berbagai aturan dalam pergaulan akhirnya malah membuatnya menjadi pelampiasan objek kekerasan seksual [hlm. 132-133].

Kekerasan pada anak mestinya dapat dihindari bila orang tuanya memiliki pemahaman agama yang kuat dan mengerti tentang hukum, tugas, serta tanggung jawab yang harus dipikul dalam sebuah rumah tangga.

Sayangnya, selama ini masih banyak orang-orang yang melakukan pernikahan tanpa disertai pemahaman yang baik perihal tanggung jawab yang harus ditunaikan oleh pasangan suami istri. Termasuk bagaimana cara mendidik anak yang baik dan sesuai syariat. Parahnya lagi bila di kemudian hari hubungan suami istri tersebut mengalami ketidakharmonisan yang dampaknya secara otomatis berimbas kepada anak-anaknya.

BACA JUGA  Merubuhkan Eksistensi Terorisme dengan Nilai Kultural

Berdasarkan pengamatan penulis buku ini, orang tua yang merasakan pernikahannya tidak membahagiakan dan berbagai hal lainnya dapat membuat mereka merasa stres. Ketika orang tua tidak mampu memanajemen stresnya dengan baik, sering kali tanpa disadari mengeluarkan berbagai pernyataan negatif bahkan kemarahan.

Kondisi ini akhirnya bukan sekadar menjadi memori sesaat bagi otak anak. Juga bukan memeori jangka pendek, melainkan tersimpan sangat rapi dalam memori jangka panjangnya. Melekat erat dalam otak reptil mereka. Otak reptil ini begitu terasah dengan perjalanan waktu mereka. Pada akhirnya, anak-anak yang banyak merekam emosi negatif dan aktif otak reptilnya ini menjadi anak yang mudah sekali pemarah dan meledak-ledak jika sedikit saja merasakan konflik dalam hidupnya [hlm. 122].

Selain mengerti tentang tata cara mendidik anak yang baik dan sesuai ajaran syariat, orang tua juga perlu membekali dirinya dengan perasaan cinta dalam merawat dan mendidik anak-anaknya. Kita tentu sepakat bila cinta merupakan kebutuhan jiwa yang mestinya terus dipupuk dalam keseharian kita. Bila cinta telah tumbuh subur dalam jiwa, maka perilaku kita terhadap siapa pun, lebih-lebih terhadap anak dan saudara kita, akan semakin baik dan penuh kasih sayang.

Mendidik anak dengan emosi, terlebih saat anak melakukan kesalahan, hanya akan membuat jiwa anak terluka dan bisa jadi ia akan membenci orang tuanya. Inilah pentingnya orang tua memiliki tingkat kesabaran dan rasa cinta yang tinggi dalam mendidik anak-anaknya. Kepastian cinta dan kasih sayang adalah salah satu hak utama anak. Rasa dicintai membuat pertumbuhan intelektual, emosi, dan fisik anak berkembang dengan baik [hlm. 40].

Buku yang mendedah tentang dampak buruk yang diakibatkan oleh orang tua yang bersikap kasar pada anak ini layak dibaca. Sebagai salah satu rujukan penting bagi para orang tua dalam membimbing anak dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Menariknya, buku ini juga dilengkapi ulasan mengenai ragam persoalan yang kerap dialami oleh orangtua bersama anak-anaknya. Tentu saja, penulis juga berusaha menguraikan solusi atau jalan keluarnya. Selamat membaca dan mengambil manfaatnya.

 

Sam Edy Yuswanto, Penulis lepas tinggal di Kebumen. Tulisannya dalam berbagai genre tersebar di banyak media, lokal hingga nasional, antara lain: Koran Sindo, Jawa Pos, Republika, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dll.

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru