Bahaya Hoaks Jelang Pemilu


Harakatuna.com. Jakarta-Pemilihan Umum 2019 tinggal hitungan hari. Beberapa hari ke depan, pada 17 April 2019 masyarakat Indonesia yang di dalam negeri akan melangsungkan pemilihan akbar yang akan menentukan siapa Presiden dan Wakil Presiden serta anggota legislatif yang akan mewakili 269 juta penduduk negeri ini.

Menghadapi pemilu seperti saat ini ada sejumlah tantangan yang mesti diperhatikan dengan serius, antara lain adalah kabar bohong atau hoaks. Hoaks menjadi tantangan serius di masa Pemilu karena dapat mengancam kualitas demokrasi, bahkan dapat mendistorsi hasil pemilu.

Beredarnya berita bohong, perudungan (bully) siber, ujaran kebencian, kemarahan yang dibuat-buat, dan pembocoran data pribadi bisa menjadi bagian dari disinformasi dan malinformasi yang bisa mengacaukan akal sehat.

Ketua Umum Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, Dedy Permadi bahkan mengingatkan bahwa fenomena hoaks yang berbahaya ini bukan khayalan yang dibuat berlebihan. Beberapa negara pernah mengalami hal semacam ini.

“Bisa jadi penyebaran informasi tidak sehat ini menjadi strategi ‘operasi informasi’ pihak-pihak tertentu seperti halnya telah terjadi di beberapa kasus pemilu, misal di Amerika Serikat dan Brasil,” kata Dedy Permadi pada NU Online, Ahad (14/4).

Menghadapi tantangan semacam ini, Dedy mengimbau agar setiap tiap individu lebih berhati-hati terhadap informasi yang begitu mudah didapatkan. Menurutnya dalam informasi yang begitu massif seperti saat ini, ada kemungkinan yang cukup besar terjadinya distorsi informasi.

“Dalam banyak kasus hoaks, individu tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam pengaruh informasi yang terdistorsi. Inilah era ‘politik pasca-kebenaran’ atau post-truth yang ditopang oleh algoritma media sosial yang memunculkan ‘ruang gema’ atau echo chamber’. Kebohongan yang diulang-ulang lama kelamaan bisa dianggap sebagai kebenaran,” jelasnya.

Baca Juga:  Isu Umat Dizalimi Diembuskan Kelompok Khilafah

Proses ini terjadi dalam jejaring medsos dan pesan instan yang memungkinkan tiap pengguna hanya menyerap konten yang selaras dengan keyakinannya. Pengguna akan makin militan dengan keyakinan terhadap ‘kebenaran palsu’ itu, seiring dengan informasi-informasi salah yang diterima otaknya. “Dalam kasus ini, hoaks betul-betul bisa menjadi bencana,” katanya.

Hoaks sendiri oleh Kamus Cambridge (dictionary.cambridge.org) didefinisikan sebagai sebuah rencana untuk menipu seseorang atau sekelompok orang. Senada, kamus Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai suatu tindakan yang dimaksudkan untuk menipu.

Penerimaan konten berita-berita hoaks, ujaran kebencian dan konten negatif lain tak melulu berkaitan dengan kualitas pendidikan. Peneliti dari the Australian National University Ross Tapsell dalam sebuah kesempatan membantah bahwa negara dengan kualitas pendidikan yang maju akan terhindar dari bahaya hoaks.

“Buktinya hal semacam itu seperti hoaks, dan ujaran kebencian masih sering dipercaya di Amerika yang notabenenya sebagai negara maju,” kata Ross Tapsell pada NU Online dalam sebuah kesempatan.

Artinya pada dasarnya tidak ada negara yang sepenuhnya aman dari bahaya konten negatif termasuk hoaks yang beredar luas di Internet melalui jendela media sosial, platform chatting dan website.

Sementara itu, masyarakat Indonesia memiliki beberapa pandangan atau definisi yang berbeda tentang hoaks. Dalam survey yang digelar oleh masyarakat telematika Indonesia (Mastel) tahun 2019, hoaks didefinisikan sebagai beberapa hal berikut: Berita bohong yang disengaja, berita yang tidak akurat, berita yang menghasut, berita ramalan, berita yang menyudutkan pemerintah, dan berita yang menjelekkan orang lain.

Dari frekuensi jumlah berita hoaks yang diterima, kekhawatiran akan berita hoaks memang sangat wajar. Menurut survei yang sama sebanyak 34,60 persen masyarakat Indonesia menerima berita hoaks setiap hari, dan 14 persen lainnya mengaku menerima lebih dari satu kali dalam sehari. Sementara itu sebanyak 32 persen dan 18 persen mengaku mendapat informasi hoaks seminggu dan sebulan sekali, secara berurutan.

Baca Juga:  Ajaran Islam Transnasional Harus Ditangkal Sejak Dini

Sumber: NU Online


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.