25 C
Jakarta

Bagaimana Proses Radikalisasi Anak dalam Keluarga?

Artikel Trending

KhazanahTelaahBagaimana Proses Radikalisasi Anak dalam Keluarga?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- Kehadiran keluarga sebagai spektrum kuat dalam penyebaran radikalisme, menjadi perbincangan yang cukup menarik untuk kita ketahui. Bahwasanya, bisa dipastikan, ketika seorang perempuan (red: ibu) sudah terpapar radikalisme, maka seluruh keluarga akan ikut arus. Proses radikalisasi, khususnya penyebaran terorisme pada keluarga terhadap anaknya, perlu untuk dipahami agar bisa menjadi salah satu acuan dalam mendidik anak agar mencegah dari radikalisme.

Posisi superior seorang laki-laki dalam sebuah keluarga yang selama ini dijadikan sebagai acuan utama, doktrin agama selanjutnya menjadi senjata penguat agar perempuan juga sama-sama melanjutkan ghirah perjuangan para teroris. Dogma tersebut juga secara tidak langsung merayu perempuan untuk mendukung kegiatan-kegiatan teroris.

Dengan demikian, budaya patriarkhis dengan dukungan tafsir misoginis menjadi salah satu penyebab utama keterlibatan perempuan ikut andil dalam gerakan-gerakan terorisme.

Proses radikalisasi yang berlangsung

Pertama, pra radikalisasi. Pada tahap ini, seorang anak dalam sebuah keluarga menjadi tahap pertama yang dilakukan. anak-anak diajarkan tentang konsep tauhid, keislaman, kehidupan yang dijadikan cerminan, Orang tua sebagai madrasah pertama, memiliki peran penting bagi keberlangsungan pertumbuhan seorang anak dalam menentukan hidup. termasuk ketika pembentukan karakter. Jika orang tuanya sudah terpapar radikalisme, maka hal tersebut akan disalurkan, serta diwariskan utuh kepada sang anak.

Kedua, identifikasi diri. Setelah mendapatkan berbagai pandangan, serta pelajaran dari orang tua. Seorang anak akan mengkonsumsi pandangan tersebut. ia mulai mencari jati dirinya, memikirkan tentang kehidupan, serta perilaku yang ditampilkan akan sejalan dengan apa yang diberikan oleh orang tua.

Ketiga, indoktrinasi. Tahap ini, seorang anak dimasukkan diberikan madrasah, pendidikan atau dimasukkan pada sebuah yayasan yang mendukung terhadap ajaran yang diberikan dalam keluarganya. Dalam konteks ini, anak-anak diperkuat dengan pemahaman yang diperoleh dari orang tuanya. Keyakinan atas kebenaran ajaran yang diberikan oleh orang tuanya, semakin diperkuat dengan adanya lembaga pendidikan. Sehingga anak-anak semakin menguat dengan pemahaman yang diberikan.

Keempat, jihadisasi. Tahap ini, seorang anak sudah mantap untuk memilih jalan seperti keluarganya, baik ibu ataupun ayahnya. Anak-anak dengan pengalaman belajar dan pemahaman yang sudah diproses, siap sedia ikut jejak ayah dan ibunya untuk melakukan pengeboman.

BACA JUGA  Penyakit Radikalisme Pada ASN: Musuh Bersama, Harus Dilawan Bersama!

Hal tersebut bisa dilihat pada sebuah kasus yang dialami istri Abu Hamzah yang akhirnya memilih meledakkan diri bersama dengan anaknya, menjadi bukti bahwa apa yang dilakukan oleh mereka sudah memasuki tahap jihadisasi. Sampai pada tahap tersebut, mereka sudah mengalami tahap-tahap sebelumnya.

Keluarga! Ayah dan ibu harus aktif terlibat perkembangan anak

Berdasarkan penjelasan diatas, kiranya bagaimana proses radikalisasi berlangsung jika orang tuanya tidak terpapar radikalisme? Tahapan diatas, sebenarnya sama terjadi kepada anak yang memiliki orang tua tidak terpapar radikalisme.

Dalam konteks ini, media sosial berperan besar terhadap berlangsungnya tahapan-tahapan yang sudah dijelaskan. Seorang anak akan mengalami kekecewaan, kegalauan yang luar biasa dan membutuhkan obat bathin, salah satunya yakni pengajian agama. Ruang kosong ini kemudian ini ia menggunakan media sosial untuk mencari kenyamanan, ataupun ikut dengan pengajian-pengajian yang menjawab atas kegelisahan yang dialami, proses tersebut dinamakan pra- radikalisasi.

Proses identifikasi, indoktrinasasi hingga jihadisasi bisa perannya dilakukan oleh kehadiran media sosial sebagai basis penyebaran kuat virus radikalisme, tidak hanya itu, ustaz dan para ustazah yang sudah didatangi untuk mengikuti pengajian tersebut, terus menjadi informasi yang cukup berarti kepada seorang anak. Melalui hal tersebut, anak akan tergiur dengan penjelasan yang cukup menarik, hingga reward-reward yang dijanjikan.

Dengan informasi tersebut, dapat dipahami bahwa proses radikalisasi pada seorang anak hari ini banyak difasilitasi oleh media sosial. Berselancar di media sosial pada seorang anak, harus dipantau secara langsung oleh orang tua. Sebab anak-anak dengan kemampuan literasi yang rendah, tingkat bacaan yang masih rendah, sangat rentan untuk menjadi sasaran radikalisme.

Orang tua harus ikut andil dalam pencegahan radikalisme terhadap anak. Sebab orang tua adalah pelindung bagi anaknya, muara kasih seorang anak, agar ia bisa menebar kasih sayang kepada khalayak. Media sosial akan menjadi alat yang mematikan kepada anak, jika orang tua tidak bisa mengontrol aktifitas anak dalam berselancar di media sosial. Wallahu a’lam

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru