30.1 C
Jakarta

Bagaimana Kemerdekaan Perempuan di Tangan Taliban?

Artikel Trending

KhazanahTelaahBagaimana Kemerdekaan Perempuan di Tangan Taliban?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com Sekelumit kisah negara Afghanistan di tangan Taliban semakin memperkeruh kekhawatiran negara Indonesia dengan kegencaran semangat islamisme yang utuh bagi para pengusungnya. Setelah AS menyatakan diri hengkang dari negara tersebut, perayaan Taliban atas kuasa pada negara Afghanistan sudah digelar. Kini, Taliban itu sudah berkuasa sepenuhnya.

Berbagai ancaman dan ketakutan tentu muncul dari masyarakat Afghanistan itu sendiri, termasuk kemerdekaan perempuan yang saat ini dipertanyakan oleh berbagai kelompok. Jika Taliban kemarin berjanji bahwa pada kepemimpinannya saat ini akan sangat berbeda pada tahun 90-an, hal itu dibuktikan dengan kebebasan perempuan untuk mengenyam pendidikan, serta boleh untuk berkarir dalam ranah publik.

Meskipun demikian, apakah ini menjadi bukti bahwa perempuan sudah benar-benar merdeka di tangan Taliban?

Kebijakan Perempuan di Tangan Taliban

Taliban sudah memperbolehkan perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi, akan tetapi tidak boleh campur antara laki-laki dan perempuan. Kebijakan ini seperti pendidikan pesantren yang biasa kita temukan di Indonesia. sangat kita apresiasi dengan berbagai sisi fanatisme keislaman yang dimiliki oleh Taliban. Dengan demikian, apakah kebijakan tersebut kemudian menyebabkan kampus di Afghanistan seperti pesantren di Indonesia?

Bagaimana posisi perempuan Afghanistan dalam karir politik di pemerintahan? Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid belum bisa memastikan keterlibatan perempuan dalam susunan kabinet pemerintah di bawah kuasa Taliban.

Perempuan di Ranah Publik dalam Perspektif Islam

Islam sangat memuliakan perempuan dalam berbagai ranah, diantara berbagai term yang dibahas, yakni: pertama, hak mendapatkan pendidikan. dalam surah Al-Ahzab:35 dijelaskan bahwa Islam menganjurkan anak-anak baik laki-laki atau pun perempuan berperan mendapatkan Pendidikan sebaik-baiknya. Dalam hadis yang terdapat pada sahih Bukhari juga menjelaskan bahwa:

“Siapa saja yang mempunyai anak perempuan, lalu ia mengajari dan mendidiknya secara baik, maka anak itu akan menjadi tabir yang melindungi dari neraka.

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa melihat bahwa Islam sangat memuliakan manusia tanpa melihat jenis kelamin seseorang. Perempuan berhak memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam dirinya. Meningkatkan skill yang ada pada dirinya serta berusaha melihat berbagai aspek sempurna dalam diri perempuan melalui kebebasannya untuk mengenyam pendidikan.

Kedua, hak berkarir. Dalam QS. An-Nahl ayat 97 dijelaskan, yang artinya:

BACA JUGA  Membaca Gerakan Kelompok Muslim Urban Menengah Atas: Jualan Lembaga Hingga Kaderisasi Khilafah

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami  beri balasan dengan pahala yang lebih baik baik dari apa-apa yang telah mereka kerjakan”.

Menurut Hamka, ayat ini menjelaskan bahwa dalam melakukan amal salih dan iman, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan dan kesempatan yang sama. Masing-masing sama-sama sanggup untuk berbuat baik. Oleh karena itu, laki-laki dan perempuan sama-sama dijanjikan oleh Tuhan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Dengan demikian, selagi pekerjaan tersebut tidak keluar dari ajaran Islam, maka hal tersebut tidak dilarang. Dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an tidak melarang perempuan dalam melakukan aktivitas pekerjaan yang dipilihnya, selagi perempuan itu melakukan perannya dengan baik (sesuai dengan ketentuan Agama Islam).

Ketiga, hak mengemukakan pendapat. Islam juga memberikan hak kepada perempuan untuk berpendapat dan dimintai pendapat. Hal ini berdasarkan pada dialog Rasulullah dengan Khawlat binti Tsa’lab, ia mengadukan kepada Rasulullah perihal suaminya (Aus bin al-Samit) yang telah menziharnya, yang kemudian turunlah empat ayat pertama dari surat al-Mujadalah:

“Sungguh Allah telah telah mendengar ucapan wanita yang berdialog denganmu tentang suaminya, dan ia mengadu kepada Allah. Allah mendengar percakapan kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat….”

Berdasarkan ayat tersebut, dapat kita pahami bahwa Islam sangat menjunjung hak perempuan dalam memberikan pendapat, mendengarkan berbagai saran serta menjadikan saran tersebut sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Keempat, hak berpolitik. Pada masa Rasulullah, kita melihat banyak sekali perempuan tampil di depan publik dengan berbagai kemampuan yang ada pada dirinya tak terkecuali berbagai aspek kehidupan masyarakat. Hal ini dibuktikan pada zaman Rosulullah tercatat 1.232 perempuan yang menerima periwayatan hadis.

Bahkan Ummul Mukminin Aisyah ra tercatat sebagai salah satu dari tujuh bendaharawan hadis. Khadijah binti Khuwailid ra terkenal sebagai perempuan yang sukses dalam berdagang, Zainab, istri Rasulullah menyamak kulit dan hasilnya disedekahkan. Zainab, istri Mas’ud dan Asma’ binti Abu Bakar keluar rumahnya mencar nafkah untuk keluarganya. Berdasarkan perspektif ini, bagaimana Taliban memberikan kebebasan bagi perempuan? wallahu a’lam

 

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru