Bagaimana Kelompok Radikal Memahami Al-Qur’an?


0
46 shares

Al-Qur’an diyakini sebagai kitab suci agama Islam. Keyakinan ini menggiring seseorang berkesimpulan, bahwa kitab ini suci dari segala bentuk kekurangan, bahkan bersumber langsung dari Allah. Namun, kesempurnaan ini kadang enggan disikapi dengan cara pandang yang arif. Banyak pemeluk agama Islam yang berlebihan mengkultuskan Al-Qur’an sehingga secara tidak sadar mereka “memborgol” kebebasan Al-Qur’an berinteraksi langsung dengan perkembangan sosial.

Saat kebebasan dirampas, Al-Qur’an menjadi tertutup, terpenjara, bahkan tidak hidup. Pesan-pesan yang terkandung di dalamnya tidak tersampaikan, hikmah-hikmah yang tersirat di balik teks sirna bagai tetesan embun yang dikibas angin dahsyat, bahkan masa depannya suram tanpa secercah makna yang mencerahkan. Dalam kondisi seperti ini Al-Qur’an bak binatang yang tak berakal, tak berpengetahuan, dan tak tentu arah.

Al-Qur’an itu pada hakikatnya baik dan menghidangkan aneka hikmah dan pembacanya yang arif akan mendapatkan pentunjuk (Al-Baqarah/2). Al-Qur’an adalah teks (nash) yang tidak dapat berinteraksi langsung tanpa perantara pembaca (reader). Maka, dengan demikian, peran pembaca begitu urgen dalam membawa Al-Qur’an, sehingga masa depannya secara tidak sadar ada di tangan pembacanya sendiri. Seorang pembaca yang bijak akan mengantarkan Al-Qur’an memancarkan pesan-pesan yang menggugah hati manusia, sebaliknya pembaca yang picik bakal menggiring Al-Qur’an membutakan mata hati manusia.

Pembaca yang membawa Al-Qur’an pada ranah negatif disebut Neo-Zahiriyyah. Mereka termasuk bagian dari pembaca yang mewarisi kejumudan lahiriah masa lampau. Ada beberapa ciri Neo-Zahiriyah dalam memahami teks, yaitu: Pertama, memahami teks secara literal (harfiah) dan kaku, tanpa melihat ilat dan maqasid di balik teks. Kedua, cenderung keras (tasyaddud), mempersempit, dan berlebihan (guluw). Ketiga, menganggap diri paling benar, sementara yang lain salah. Keempat, intoleransi terhadap perbedaan pendapat atau pandangan. Kelima, berburuk sangka dan bahkan mengkafirkan pandangan yang berbeda. Demikian kurang lebih yang tersebut dalam buku Damai Bersama Al-Qur’an.

Pada era klasik semenjak Ali bin Abi Thalib (599-661) memerintah, Neo-Zahiriyah adalah kelompok Khawarij, penentang keputusan arbitrase (tahkim) antar Ali dan Muawiyah. Khawarij berpandangan bahwa hukum yang sebenarnya bukan apa yang diputuskan oleh Ali, melainkan apa yang sudah terekam dalam Al-Qur’an, karena yang terbentang dalam Al-Qur’an adalah keputusan dari Allah yang Maha Mengetahui. Sejatinya, yang kurang keliru adalah cara mereka menyikapi teks secara harfiah. Padahal, dalam teks itu sendiri tersimpan pesan tersurat (ma’na haqiqi) dan pesan tersirat (ma’na majazi). Dua pesan ini berbeda, sekalipun bersumber dari satu objek yang sama.

Baca Juga:  3 Cara Agar Anak Cinta Al-Qur’an

Pada era berikutnya, sikap Neo-Zahiriyyah dikembangkan oleh radikalisme modern. Sebut saja, Wahabi atau Salafi yang didirikan oleh Muhammad Abdul Wahab (1703-1792), Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang didiriakan oleh Abu Musab al-Zarqawi (1966-2006), atau Hizbut Tahrir yang didirikan oleh Taqiyyuddin an-Nabhani (1909-1977). Beberapa kelompok ini memiliki jejak sejarah tragis dan menyedihkan. Wahabi cenderung mengkafirkan, membid’ahkan, bahkan mensyirikkan seseroang yang tidak murni dalam berinteraksi dengan Tuhannya, semisal tawasul, maulid Nabi Muhammad, dan ziarah kubur.

ISIS memiliki tekad mendirikan khilafah, sebuah negara yang dikuasai satu pemimpin keagamaan dan politik menurut hukum Islam dan syariah. Adapun Hizbut Tahrir memiliki visi yang sama dengan ISIS, yakni membentuk khilafah Islam atau negara Islam. Sebab, khilafah itu, bagi mereka, dinilai islami, sebaliknya sistem kepemerintahan dan hukum negara disebut kufur dan tidak sesuai dengan syariah Islam.

Gaya pemikiran ISIS, HTI, dan Wahabi persis dengan pemikiran Khawarij, sehingga ada yang menyebutkan mereka adalah Khawarij era modern. Dalam istilah yang sederhana, isinya sama, hanya bungkusnya berbeda. Al-Qur’an sejatinya tidak cukup dipahami secara harfiah, karena cara seperti ini termasuk sikap yang sempit. Buktinya, Al-Qur’an menyangkal sistem khilafah yang ditawarkan kelompok radikal tersebut: Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat). (QS. Hud [11]: 118). Pesan Al-Qur’an benar, bahwa khilafah bukan mempersatukan, melainkan menyulut api perselisihan.

Penting, pembaca Al-Qur’an bersikap arif dalam memahami pesan-pesan yang tersurat dan tersirat di dalamnya, sehingga Al-Qur’an membumi dan relevan (shalih) di setiap tempat dan waktu. Cara yang terbaik dalam memahami Al-Qur’an menggunakan sebuah metode yang, bagi al-Qardhawi, disebut dengan manhaj wasathi (metode moderat). Metode moderat ini mengarahkan pembaca menengahi di antara pemahaman literal yang berlebihan membatasi teks dan pemahaman liberal yang mengutamakan akal dibandingkan wahyu. Selain itu, metode moderat menekankan pemahaman yang komprehensif (menyeluruh) dalam memahami Al-Qur’an, bukan secara parsial (sepotong-sepotong). Sebab, pemahaman yang komprehensif akan mengantarkan pada pemahaman yang sempurna, karena ayat yang satu dengan ayat yang lain memiliki keterikatan pemahaman (munasabah).

Baca Juga:  Membumikan Al-Qur'an di Tengah Masyarakat

Thus, Al-Qur’an hanya sebuah teks, tidak bisa berbicara langsung dengan audiens. Hanya seorang pembaca yang akan mengantarkan pesan-pesan Al-Qur’an. Masa depan Al-Qur’an ada di tangan para pembacanya. Seharusnya pembaca bersikap arif, tidak terlalu literal sehingga cenderung ekstrem, dan tidak terkesan liberal sehingga tidak terkendali. Bersikaplah secara moderat, karena itu yang paling baik. Wallah A’lam bi ash-Shawab!


Like it? Share with your friends!

0
46 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
1
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
2
Suka
Khalilullah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti Pendidikan Kader Mufasir (PKM) Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) Jakarta