34.4 C
Jakarta

Bagaimana Cara Memulai Sebuah Tulisan?

Artikel Trending

KhazanahLiterasiBagaimana Cara Memulai Sebuah Tulisan?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Salah satu hal yang kadang menyulitkan penulis untuk menulis adalah memulai tulisan, atau lebih tepatnya menyusun kalimat atau paragraf pembuka sebuah tulisan. Problem kalimat atau paragraf pembuka adalah problem yang membuat penulis merasa bahwa mereka sedang tidak bisa menulis.

Beberapa pertanyaan yang muncul di benak penulis saat itu antara lain: sudah ada ide yang menarik untuk ditulis, tapi bagaimana cara mulai menuliskannya? Kalimat apa yang cocok untuk membuka tulisan dengan ide seperti ini? Apakah tulisan pembuka seperti ini sudah menarik pembaca?

Problem seperti itu jamak ditemui oleh penulis, terutama penulis pemula. Namun, jarang ada yang yang sadar bahwa saat mengalami kebingungan seperti itu, mereka sebenarnya bukan sedang tidak bisa menulis. Mereka bukan sedang tidak bisa menyusun kata-kata, juga bukan sedang tidak memiliki ide.

Mereka sebenarnya bisa menyusun beberapa kata meski hasilnya tidak menarik pembaca. Itupun menurut diri si penulis sendiri. Yang mereka alami sejatinya adalah problem bagaimana membuat tulisan pembuka yang menarik menurut diri mereka sendiri.

Tips Membuat Tulisan Pembuka

Ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk menciptakan sebuah tulisan pembuka. Beberapa di antaranya:

Pertama, tulisan pembuka tidak melulu soal basa-basi dalam menyampaikan sebuah ide. Tulisan pembuka bisa saja langsung menuju ke pokok permasalahan. Semisal ingin menulis tentang dampak virus covid-19 pada perokonomian masyarakat desa, bisa diawali dengan kalimat: “Di desa yang saya tempati, beberapa pengusaha kecil harus rela tidak memperoleh pemasukan dan terancam bangkrut”.

Lalu, kalau ide pokok sudah di tulis di awal, apa yang bisa di tulis untuk paragraf isi?

Perlulah diingat, tidak berbasa-basi dalam menuliskan sebuah ide bukan berarti menuliskan seluruh ide di tulisan pemuka. Tulisan pembuka di atas hanyalah sebuah gambaran dari gagasan besar dampak virus corona pada perokonomian masyarakat desa. Paragraf isi bisa saja diisi dengan gambaran lain yang mempunyai perbedaan cukup besar dengan gambaran yang pertama. Atau dengan memperinci serta mengulas pro kontra terkait gagasan besar tersebut.

Kedua, tulisan pembuka tidaklah harus kalimat datar yang jauh dari kata perintah serta kutipan. Tulisan pembuka bisa saja kata perintah atau kutipan. Kutipan sendiri bisa dari ucapan orang, petikan buku atau majalah, atau ayat dari kitab suci. Dan ini berlaku pada artikel semacam opini maupun sastra semacam cerpen.

Tulisan pembuka dalam artikel cerpen berupa kutipan dapat berbentuk seperti:
“Jangan gampang marah! Jangan gampang marah! Jangan gampang marah!” ucapan itu pernah dipesankan Nabi Muhammad pada salah satu sahabatnya. Ucapan itu pula yang ingin aku pesankan pada anakku, andai ia tiba-tiba ingin meminta wasiyat dariku sebelum aku mati.

BACA JUGA  Kualitas Ok, Kenapa Tulisan Masih Ditolak Media Online?

Ketiga, tulisan pembuka dapat berupa pengandaian. Yakni mengajak pembaca mengandaikan semisal dirinya mengalami seperti apa yang dialami oleh orang yang diceritakan dalam tulisan tersebut. Tulisan pembuka semacam ini dapat berbentuk seperti:

Bisa kita bayangkan andai kita seorang anak berumur 15 tahun, ditinggal mati sang ibu, ayah menikah lagi, dan keluarga sekitar mengucilkan kita, perasaan apa yang berkembang di pikiran dan perasaan kita? Itulah yang mungkin dialami oleh …..

Keempat, tulisan pembuka dapat berupa penceritaan akan suatu fakta yang dialami si penulis. Ini seperti:

Tidak seperti yang diberitakan oleh beberapa media masa, kenyataannya tetangga saya yang mengembalikan BLT sebab pandemi Covid-19 mengembalikan bantuan yang ia terima tidak sebab karena ada yang lebih berhak. Namun, sebab di sekitarnya banyak yang masuk kategori berhak menerima, tapi tidak menerima. Tetangga saya itu merasa malu dan memilih mengembalikannya, meski sebenarnya ia masuk dalam kategori berhak menerima bantuan tersebut.

Kelima, kalimat pembuka tidak selalu berurusan dengan prilaku manusia. Bisa juga berupa suara atau prilaku hewan, atau suara benda mati seperti:

“Pyar!” suara pecahan gelas menggema di ruang tamu. Ia seakan menjadi lonceng pembuka perang mulut antara ayah dan ibu. Melempar suatu benda mencari ciri khas kemarahan yang tidak bisa ditahan oleh mereka.

Keenam, hal-hal tidak masuk akal yang ditemui lewat mimpi atau terbersit tiba-tiba. Hal ini seperti baru mengalami mimpi konyol dapat membaca pikiran layaknya tokoh Film X-Men; Charles Francis Xavier atau Profesor X. Pengalaman ini dapat menjadi kalimat pembuka seperti:

Mungkin bila saya dapat membaca pikiran layaknya Profesor X di Film X-Men, saya dapat meminimalisir kekisruhan akibat unjuk rasa baru-baru ini. Hal ini dengan memanfaat mesin pembaca pikiran dan mencari tahu siapa profokator kekisruhan tersebut. Namun, yang saya takutkan mereka bergerak ….

Penutup

Beberapa hal yang dapat kita garis bawahi tentang membuat tulisan pembuka adalah, seringkali yang membuat kita sulit membuat tulisan pembuka adalah anggapan bahwa yang hendak kita tulisan tidaklah menarik. Padahal tidak menarik menurut kita belumlah tentu tidak menarik menurut orang lain.

Maka ada baiknya kita meletakkan urusan menarik atau tidaknya awal tulisan pada tahap revisi setelah menyelesaikan tulisan saja. Sebab kadang menyelesaikan sebuah tulisan seringkali dapat memberikan kita asupan ide baru untuk membuat tulisan pembuka.

Mohammad Nasif
Mohammad Nasif
Lulusan Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru