Ayat-Ayat Puasa dalam Al-Qur’an (4)


-2
22 shares, -2 points

Ayat-Ayat Puasa dalam Al-Qur’an (4)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Beberapa hari yang ditentukan untuk berpuasa itu adalah Bulan Ramadan yang diturunkan di dalamnya permulaan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk serta pembeda antara yang hak dan yang batil. Oleh karenanya siapa di antara kalian yang hadir di negeri tempat tinggalnya dan menyaksikan hilal bulan itu, maka hendaknya ia berpuasa pada bulan itu. Siapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan, maka ia tetap wajib berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari lainnya. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kesukaran bagi kalian. Hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian supaya kalian bersyukur. QS al-Baqarah [2]: 185

Ayat ini setidaknya mempunyai beberapa poin pembahasan:

Pertama, antara Ramadan, al-Quran dan puasa. Ketiganya mempunyai kaitan erat. Di samping sebagai waktu pelaksanaan puasa, bulan Ramadan juga menjadi waktu turunnya wahyu pertama yang diterima Nabi Besar Muhammad saw di Gua Hira. Para ulama berbeda pendapat mengenai tanggal nuzûl al-Quran. Ada yang berpandangan al-Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadan dengan berlandaskan QS al-Anfal [8]: 41, yakni saat meletusnya perang Badar.

Sementara yang lain yakin bahwa al-Quran turun pada malam lailatul qadar berdasarkan QS al-Qadr [97]:1 dan QS al-Dukhan [44]:3, pendapat kedua inilah yang dinilai lebih kuat. Selanjutnya al-Quran –menurut ayat ini- mempunyai tiga fungsi; a. pedoman hidup manusia, b. penjelas, c. pembeda antara yang hak dan yang batil.

Baca Juga:  DPD HTI Sulsel Mangkir dari Forum Dialog Nasional

Kedua, orang yang wajib berpuasa. Kewajiban berpuasa itu mulai dilaksanakan saat hilal (bulan sabit) Ramadan bisa disaksikan. Saat itu puasa wajib dilaksanakan bagi orang yang menyaksikan hilal dan siapapun yang percaya dengan munculnya hilal dengan catatan mereka sedang di rumah dan tidak bepergian.

Ketiga, pengulangan penggalan ayat yang memberikan izin kemudahan bagi orang-orang yang berada dalam kondisi di luar normal yakni orang sakit dan musafir. Pengulangan penggalan ayat ini mempunyai fungsi penegasan bahwa keringanan itu ada meskipun pada lanjutan menyatakan jika berpuasa itu lebih baik. Hal ini bertujuan agar menghilangkan kesan desakan dari Allah swt dalam penggalan ayat, berpuasa lebih baik.

Keempat, memprioritaskan prinsip kemudahan. Allah swt memberikan kemudahan bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah salah satunya adalah puasa. Mengingat puasa merupakan ibadah yang cukup berat untuk dilaksanakan lebih-lebih lagi bagi orang sakit dan musafir. Nabi saw pun juga memprioritaskan kemudahan dibanding kesukaran, permudahlah kalian janganlah persulit (HR al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

Kelima, penyempurnaan bilangan. Ada dua penafsiran dalam poin ini. Pertama, menyempurnakan bilangan puasa yang ditinggalkan untuk diganti pada hari-hari selain Ramadan sehingga jumlahnya sempurna satu bulan. Kedua menyempurnakan bilangan hari-hari puasa hingga menjadi satu bulan penuh.

Keenam, pengagungan Allah swt. Ada dua kemungkinan maksud pengagungan di sini. Pertama, mengagungkan Allah swt dengan bertakbir saat malam hari raya Idul Fitri selepas melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Kedua, mengagungkan Allah swt dalam rangka bersyukur atas taufik dan pertolongan-Nya saat menjalankan ibadah puasa.

Ketujuh, mencapai tingkatan syukur. Apapun yang telah diberi oleh Allah swt mulai dari keberkahan al-Quran, kemuliaan Ramadan, kemudahan dalam menjalankan puasa patut disyukuri. Sehingga selain mengajarkan menjadi insan bertakwa, puasa juga membimbing manusia menjadi insan yang pandai bersyukur. Wallahu Aʻlam []

Baca Juga:  Kandungan Al-Qur'an dan Hadis

 

Baca: Ayat-Ayat Puasa dalam Al-Qur’an (3)


Like it? Share with your friends!

-2
22 shares, -2 points

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
3
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.