30.3 C
Jakarta
Array

Ayat-Ayat Puasa dalam Al-Qur’an (1)

Artikel Trending

Ayat-Ayat Puasa dalam Al-Qur'an (1)
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Secara bahasa puasa menurut Al-Ashfihani berarti menahan diri dari bertindak baik makan, bicara maupun yang lainnya. Sehingga tidak heran jika kata puasa digunakan untuk mengilustrasikan berhenti dari tindakan yang sehari-hari dilakukan, sebagai contoh pemain bola ini mampu mengakhiri ‘puasa’ golnya.

Istilah ‘puasa gol’ berarti sudah lama tidak mencetak gol yang biasanya ia lakukan. Sehingga puasa dalam konteks ini bermakna konotatif (makna kedua), meskipun jika dirunut dalam bahasa asalnya –bahasa Arab- makna ini masuk dalam makna pertama yakni menahan atau berhenti dari tindakan yang sehari-hari dilakukan.

Al-Quran sebagai sumber utama ajaran Islam telah menyebutkan puasa tidak lebih dari 13 kali. Dari ketiga belas tempat yang tersebar dalam al-Quran, puasa disebut dengan berbagai bentuk kata. Dua kali berbentuk kata kerja (verb) pada QS al-Baqarah [2]: 184 & 185; satu berbentuk kata kerja perintah (fiʻl amr) dan yang lain berbentuk kata kerja waktu sekarang dan yang akan datang (fiʻl mudlhâriʻ).

Sedangkan kata benda (noun) disebutkan sebanyak 11 kali (QS al-Baqarah [2]: 183 / 187 & 196, QS al-Nisâ’ [4]: 92, QS al-Maidah [5]: 89 & 95, QS Maryam [19]: 26, QS al-Mujadalah [58]: 4, QS al-Ahzab [33]: 35); rinciannya sembilan kali berbentuk (mashdar) kata benda abstrak. dan dua kali berbentuk kata benda pelaku (ism fâʻil). Insya Allah kesemua redaksi puasa dalam al-Quran ini akan diulas satu persatu secara berseri.

Jamak diketahui, puasa dalam bahasa Arab berarti al-shawm dan al-ashiyâm. Keduanya merupakan kata kerja yang dibendakan atau singkatnya kata benda abstrak (mashdar). Menurut al-ʻAskari al-Furûq al-Lughawiyah, perbedaan antara al-shawm dengan al-ashiyâm ada dalam niat. Al-ashiyâm berarti menahan dari yang membatalkan atas dasar niat. Sementara al-shawm menahan dari yang membatalkan dan bicara. Bisa jadi keterangan ini merupakan kesimpulan dari ayat-ayat puasa yang disebutkan dalam al-Quran. Sebab al-Quran saat mengibaratkan ibadah puasa lebih memilih menggunakan redaksi al-ashiyâm. Sedangkan kata al-shawm hanya digunakan sekali itu pun saat menceritakan Maryam yang sedang bernazar untuk puasa bicara;

      إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Sungguh aku bernazar puasa (diam) karena Allah Maha Pengasih; pada hari ini aku tidak akan berbicara dengan manusia” (Qs Maryam [19]: 26)

Menurut al-Qurthubi redaksi al-shawm yang ditafsirkan dengan diam –sebagaimana riwayat Ibnu Abbas- masih memiliki keterkaitan yang cukup kuat dengan ibadah puasa pada umumnya. Sebab menurut Kanjeng Nabi Muhammad saw orang berpuasa itu harus menjaga lisannya dari berkata keji dan kotor meskipun orang lain mencaci dan mengganggunya (HR. al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud dari Abu Hurairah). Allah swt pun tidak butuh dengan puasa orang yang tidak mau menjaga omongannya (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Bahkan hampir semua hal yang dapat membatalkan pahala puasa itu disebabkan karena tidak bisa memelihara lidah seperti bohong, menggosip, adu domba, dan bersumpah palsu (HR. Abu Dawud dari Anas bin Malik). Akhirnya menjalankan ibadah puasa itu tidak hanya dengan menahan diri dari makan minum, dan berhubungan badan saja, namun juga menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang sering kita lakukan sehari-hari yakni bicara. Bersambung []

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru