27.3 C
Jakarta

Awal Mula Menjadi Teroris: Salah Pengajian Sangat Fatal Dibandingkan Salah Tongkrongan

Artikel Trending

KhazanahTelaahAwal Mula Menjadi Teroris: Salah Pengajian Sangat Fatal Dibandingkan Salah Tongkrongan
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

“lebih baik salah tongkrongan, daripada salah tempat pengajian” kalimat ini lalu bertebaran di linimasa media sosial, menyusul dengan meningkatnya berbagai temuan yang mencengangkan dari berbagai penangkapan teroris yang selama ini  menjadi buronan oleh densus 88. Fenomena pembahasan teroris menjadi marak belakangan ini setelah berbagai kejadian yang tidak terduga kembali menuai perdebatan panjang.

Pembahasan semakin pelik ketika berbagai penemuan yang mencengangkan terus bergulir. Mulai dari temuan mantan FPI yang menjadi teroris, kotal amal yang menjadi senjata para teroris untuk terus bertahan hidup, hingga perilaku para teroris yang tidak dapat ditebak oleh masyarakat, dan tetangga.

Pada umumnya, orang-orang yang terlibat dalam aksi terorisme sangat sulit berinteraksi dengan orang lain, mereka bersifat eksklusif dengan berbagai hal lain, tidak akrab dengan tetangga, serta individualis. Tak heran, jika ada seseorang yang ditangkap atau terlibat dalam aksi terorisme, tetangga tidak mengenal terlalu jauh akan sosok tersebut.

Namun anehnya, bagaimana jika seorang teroris ternyata sangat interaktif dengan masyarakat, peduli dengan tetangga dan memiliki solidaritas tinggi dalam bermasyarakat? Tentu tidak akan percaya jika ada tetangga kita ternyata adalah teroris.

Teroris susah ditebak

Apa yang sudah disampaikan oleh penulis diatas, nyatanya terjadi pada sosok Nouval Farisi yang masuk daftar pencarian orang (DPO) oleh densus 88. Nouval Farisi bukanlah orang yang menyendiri, introvert, eksklusif ataupun individualis seperti para teroris lainnya. Akan tetapi, ia justru memiliki solidaritas tinggi kepada masyarakat, memiliki hubungan erat dengan keluarganya, bahkan ia aktif di karang taruna ditempatnya.

Ini artinya, kita tidak bisa mengklaim seseorang mudah terlibat pada aksi teroris atau tidak. Sebab selama ini, teroris yang dikenal dengan sikap menyendiri biasanya, bisa jadi ia sebaliknya, dekat dengan masyarakat tapi tetap saja terlibat pada lingkaran terorisme.

Lalu, apa sebenarnya yang melatarbelakangi Nouval terlibat dalam aksi terorisme? Dilansir dari CNN.com, Nouval belakangan ini mengikuti pengajian-pengajian di daerah Condet, Jakarta Timur kepada seorang Habib, yang namanya belakangan ini masuk daftar teroris.

Ini yang menjadi fatal dari kalimat awal dalam tulisan ini. Salah pengajian ternyata berakibat pada mindset yang terbangun pada diri seseorang. Sebab yang dibawa seusai pengajian adalah hasil dari pemikiran, berbentuk ideologi, berbentuk pemahaman, yang sangat sulit untuk dirubah, tidak seperti merubah kopi pahit menjadi manis.

BACA JUGA  Anti Golput: Perlawanan Terhadap Pemerkosa Demokrasi

Hati-hati memilih pengajian

Agama sebagai tatanan kehidupan manusia, dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga hal ini menjadi penting untuk dipelajari oleh seluruh umat beragama, khususnya umat muslim.

Salah satu upaya untuk memahaminya adalah dengan mengikuti berbagai forum kajian, mengikuti pengajian. Bisa diartikan bahwa, sikap keberagamaan seseorang dapat dilihat dari siapa gurunya, bagaimana ia belajar, kitab apa saja yang menjadi rujukan, tafsir apa yang dipelajari. Melalui hal tersebut, kita bisa mengetahui ekspresi keberagamaan pada dirinya.

Maka, ketika seseorang memilih untuk menjadi teroris, atau masuk dalam pusaran terorisme, bisa dilihat dari pengajian yang diikuti, kiai yang menjadi guru dan ornag-orang yang mendukung terhadap pemikirannya tersebut.

Melihat dari apa yang dialami oleh Nouval, bisa dikatakan bahwa banyak orang yang terlibat dalam aksi-aksi terorisme dikarenakan salah memilih pengajian. Produk dari pengajian pasti tidak lepas dari hasil tafsir tentang jihad yang bertebaran dari berbagai pengakuan mantan teroris. Hal ini membuat para (calon) teroris merasa terlena dengan balasan syurga.

Menurut Aksin:2021, apa yang disampaikan oleh para penganut terorisme ini tidak lepas dari pemahaman 3 unsur tauhid, yakni: uluhiyah, rububiyah dan sifatiyah, mereka menjadikan tauhid uluhiyah sebagai representasi Islam yang dinilai dengan semua inti ajaran nabi. Secara sederhana, pada tauhid uluhiyah, bermakna hanya Allah Swt yang berhak disembah, manusia harus mengabdi secara murni kepadaNya sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, tidak boleh menambah ataupun mengurangi.

Dengan demikian, segala produk yang diciptakan oleh manusia, itu artinya adalah bentuk kekafiran yang amat jelas. Sebagai contoh, sistem demokrasi. Bagi para teroris, ini adalah bentuk kekufuran yang amat jelas, maka tuduhan jahiliyah, toghut menjadi konsumsi yang sering dilontarkan dan menjadi alasan mengapa aksi pengeboman tersebut dilakukan karena apa yang dilakukan oleh lingkungan/masyarakat nyatanya tidak sesuai dengan ajaran Islam yang dipahaminya.

Ini bahayanya jika kita tidak bisa memilih dan memilah guru ngaji, pengajian. Apalagi dengan banyaknya forum-forum pengajian yang membuat tertarik. Nyatanya yang semula ingin mendapat pahala, justru malah sebaliknya. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Aktivis perempuan. Bisa disapa melalui Instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru