Aswaja sebagai Solusi Pembaharuan


0
13 shares
M. Fakhruddin Al-Razi

Islam memiliki misi yang sangat mulia, yaitu sebagai rahmat bagi alam semesta. Hal ini akan berlaku bagi semua makhluk tanpa terkecuali. Terutama manusia sebagai sosok yang secara resmi dibebani tugas-tugas untuk menjadi khalifah di muka bumi. Konsekuensi yang harus diterima adalah ajaran Islam secara otomatis akan tergambar dan termanifestasi dalam segenap tindak-tanduk manusia. Maka, sukses dan tidaknya misi Islam akan sangat bergantung pada sikap manusia. Sebab Islam sebagai sebuah pedoman dan manusialah pelaksananya.

Sebagai sebuah pedoman yang akan difungsikan oleh banyak orang, maka sudah seyogyanya Islam (lebih tepatnya pemahaman terhadap Islam) harus lebih fleksibel baik dalam situasi dan kondisi apapun. Tidak hanya itu, yang lebih penting lagi adalah bagaimana Islam dapat terus eksis kapanpun dan di manapun agar misi-misi mulia yang dicita-citakan senantiasa terus terwujud tidak hanya dalam kurun waktu tertentu saja.

Menyikapi semua itu, kemudian muncul kelompok dari kalangan cendekiawan islam yang menggelorakan sebuah gerakan untuk membentuk wajah Islam yang dinamis. Gerakan itu dikenal dengan pembaharuan Islam atau bisa dikatakan gerakan reformasi Islam. Upaya ini tidak lantas merombak dan menciptakan ajaran Islam yang baru. Namun, hal ini mengacu pada konstruksi ulang pemahaman terhadap Islam agar penafsiran terhadap teks-teks keagamaan yang terbatas bisa senantiasa melahirkan pemahaman baru nan luas di tengah terpaan persoalan zaman yang tiada batas.

 

Sepak Terjang Gerakan Pembaharuan Islam

Munculnya gerakan pembaharuan Islam bukanlah tanpa alasan. Faktor utama yang mendasari hal ini adalah banyaknya ajaran-ajaran Islam yang sudah bercampur-baur dengan budaya-budaya lokal sehingga memerlukan interpretasi yang lebih fleksibel. Sebab akan mungkin banyak perpaduan ajaran antara Islam dan budaya tempat Islam itu berkembang.

Baca Juga:  Awal Mula Munculnya Gerakan HTI di Indonesia

Selain itu, sejarah mencatat bahwa titik awal berdengungnya gerakan pembaharuan Islam ini ditengarai sebagai sebuah reaksi dan kritik atas gerakan sufisme pasca Al-Ghazali dan Ibnu Arabi yang sudah banyak dirasuki bid’ah, khurafat, dan ritual-ritual yang sudah tidak sesuai lagi dengan prisip-prinsip ajaran Islam. Akibatnya, masyarakat Islam seolah kehilangan jati diri dan kurang bisa berpegang teguh atas dasar-dasar ajaran agamanya.

Sufisme yang ketika itu menjadi sesuatu yang lebih dominan dalam mencerminkan ajaran Islam mendapat sikap penentangan dari berbagai pihak. Hal itu Karena banyaknya akulturasi budaya yang merasuk dalam ritual sufistik di berbagai tempat tanpa adanya penyaringan. Bahkan seorang yang dikenal dengan julukan bapak pembaharuan Islam, Ibnu Taymiyah, banyak melontarkan kritik atas gerakan-gerakan sufisme. Bahkan dia sampai mengatakan bahwa sufisme adalah penyebab dari segala kejumudan umat Islam. Peradaban Islam menjadi stagnan, beku, dan tidak berkembang karena sufisme kala itu hanya memberi perhatian pada ritual-ritual peribadatan sehingga lebih mementingkan individualitas saja. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih pasif terhadap pergumulan sosial dan politik, kurang dinamis dan kehilangan kreativitas. Peradaban Islam pun pada akhirnya mengalami dekadensi dan degenerasi.

Semua itu menjadi dasar dan alasan kenapa lantas pemahaman terhadap Islam perlu diperbaharui. Hal ini bertujuan tidak hanya untuk fleksibilitas Islam di setiap zaman, namun juga agar sebisa mungkin dalam kedinamisannya Islam tetap tidak kehilangan prinsip-prinsip yang menjadi identitas utamanya.

 

Islam dan Perkembangan Zaman

Seiring berjalannya waktu, tantangan Islam tidak hanya muncul dari ranah internal saja seperti yang diceritakan tadi. Namun lambat laun seiring dunia semakin menuju puncak modernitasnya, keyakinan akan agama sendiri kini juga kerap mendapat ujian. Belakangan ini, bukan hanya paham keagamaan yang individualistik saja yang ditengarai sebagai penghambat laju kemajuan zaman, bahkan sekarang agama itu sendiri yang dituduh dan dianggap sebagai parasit globalisasi dengan alasan agama hanya mengurusi spiritualitas saja, bukan yang lain.  Akibatnya, agama dianggap mengganggu perkembangan dunia dan tidak bisa memberi kontribusi berarti. Agama akan diasingkan dari ranah publik dan dianggap tidak berguna. Sekularisasi dan komunisme pun merajalela.

Baca Juga:  Generasi Milenial dan Pendidikan Harmonis

Bila tidak dibendung, maka kesenjangan antara Islam dan laju zaman akan semakin melebar. Saat ini pun hal itu sudah sangat terbukti. Negara-negara yang mengklaim dirinya sebagai negara bagi umat Islam, atau paling tidak yang penduduk Islamnya menjadi mayoritas malah kalah jauh dalam hal perkembangan teknologi dibanding negara-negara yang mengaku tidak memuja agama sama sekali.

Apa hal ini murni karena faktor agama? Atau hanya kita saja yang tidak mau membuka pikiran? Untuk menjawab ini maka pembaharuan dan reformasi Islam sangatlah diperlukan agar Islam dapat terus eksis dan turut bersaingan dengan peradaban-peradaban lain di dunia.

 

 

Aswaja sebagai Jalan Keluar

Mengingat kembali bahwa misi Islam adalah sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, namun yang terjadi adalah seperti yang dijelaska tadi, dianggap merintangi kamajuan, dituding tidak berguna, maka bagi penganutnya sekalipun hal itu bukan lagi sebagai rahmat, bahkan bisa saja jadi ‘aib. Di sinilah tugas dan tanggung jawab umat Islam untuk dapat mengembalikan muruah Islam seperti sedia kala dengan cara menyeimbangkan antara peradaban dan nilai-nilai keislaman. Tidak hanya demi eksistensi agama saja, lebih dari itu kita juga mengupayakan agar perkembangan dunia bisa melaju di jalan yang lebih bermoral dan beradab.

Dalam menjaga keseimbangan atara laju peradaban dan nilai-nilai ajaran Islam, aswaja sebagai pola pikir bisa menjadi sebuah jalan keluar dengan memperhatikan beberapa prinsip yang biasa dikenal dengan tawasuth (moderat), tawazun (simbang), ta’adul (jalan tengah), dan tasamuh (toleran).

Orang Islam senantiasa dianjurkan untuk selalu bersikap netral dalam berbagai hal. Tidak hanya agar menyeimbangkan antara aspek iman, islam, dan ihsan saja sebagai dasar agama. Lebih dari itu keseimbagan atas pemahaman agama dengan realitas kehidupan juga amatlah penting. Oleh sebab itu, selain beberapa prinsip tentang mederatisme dan toleransi tadi, ada dua aspek lagi dalam aswaja yang juga mendapat penekanan, yaitu aspek tsaqafah (peradaban) dan hadarah (kebudayaan). Yaitu agar masyarakat Islam bisa lebih kreatif dan produktif menghadapi perkembangan zaman.

Baca Juga:  Refleksi Potret Santri untuk Pembangunan Negeri

Dengan begitu, dalam kondisi dan keadaan apapun selama bisa merealisasikan prinsip-prinsip dan aspek-aspek keagamaan dalam bingkai aswaja, maka persoalan dan tantangan apapun tetap bisa dihadapi dan tidak akan tersisih dari peradaban.

Dengan semua itu, maka senyatanya paham aswaja telah ikut berkontribusi atas gerakan reformasi Islam yang telah didengungkan sejak lama sekali sebagai bentuk dan upaya menjaga eksistensi dan fleksibilitas islam dalam terpaan laju perkembangan zaman.

*M. Fakhruddin Al-Razi, Mahasiswa UIN Malang asal Madura.


Like it? Share with your friends!

0
13 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
2
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.