Aroma Surga Tanggal Dua Dua


0
338 shares

Ciri utama keberhasilan propaganda, ujaran kebencian, hoaks dan disinformasi berita, juga kampanye hitam adalah jika konten propaganda itu viral dan menjadi topik perbincangan di ruang-ruang publik, terutama medsos. Itu artinya—mereka yang anti NU, otomatis anti NKRI; juga yang pura-pura NU, otomatis pura-pura NKRI; atau boleh jadi yang kecewa dengan hasil muktamar NU dan lalu melakukan penggembosan terhadap NU dari dalam—dapat dengan mudah kita ketahui melalui akun-akun medsos mereka yang cenderung latah dan tidak kritis. Memang, politik sentimen tidak bisa dihadapi dengan ilmu. Inilah mengapa gerakan “upil power” dan “pipel powder” dianggap jihad oleh kaum cuti nalar.

Siapa sajakah mereka dan apa agenda jualan meraka selama ini? Ke mana mereka merapat dan membonceng? Mengapa mereka begitu cemas dagangan “kopar-kapir” mereka tidak laku gara-gara Munas NU?

Agenda mereka (nama organisasinya boleh apa saja silahkan Anda bikin daftar sendiri, kalau mau gampang, pokoknya yang anti-NU), yang selama ini sibuk dengan “fastabiqul demo fastabiqul politik” adalah 4-T.

Pertama, Takfiri (تكفيري), gampang mengkafir-kafirkan, baik kepada non-muslim maupun kepada sesama muslim yang beda pendapat dan mazhab. Contoh, demokrasi kafir, Pancasila kafir, UUD 1945 kafir dan NKRI thoghut. Melalui gerakan takfiri secara masif dan terencana, tentu saja yang berbeda dengan mereka halal darahnya, oleh karena itu sistem negara harus diganti. ISIS, HTI, ormas dan parpol yang bernafaskan Ikhwanul Muslimin (pan islamisme) paling gemar “jualan” kopar-kapir dan melakukan politisasi agama, makanya mereka kebakaran jenggot terhadap hasil Munas di Banjar. Kalau Anda masih tanya: kenapa? Ya, karena mereka cari makan dengan teriak kopar-kapir. Dengan kata lain, fastabiqul fulus dan fastabiqul kelamin / syahwat politik mereka ya dengan kopar-kapir itu. Anda masih penasaran: kenapa? Karena hanya itu yang mereka bisa!

Baca Juga:  Idrus Ramli Bongkar Kesesatan HTI

Mengapa mereka ngamuk di medsos? Karena jualan mereka bisa terganggu, fastabiqul proyek berantakan, fastabiqul fulus defisit, dan terutama fastabiqul politik transnasional mereka sangat terguncang hanya dengan satu keputusan bahtsul masail para Kiai NU belum lama ini yang dianggap politis, sementara sikap mereka sendiri sangat apolitis dan mencederai demokrasi.

Ini membuktikan bahwa NU maupun para Kiai NU itu, di samping menjadi bidan yang berperan penting bagi lahirnya NKRI, para Kiai Nusantara adalah pawang bagi setiap pengacau dan perusak NKRI, 30 ribu pondok pesantren NU adalah benteng NKRI dan lebih dari 100 juta santri dan kaum sarungan tak lain adalah penjaga NKRI.

Kedua, tabdi’i (تَبْديعي) alias sembarangan umbar kata bid’ah, contoh nyata: tahlilan bid’ah, salawatan sesat, ziarah kubur apalagi, maulid Nabi dan Israk Mikraj bid’ah, selametan dan kenduri bid’ah plus syirik, tapi kalau bikin parpol dan ormas radikal tidak bid’ah. Ini jelas sasaran tembaknya adalah NU dan warga nahdliyyin yang kini sudah lebih dari 100 juta jiwa dan memiliki 194 cabang di seluruh dunia. Karena “jualan” isu kopar-kapir dan bid’ah sudah kurang laku, sebab tampang mereka sendiri bid’ah dholalah, maka mereka menyusup ke ormas-ormas di luar NU, parpol, lembaga-lembaga Negara, TNI-POLRI, dan bahkan menyusup dalam NU sendiri untuk mengadu domba dan melakukan pembusukan dari dalam dengan jualan gorengan isu-isu komunis, liberal, syiah, antek asing dan yahudi, lagi-lagi propaganda ini malfungsi, kenapa?

Karena lagi-lagi mereka lupa bahwa para Kiai NU itu pawang bagi setiap pengacau dan perusak NKRI. Mereka lagi-lagi lupa bahwa melawan Kiai-kiai sepuh berarti melawan Kanjeng Nabi, melawan Nabi berarti menantang Tuhan dan dengan demikian, mereka menggali kubur mereka sendiri.

Baca Juga:  Melawan Radikalisme, Mewujudkan Perdamaian

Ketiga, Tasyriki (تَشْريْكي) atau serampangan menuduh syirik. Lagi-lagi sasaran tembak mereka adalah NU, terutama selama KH Said Agil Siradj mempimpin, pokoknya mereka benci NU stadium 4, anti NU sampai ke ubun-ubun, alergi NU sampai tulang sumsum dan hendak mengkode ulang DNA-NU dari bumi Indonesia sampai 14 turunan. Oleh karena itu, bagi mereka, menghancurkan NKRI harus dimulai dengan merusak NU, merusak marwah Kiai, membenturkan NU kultural dengan NU struktural, mengadu domba para Kiai, kadang dengan habib, membenturkan NU dengan ormas lain, dan tentu saja memfitnah Banser secara keji. Mereka lupa bahwa para Kiai NU itu bidan yang membantu lahirnya bayi NKRI, para Kiai Nusantara itu pawang bagi setiap pengacau dan perusak NKRI, pondok pesantren adalah benteng NKRI dan para santri adalah penjaga NKRI.

Yang terakhir dari agenda mereka adalah tasykiki (تَشْكِيكِي), yakni gila-gilaan mengkampanyekan keraguan dan kebimbangan kepada umat Islam. Jika tiga “T” sebelumnya tak cukup ampuh, maka “T” yang keempat ini menjadi senjata pamungkas mereka dengan terus menebar teror, propaganda, disinformasi berita di medsos, di portal-portal berita online, di ruang publik, di kampus, di masjid-masjid, di Monas, di radio, di televisi, di buku-buku, buletin dan majalah agar kita ragu dengan NKRI, ragu dengan Pancasila dan UUD 1945, ragu dengan Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdhiyah, ragu dengan NU, ragu dengan Islam Nusantara, ragu dengan pesantren, ragu dengan tradisi NU dan kearifan lokal, ragu dengan barokah para Kiai, ragu dengan tarekat mu’tabaroh NU, ragu dengan Banser, ragu dengan apapun yang NU dan lantas memilih menajdi fundamentalis, radikalis, teroris, Islam puritan, minimal manjadi PCOC (pasukan celana dan otak cingkrang), menjadi panasbung (pasukan nasi bungkus), menjadi monaslimin-monaslimat, memaksa berjenggot tapi gampang kebakaran jenggot, sok anti sains modern yang penting jidat hitam, sok anti Barat, sok anti asing, sok anti China, anti pemerintah, mereka anti segala anti kecuali poligami, karena memang hanya itu yang mereka bisa.

Baca Juga:  Tanpa Pancasila, Intoleransi Akan Semakin Tinggi

Lagi-lagi mereka lupa bahwa para Kiai NU itu bidan-bidan yang membantu lahirnya NKRI, para Kiai Nusantara itu pawang bagi setiap pengacau dan perusak NKRI, pondok pesantren adalah benteng NKRI dan para santri adalah penjaga NKRI, karena hubbul wathon minal iman.

Sebagai pawang, tentu para Kiai NU itu bijaksana dan tidak grusa-grusu plus ngamukan seperti pemuja 4-T di atas. Begitu pawang datang, binatang-binatang buas tanang dan terdiam. Dan, pawang itu sebagaimana disampaikan RMP Sosrokartono: sugih tanpo bondo (kaya tanpa harta), digdoyo tanpo aji (tak terkalahkan meski tanpa senjata), nglurug tanpo bolo (menyerbu tanpa pasukan), menang tanpo ngasoraké (menang tanpa jumawa dan merendahkan), trimah mawi pasrah (menerima lagi pasrah), suwung pamrih tebih ajrih (tanpa pamrih dan tidak takut), langgeng tan ono susah tan ono bungah (tetap tenang dalam suka-duka) serta anteng mantheng sugeng jeneng (tidak gegabah agar nama baik tetap terjaga).

Nah, kamu sudah tahu kan, Sayang, siapa biang kerok dari rentetan keributan, kegaduhan dan kekacauan sejak awal berdirinya bangsa dan khususnya selama tahun-tahun politik ini? Siapa para oligark, para demagog dan predator bisnis yang menggembalakan sekawanan bani micin itu? Memang, untuk pandai dan pandir, kita hanya cukup melihat siapa saja yang telah mencium aroma surga pada 22 Mei ini!

 

oleh: Ach Dhofir Zuhry


Like it? Share with your friends!

0
338 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
1
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
1
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
1
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.