Apresiasi Untuk Rocky Gerung


0
41 shares

Saya senang melihat RG yg nonmuslim (diksiku), atau kafir (diksi pilihanmu) bisa ceramah ke mana-mana, mulai dari kampus Islam, televisi, bahkan infonya juga di tempat ibadah.

Dahsyatnya lagi, dalam momen tertentu, RG dikawal orang-orang yang sering teriak takbir. Hebatkankan? Jargon akal sehat bak sihir yang mampu melumpuhkan nalar kritis beberapa orang.

Namun yang naif dibalik kehebatan dia untuk “menyihir” pendengar adalah statemennya bahwa sulit menemukan satu kebaikan dari Jokowi agar bisa dipuji (https://youtu.be/V5AWRC56XHs). Orang kalau sudah terpana dan tidak kritis, pasti tunduk lunglai di bawah retorika akal sehat RG.

Padahal hukum nalar yang paling dasar dengan berangkat dari common sense, pasti akan mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang atau pemimpin tidak punya sisi kebaikan walau secuil. Firaun pun punya sisi “kebaikan” karena membolehkan istrinya memelihara bayi (Nabi Musa) di istananya tanpa dibunuh. Padahal bayi laki laki lain semua dibasmi. Kalau Firaun saja demikian, apalagi pemimpin di Indonesia mulai Soekarno hingga Jokowi. Prabowo pun sebagai manusia dan sebagai pemimpin partai disamping punya kekurangan, pasti mempunyai sisi kebaikan. Persoalannya hanya masalah perspektif, kuantitas dan kualitas terhadap kebaikan tersebut.

Hemat saya, kalau “akal sehat” Rocky Gerung ini diikuti, maka implikasi logisnya Tuhanpun bisa mempunyai “kekurangan”. Semisal Brian Whitaker penulis buku Arabs Without God menjelaskan masalah yang paling sering dikutip oleh orang Arab sebagai langkah pertama mereka menuju ateis adalah cara pandang terhadap ketidakadilan dari keadilan Tuhan (unfairness of divine justice). Gambaran yang mereka peroleh adalah Tuhan yang mudah marah dan terkadang tidak rasional, yang berperilaku seperti seorang diktator Arab atau patriarki keluarga kuno yang membuat keputusan sewenang-wenang dan tampaknya bersemangat untuk menghukum orang.

Baca Juga:  Persamaan Antara NU dan Muhammadiyah

Semisal gagasan tentang neraka adalah abadi. Kata Mohammed Ramadan, seorang Mesir, “Saya berusia sembilan tahun ketika saya bertanya kepada orang tua saya mengapa Allah akan menghukum kita selama kita hidup rata-rata hanya 70 tahun.” Atau Ahmad Saeed, seorang Yaman, bertanya kepada gurunya mengapa Tuhan akan menghukum orang hanya karena tidak percaya kepada-Nya. Saeed menemukan jawaban jauh dari memuaskan bahwa apa yang Tuhan putuskan, kita tidak seharusnya bertanya. Saeed melanjutkan, “Saya selalu berdebat bahwa jika saya dilahirkan di negara sekuler, jika saya tidak dilahirkan di Yaman atau negara Timur Tengah, saya tidak akan menjadi seorang Muslim. Jika saya dilahirkan di India, dia akan menyembah seekor sapi. Dibesarkan sebagai seorang Muslim bukanlah sesuatu yang saya pilih.”

Seorang Saudi yang dikenal sebagai “Ateis Arab” terganggu oleh pertanyaan mengapa non-Muslim yang tampaknya baik harus dihukum oleh Tuhan. Tiba di AS untuk belajar di sebuah perguruan tinggi Jesuit, ia mulai menyadari “betapa miripnya semua agama” dalam ajaran dasar mereka. “Dalam Islam,” katanya, “kami diajari bahwa semua non-Muslim akan masuk neraka. Saya memiliki tetangga Yahudi yang merupakan pasangan yang paling baik dan paling manis dan itu membuat saya bertanya-tanya mengapa mereka harus pergi ke neraka? Dan tiba-tiba Islam mulai runtuh di mataku. ”

Ramast, seorang warga Mesir yang dibesarkan di gereja Koptik bergulat dengan masalah yang sama. Itu dimulai dengan satu pertanyaan jika orang baik pergi ke surga dan orang jahat pergi ke neraka, lalu apa yang membuat seseorang baik dan apa yang membuat orang jahat? Mungkinkah itu lingkungan? Tetapi Tuhan menciptakan lingkungan itu. Mungkinkah dia dibesarkan? Tetapi Tuhan memilih orang tuanya dan cara dia dibesarkan. Apa pun alasan Anda mengemukakannya, Anda pada akhirnya akan mengatakan “Tetapi Tuhan menciptakan itu” dan dengan demikian secara logis itu bukan kesalahan orang itu jika ia buruk atau baik (maaf, contoh di atas agak banyak).

Baca Juga:  Masjid Harus Terbebas dari Paham Radikalisme

Problem di atas sudah banyak jawaban dalam kajian Islam dan filsafat keadilan Tuhan. Ruang ini bukan untuk membahasnya. Poin yang saya tekankan, jargon nalar sehat yang berputar putar ala kalangan sophist (a person who reasons with clever but fallacious arguments) kalau tidak kritis menyikapinya akan mampu membuat semua salah, atau semua benar. Apalagi para audiens adalah pihak yang dogmatis dan jarang menggunakan nalar sehatnya, maka kepalanya akan gampang berputar putar lalu tunduk takluk menerima paparan Rocky Gerung. Padahal, kita juga menjumpai inkonsistensi RG yang lain dalam beberapa statemennya.

Oleh Ainur Rofiq al-Amin


Like it? Share with your friends!

0
41 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
1
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.