24.2 C
Jakarta

Apakah Demo Termasuk Ajaran Islam?

Artikel Trending

Habib yang Menjamur

Dulu, saat saya kecil, di jalan-jalan tidak pernah terpampang baliho. Suasana damai sekali, bahkan tatkala gaduh pun, ya, paling itu karena persoalan biasa. Tidak...

Hukum Menyimpan Tali Pusar Bayi Menurut Islam

Tali pusar adalah jalan yang menghubungkan antara ibu dan bayinya ketika masih dikandungan. Tali pusar ini berfungsi untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari ibu...

Ampuhnya Doa Orang Puasa

Berbicara tentang manjurnya doa orang puasa sejenak kita akan langsung tertuju pada sebuah hadis dalam Sunan Ibnu Majah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr...

Rizieq Shihab Mati Langkah?

Pesta penyambutan kepulangan Rizieq Shihab berubah menjadi bencana bagi masa depan perjuangan politik Rizieq Shihab dan kawan-kawan. Belum genap satu bulan menginjak kaki di...

Relasi Iman, Keadilan dan Demokrasi ala Cak Nur

Nurcholish Madjid, atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dikenal luas sebagai salah satu cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia. Pemikirannya merupakan suatu usaha untuk mencari...

Makna Rahmat dalam Al-Qur’an Al-Karim

Rahmat terdiri dari tiga huruf râ’, hâ’, dan mîm. Menurut Ibnu Faris dalam Maqâyîs al-Lughah setiap kata Arab yang berakar dari tiga huruf râ’,...

Wudhu Menurut aL-Qur’an dan Sunah

Wudhu merupakan ritual penting dalam Islam untuk menjaga kesucian dalam beribadah. Perintah dan dasar landasan berwudhu berangkat dari firman Allah swt dalam QS al-Maidah...

Apa Itu MaʻRûf dan Apa Itu Munkar

Kedua kata maʻrûf dan munkar merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab. Kemudian keduanya diserap ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga penulisan keduanya dalam Kamus...

Dalam sejarah Islam, aksi demo pertama kali dilakukan oleh kelompok pemberontak yang ingin menggulingkan khilafah yang sah, khalifah Sayyidina Utsman bin Affan رضي الله عنها dalang utama dibalik aksi demo pertama tersebut adalah seorang Yahudi yang licik yang sudah lama menebarkan virus kebencian di kalangan umat Islam saat itu.

Para pendemo menuntut Amirul Mukmimin Khalifah Sayyidina Utsman bin Affan untuk mundur dari jabatannya atau jika tidak mau maka akan mati dibunuh. Para pendemo melancarkan aksinya dengan mengepung rumah Sayyidina Utsman bin Affan dan memberikan ultimatum, mengundurkan diri atau dibunuh.

Menanggapi fitnah para pendemo, Sayyidina Utsman bin Affan tetap pada pendiriannya yg tidak mau menanggalkan kekhalifahannya. Beliau teringat pesan Rasulullah ﷺ yang memang sudah diketahuinya bahwasanya nanti akan datang fitnah yg menimpanya. Ketika fitnah itu datang, Rasulullah berwasiat agar beliau tetap berada pada posisinya dan bersabar.

Adalah hal yang mudah baginya untuk menumpas habis para pendemo yg memberontak itu. Sahabat² Nabi ﷺ pun sudah bersiap diri menawarkan bantuan untuk memberantas para pendemo tetapi ditolaknya.

Sayyidina Utsman bin Affan tidak ingin menjadi orang pertama yang menumpahkan darah di kalangan umat Islam sepeninggal Rasulullah ﷺ . Ia kembali teringat wasiat Rasulullah ﷺ untuk tetap bersabar menghadapi fitnah tersebut. Ia pun sudah mengetahui dirinya nanti akan dibunuh seperti yang diberitahukan oleh Rasulullah ﷺ semasa hidup.

Seakan tidak mau kalah, para pendemo terus menerus melancarkan aksinya melakukan pengepungan sampai berlanjut hingga 40 hari. Sementara Sayyidina Utsman tetap bersabar berpegah teguh pada pendiriannya yang tidak mau melawan dan tidak mau menanggalkan jabatannya. Ini dilakukan semata-mata demi sang kekasih yakni Rasulullah ﷺ bukan karena dirinya takut terhadap para pendemo yang memberontak.

Hingga pada suatu hari, di akhir hari pengepungan, Sayyidina Utsman bin Affan membuka dan membiarkan pintu rumahnya terbuka. Beliau kemudian duduk dan mengambil mushaf al-Quran dan membacanya. Para pendemo pun melihat Sayyidina Utsman yang sedang membaca al-Qur’an melalui bilik pintu rumahnya. Kesempatan emas ini di manfaatkan para pendemo untuk masuk ke dalam, sampai akhirnya membunuh Sayyidina Utsman.

Sayyidina Utsman bin Affan gugur syahid di tangan para pendemo kaum pemberontak. Sang istri yang melihat segera bergegas menolong hingga akhirnya jari jemarinya pun terpotong di tangan para pendemo.

Dan kini, aksi demo terus ada sampai sekarang, demo mengatasnamakan Islam. Sedikit-sedikit umat Islam demo. Ada masalah ini dan itu demo. Tidak suka kepada orang lain demo. Ingin menuntut sesuatu demo. Yang lebih mengerikan lagi, berdemo sambil membawa-bawa mushaf al-Quran seperti ciri khasnya kelompok Salafi Mesir.

Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia dan orang-orang yang bertaqwa, bukan untuk dijadikan alat demo-demoan. Al-Quran itu untuk dibaca, dipelajari, ditadabburi dan diamalkan, bukan sebagai tameng demonstrasi. Apakah dikira dgn membawa-bawa mushaf al-Quran atau simbol-simbol Islam dalam berdemo menjadikan demo itu Islami?

Tidak sama sekali, yang ada justru sebaliknya. Islam itu suci dari hal-hal yang hina. Dahulu Sayyidina Utsman bin Affan dibunuh saat membaca al-Qur’an oleh para pendemo, dan kini golongan Salafi berdemo sambil membawa orang-orang al-Qur’an sebagai ciri khasnya.

Ingat, Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan dan mencontohkan umatnya untuk berdemo. Tidak ada Sahabat Nabi ﷺ pun yang pernah berdemo. Dan lihatlah bagaimana Sayyidina Utsman bin Affan lebih memilih surga bersama Rasulullah ﷺ ketimbang menanggapi para pendemo.

Aksi demo justru pertama kali diajarkan oleh kelompok pemberontak yang dimotori di belakangnya orang Yahudi. Akankah umat Islam mau mengikuti jejak kaum pemberontak dan Yahudi ?
Atau mengikuti jejak Nabi ﷺ dan para sahabatnya ???

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Ideologi Teroris dan Cara Memberantasnya

Ideologi teroris dan sikapnya dalam dasawarsa mutakhir ini semakin memiriskan. Pemenggalan demi pemenggalan atas nama agama mereka lakukan. Sungguh begitu banyak contoh untuk dibeberkan atau...

Pandemi Covid-19 Tak Kurangi Ancaman Radikalisme

Harakatuna.com. Jakarta-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut pandemi virus korona (covid-19) tidak menghentikan ancaman radikalisme dan terorisme. Hal itu terjadi di...

Serial Kebangsaan (I): Spirit Kebangsaan dan Kelalaian FPI

Sekitar semingguan kemarin, saya dapatkan sebuah buku yang cukup menarik dan tentunya masih relevan dibaca di era sekarang, apalagi buku ini baru saja launching....

Bom Mobil Meledak di Afghanistan, 30 Petugas Keamanan Tewas

Harakatuna.com. Ghazni-Sebuah mobil berisi bom meledak di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Setidaknya 30 aparat keamanan tewas akibat ledakan tersebut. Seperti dilansir Reuters, Senin (30/11/2020), Direktur Rumah...

Uang Kertas Mengalami Perubahan Nilai, Bagaimana dengan Mekanisme Pembayaran Hutang?

Sudah kita ketahui bersama bahwa seiring perubahan zaman maka berubah pula nilai sebuah mata uang. Terdapat beberapa kasus yang memiliki inti permasalahan sama, yakni...

Eks Napiter, Haris Amir Falah Sebut Paham Radikalisme Mengancam Pancasila

Harakatuna.com. Solo – Munculnya paham radikalisme ekstrem yang tersebar di wilayah Indonesia mengancam Pancasila dan kedaulatan NKRI. Hal ini perlu diantisipasi, mengingat mereka telah...

Wanita dalam Pusaran Aksi Radikalisme dan Terorisme

Berbagai aksi terorisme dan radikalisme dalam beberapa dasawarsa ini kain “subur” terlebih di era milenial ini. Bergama aksi teror di Indonesia semakin banyak terjadi...