26.6 C
Jakarta

Andai Felix dan Ismail Yusanto Tidak Maniak Khilafah

Artikel Trending

KH Bahauddin Nursalim, atau yang populer Gus Baha, memberikan candaan agak provokatif, tetapi serius: kenapa orang lain (baca: para tokoh khilafah-radikal) lebih menarik kepada masyarakat ketimbang kiai-kiai produk pesantren? Lalu Gus Baha menimpali, itu semua karena mereka mengandalkan gelar Lc, MA, dkk. Tetapi bagaimana dengan yang tak bergelar demikian, seperti Felix Siauw dan Ismail Yusanto? Kenapa mereka tetap lebih populer dari yang betul-betul paham agama?

Apa yang diuraikan Gus Baha tentu saja merupakan autokritik: kepada ustaz-ustaz pesantren yang menyembunyikan keahliannya di satu sisi, dan kepada masyarakat yang cenderung lebih percaya gelar-gelar master ala Timur Tengah di sisi lainnya. Bahwa segala produk timur tengah disukai, dan produk pesantren lokal dianggap tidak melebihi intelektualitas mereka. Itu dalam konteks ilmu. Parahnya, di masyarakat, lebih jauh bahkan ada kepercayaan bahwa, dalam sistem politik pun, lokal dianggap tak mangungguli Arab.

Fakta terakhir ini bukan lagi menjadi rahasia. Ustaz Abdul Somad, Adi Hidayat, bahkan Khalid Basalamah boleh jadi dianggap lebih berintegritas dan lebih berilmu daripada kiai-kiai produk pesantren murni, yang tak bergelar. Andai Gus Baha tidak menyentil, barangkali kita tidak akan menyadarinya. Lalu di mana Felix dan Ismail? Itulah yang saya maksud tadi. Mereka berdua, yang merupakan antek-antek Hizbut Tahrir, membawa produk politik Timur Tengah, lalu dianggapnya lebih baik dari sistem politik lokal kita.

Kita sekadar bisa berandai-andai. Andai ustaz-ustaz lulusan Timur Tengah itu tidak memiliki pandangan keagamaan yang eksklusif. Andai Felix dan Ismail bukanlah dedengkot khilafah ala Hizbut Tahrir. Atau, andai masyarakat tidak lebih mengkultuskan Arab daripada lokal, baik keilmuan maupun politik. Alumni Al-Azhar belum tentu lebih alim dari alumni Krapyak, misalnya. Politik ala Timur Tengah, atau pasnya ala raja-raja Islam masa lalu, yang mereka anggap khilafah itu, tetaplah sistem politik yang seringkali problematis.

Felix dan Ismail Yusanto tidak mengandalkan gelar, tetapi masyarakat banyak yang menjadikannya panutan. Itu mendorongnya semakin militan dengan agenda khilafahnya, bukan?

Felix Sang Militan

Akhir-akhir ini, Felix Siauw sering membuat cuitan tentang iblis di Twitter. Ia memang aktif mendakwahkan ideologinya melalui media sosialnya sendiri, berbeda dengan Ismail Yusanto yang berdakwah melalui kajian-kajian daringnya. Jelas saja, di kalangan milenial dan seleb-seleb hijrah seperti Ari Untung, Teuku Wisnu, dll, Felix lebih menarik. Ia berdakwah tidak sebagai dedengkot khilafah ala Hizbut Tahrir, melainkan sebagai tokoh Islam yang sebenarnya. Iya, ia mengklaimnya begitu.

Islam yang dinarasikan Felix ialah Islam yang tak mengenal ormas tertentu, Islam autentik, yang tidak terkotak menjadi Muhammadiyah, NU, dkk. Ia menganggap pengkotakan Islam tersebut sebagai upaya memecah-belah Islam, lalu dirinya mengaku hadir sebagai pembawa Islam yang utama, mirip dengan yang dibawa Nabi. Ini adalah jualan lama para ortodoks Salafi-Wahabi, yang dikemasnya menjadi lebih milenial dan up to date. Felix kukuh begitu. Militansi atas ideologinya tinggi. Lihat cuitan Felix berikut:

Kalau saya nggak bisa melakukan 400x push-up, maka saya akan memukul boneka kayu 800x, kalau saya tak mampu memukul 800x boneka kayu, saya akan lompat tali 2000x –Rock Lee” [18/7/2020]

BACA JUGA  FPI, TNI, dan (Kelabilan) Politik Ketegasan

Kamu tahu, kalau kamu merasa lelah dalam kebaikan, mereka lebih lelah dalam keburukan, karena kamu sesuai fitrah, mereka menyelisihinya.” [18/7/2020]

Islam Felix adalah Islam berideologi Hizbut Tahrir. Tetapi, ia tidak mau dianggap partisan. Sebagaimana Islam ideologis pada umumnya, ia mengklaim diri sebagai Islam yang autentik. Karena autentik, maka sekeras apa pun penentangan (baca: koreksi) atasnya, bukan hanya tidak akan digubris, melainkan bahkan dianggap keliru. Berandai Felix maupun Ismail tidak maniak khilafah itu mustahil. Kalau ia dilarang berdakwah langsung, maka media sosial menjadi alternatif. Itulah maksud cuitannya.

BACA JUGA  Jangan Bandingkan Habib Rizieq dengan Benny Wenda!

Mengklaim diri sebagai pengajar Islam ideal, yang sesuai Fitrah dalam bahasa Felix, adalah kebusukan belaka. Faktanya, Felix selalu menyuarakan khilafah, yang itu jelas-jelas doktrin politik-ideologis Hizbut Tahrir. Militansi Felix harus diapresiasi, tetapi berbahaya. Sebab, ia salah-keliru ketika berpandangan, khilafah adalah bagian dari kemurnian Islam. Islam genuine Felix itu, palsu.

Bukan Islam Genuine

Sangat tepat apa yang diutarakan Gus Baha dalam suatu kajiannya, bahwa perbedaan nafsu dan komitmen beragama sangat tipis sekali. Seseorang boleh jadi berteriak membela agama, padahal sejatinya ia menyalahinya. Seseorang boleh jadi memiliki komitmen terhadap keagamaan yang dianggapnya asli, autentik, genuine, padahal semua itu pantulan nafsu dirinya belaka. Gus Baha kemudian mengutip qaul berikut:

و كم داع يدعى انه دعى الى الله, ولكن يدعو الى نفسه

Betapa banyak orang, dai, penceramah, yang berdakwah seolah ia mengajak ke jalan Allah, tetapi hakikatnya berdakwah untuk ideologinya sendiri.

Genuinitas Islam, atau pengarusutamaan paham keagamaan yang diusung Felix Siauw, Ismail Yusanto, juga para agen khilafah Hizbut Tahrir lainnya, justru adalah sesuatu yang tidak genuine. Ketika mereka menyebut Islam, kejayaan Islam, misalnya, maka Islam di situ adalah Islam sebagaimana dalam pengertian mereka sendiri. Bagaimana Islam dalam pengertian mereka? Tidak lain adalah Islam yang menegakkan syariat khilafah, yang tanpanya, status kaffah keislaman kita mereka pertanyakan.

Oleh karena Islam yang mereka anggap genuine ternyata tidak genuine, maka semakin terang di hadapan kita, menjadi argumentasi kuat untuk tidak mengikuti mereka, tidak menjadi jemaahnya, apalagi menyembah kepalsuan doktrin keagamaannya. Para maniak khilafah tahririyah—khilafah ala Hizbut Tahrir—memang tidak akan berhenti mengeksploitasi orisinalitas Islam, demi kepentingan ideologi dan politik mereka sendiri.

Andai Felix dan Ismail bukan maniak khilafah, mereka tidak akan memprovokasi masyarakat, melalui kajian-kajian dan cuitannya, perihal persoalan uli al-amr, kepemimpinan. Andai mereka bukan maniak khilafah yang sengaja memutar-balikkan fakta sejarah, khilafah Hizbut Tahrir akan senantiasa ditentang umat, sebagaimana seharusnya. Andai mereka tidak memperkosa Al-Qur’an, hadis, dan mufasir, umat tidak akan kebingungan.

Tetapi faktanya, semua itu sekadar andai-andai belaka. Indoktrinasi, penyesatan sejarah, manipulasi syariat, tetap mereka lakukan, sembari meyakinkan masyarat bahwa merekalah dai Islam yang asli, tulen, autentik, genuine. Semakin dikonter, pergerakan mereka justru semakin nyinyir, ngeyel, dan masif. Apakah kita akan mengikuti jejak para maniak khilafah itu?

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…
Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru