29.2 C
Jakarta

Ancaman Teroris di Indonesia Masih Tinggi, Ini Buktinya

Artikel Trending

Milenial IslamAncaman Teroris di Indonesia Masih Tinggi, Ini Buktinya
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Resiko terorisme sudah bergulir di berbagai manca negara. Tidak hanya di Indonesia, Timur Tengah dan Amerika Serikat, terakhir ancaman terorisme juga menerpa di negara Australia.

Tingkat acaman di Australia, tampaknya memang menurun meski tetap mengkhawatirkan. Sebab, dilihat dari rating kegelisahan warga sangat menjadi-jadi, dan terbilang menakutkan.

Kini Australia menurunkan tingkat ancaman terornya dari “mungkin/possible” menjadi “kemungkinan/probable”. Australia merujuk menurunnya risiko serangan dari ekstremis, yang pasif.

Ketidakpastian Resiko

Penurunan tingkat resiko ini masih belum menemukan penjelasan yang pasti. Namun demikian, itu adalah strategi untuk membuat masyarakat lega akan situasi terkini. Apalagi Australia juga menjadi salah satu negara yang terdampak pandemi besar dan resesi.

Berbeda dengan sewaktu Australia, menaikkan tingkat ancaman pada 2014. Saat itu sebabnya jelas, yakni dipicu kekhawatiran jumlah warga Australia yang berperang bersama kelompok milisi bersenjata di luar negeri.

Karena kemungkinan serangan teror orang-orang yang teradikalisasi di Irak atau Suriah, maka secara langsung Australia, menaikkan tingkat ancaman. Pada saat itu, memang menjadi pengalaman yang baru bagi Australia, bagaimana merespons terror di segala lini. Meski setelahnya Australia, cukup cakap baik menangkal dan mengelola informasi khususnya kepada masyarakat sekitar dan kepada dunia.

Namun sampai saat ini, di negara-negara Barat, Timur Tengah, Australia, termasuk Indonesia masih menyimpan benih-benih potensi potensi teroris. Mengapa demikian, ini karena di beberapa teroris di Indonesia masih berlindung di balik tabur kepasifannya.

Bahkan di beberapa negara buatan mereka (teroris) sendiri (seperti yang dicontohkan Al Jaulani), mereka mencontoh politik Taliban, di mana ia memproyeksikan “politik lunak”. Mereka tidak terlalu sadis dalam menyiksa orang, tidak memberikan kebijakan yang berlawan dengan norma dan HAM, serta para pemimpinnya sudah memakai pakaian jas dan dasi, layaknya pemimpin dunia. Ini dilakukan sekadar bagaimana negaranya bisa diterima oleh negara-negara di dunia, khususnya negara Barat.

Potensi Teroris

Ini persis seperti yang dikatakan oleh badan intelijen Australia (ASIO), yakni, faktor-faktor yang memicu tingkat ancaman itu masih terbilang tinggi. “Sementara Australia masih berpotensi target teroris, lebih sedikit ekstremis yang berniat untuk menggelar serangan di wilayahnya,” kata direktur jenderal ASIO, Mike Burgess, Senin (28/11/2022).

Menurut Burgess, dalam 12 bulan ke depan masih memungkinkan seseorang akan tewas di tangan seorang teroris di Australia. Ini artinya, negeri sekelas dan sedisiplin Australia masih saja menjadi bulan-bulan dari terorisasi teroris.

Apalagi, menurut beberapa laporan, ada 13 anak-anak mereka dari perkemahan pengungsi Suriah, meski sebabagiannya sudah direpatriasi. Namun, jangan sampai dihilangkan bahwa ISIS dan Al-Qaeda benar-benar mati. Ia masih hidup meski pasif, dan masih memiliki kemampuan dan rayuan yang dahsyat.

Tangan-tangan kedua kelompok mereka kini bukanlah laki-laki yang bisa menggendong senjata berapa karat, atau yang pintar dalam strategi perang. Namun, mereka adalah para perempuan- perempuan yang sudah selesai dicuci otaknya untuk menjadikan perempuan gila, segila-gilanya dalam rangka menuruti maksud dan tujuan para teroris.

Mengapa perempuan mau-maunya dilibatkan atau terlibat dalam aktivitas terorisme? Tulisan selanjutnya akan saya bahas mengenai ini. Silakan simak ya, Sobat Harakatuna.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru