Analisis Keadaan Psikologis Mantan Tahanan Teroris


0
21 shares
Harakatuna
Doc. Harakatuna.com

Selama satu dawarsa, terorisme menjadi perbincangan hangat di hampir semua lapisan masyarakat Indonesia. Bahkan media cetak, elektronik, maupun Online tak henti-hentinya memberitakan aksi yang nir-kemanusiaan ini.

Berbagai tulisan, pandangan tokoh, sampai pola gerakan terorisme sudah dilakukan dan ditulis oleh banyak kalangan, baik dalam bentuk penelitian, uraian di media masa hingga dituangkan dalam bentuk buku. Namun, sedikit sekali pembahasan yang terdapat di jurnal ilmiah maupun buku yang membedah perilaku terorisme dalam kacamata psikologi.

Kajian terorisme dalam perspektif psikologi menjadi sesuatu yang unik dan menarik karena setidaknya dalam dua hal. Pertama, dapat mengurai akar terorisme secara komprehensif karena kajian ini mensyaratkan untuk mengurai seluk-beluk kehidupan, pemikiran, dan perilaku objek yang bersangkutan. Sehingga riset semacam ini akan menguak kondisi psikologis pelaku teror bom dan sejenisnya.

Kedua, selain itu, studi semacam ini memiliki tujuan mendalam. Seperti menelusuri secara intensif motivasi pelaku teror, peserta mengupas kondisi psiololgis lainnya, misalnya; pandangan keagamaan, ideologi politik, karakter, kebiasaan hidup dan perilaku sosial.

Dengan kinerja yang sedemikian rumit itu, akan ditemukan sebuah kesimpulan yang pada intinya mengarah pada pengumpulan informasi, prosedur, dan meminimalisasi kemungkinan aksi bom dan teror yang akan datang.

Sampai di sini, ada satu kajian mendalam terkait studi terorisme dalam tinjauan psikologi. Ya. Sarlito Wirawan dalam Terorisme di Indonesia dalam Tinjauan Psikologi (2012). Buku kecil namun penting ini telah berhasil mengungkap keadaan psikologi mantan tahanan teroris. Studi ini dilakukan dengan cara wawancara sejak Juni-Oktober 2007 dan Januari-April 2008 silam, di dalam penjara tahanan kepolisian dan tempat-tempat umum (bagi mantan narapidana).

Meskipun riset ini dilakukan pada tahun 2007-2008, spirit dan hasil kajiannya sungguh masih relevan dengan kondisi saat ini. Dengan kata lain, pola dan kondisi psikologis memiliki pola dan keadaan yang relatif sama.

Baca Juga:  Bom Sri Lanka dan Sel Tidur Teroris Nasional

Ada beberapa fokus kajian yang diungkap oleh Sarlito. Pertama, motivasi terlibat dalam terorisme. Kajian keagamaan mengatakan bahwa laku teror, bom bunuh diri, berakar dari pemahaman teks yang tidak tepat, jika tidak ingin dikatakan keliru fatal. Pemahaman teks yang dimaksud salah satu contoh yang sering diuangkapkan adalah tentang makna dan medan jihad. Jihad dimaknai sebagai mengangkat senjata dan membunuh orang non-Islam.

Yang demikian itu ada benarnya. Namun, secara psikologis, motivasi pelaku teror tidak demikian. Banyak subjek penelitian yang dilakukan oleh Sarlito menyampaikan bahwa motivasi paling serius adalah membalas dendam karena keluarga atau kerabatnya dibunuh oleh umat Kristen, atau karena kepercayaannya yang kuat bahwa orang Muslim selalu menjadi korban orang Kristen, namun polisi dan pemerintah tidak mengambil aksi apapun.

Terlihat sekali bahwa betapa kondisi psikologi tertekan menjadi motivasi utama melakukan aksi teror. Mereka juga melihat sesuatu secara hitam-putih. Yang lebih mencengangkan lagi, para subjek kajian tersebut tidak memiliki pengetahuan pembanding. Pikiran dan pengetahuan yang luas, tidak kaku, dan moderat menjadi satu lahan empuk bagi pimpinan kelompok radikal-teroris untuk mempengaruhi yang bersangkutan.

Kedua, tekanan kelompok. Ada hal yang menarik dari kajian psikologi, sebagaimana yang diuangkapkan oleh Sarlito, bahwa Para mantan tahanan teroris selalu ada tekanan dari grup, bahkan ketika masih ada di balik penjara. Artinya, mereka harus sejalan dengan tujuan kelompok dan idealisme. Bagi yang memiliki ide sendiri dan bertentangan dengan tujuan utama kelompok, maka meraka akan diisolasi, persekusi, dan dianggap musuh oleh kameramed lainnya.

Bayangkan saja. Jika kelompok radikal di Indonesia ada 5 juta, maka bahaya dan ancaman akan teror, bisa datang kapan dan di mana saja. Sebab, jika sudah masuk dalam lingkaran “setan” ini, mereka akan sulit sekali kembali pada pemahaman keagamaan yang luwes.

Baca Juga:  Menabuh Genderang Melawan Penyebar Hoax Atas Nama Agama

Ketiga, persepsi agama dan ideologi politik. Persespi agama yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu pandangan yang mengatakan bahwa Islam tidak hanya sebagai agama yang mengatur ranah ibadah, melainkan juga mengatur masalah politik. Tegas kata, kelompok ini, terelapas dari fakta bahwa ada agama lain di Indonesia, negara ini harus diatur secara syariah.

Mereka selalu “berlindung” dan ngotot untuk mengembalikan Islam sebagaimana di era Rasulullah, yang menurut mereka sistem politiknya adalah khilafah. Begitulah kondisi-kondisi psikologi para mantan tahanan teroris.

Apa yang ada dibenak para teroris sangatlah komplek. Namun demikian, dapat dikuak juga bahwa beberapa hali mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah orang-orang yang psiko/psikopat, atau neurotik. Ada juga yang mengalami gangguan menatl. Yang jelas, ada banyak kondisi psikologi yang terjadi dalam diri teroris.

Ada fakta yang mencengangkan juga terkait para pelaku teror yang terjadi di Indonesia terdapat kecenderungan kuat bahwa aktor intelektual yang berada di belakang perencanaan pengaplikasikan pendekatan yange berbeda untuk merekrut teroris baru. Lazimnya merak adalah ana-anak berumur 15-25 tahun, yang secara psikis pikirannya lebih kosong, dan rasional. Sehingga, indoktrinasi agama yang radikal menjadi efektif untuk mengisi pikiran mereka.


Like it? Share with your friends!

0
21 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.