28.6 C
Jakarta

Aldi Taher, Fenomena Hijrah dan Meningkatnya Popularitas

Artikel Trending

KhazanahTelaahAldi Taher, Fenomena Hijrah dan Meningkatnya Popularitas
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Jean Paul Sartre, seorang filosof eksistensialis menjelaskan bahwa manusia tidak memiliki eksistensi bawaan. Berbeda halnya dengan sebuah gelas, ia memiliki eksistensi sebagai wadah air, teh, dll. Pisau memiliki eksistensi bawaan untuk memotong. Dengan demikian menurut Sartre, manusia harus menciptakan eksistensi itu sendiri. Jika saya ingin terkenal sebagai penulis, maka saya harus menulis, membranding diri sebagai seorang penulis. Termasuk jika ingin dikenal saleh, hijrah kerap kali menjadi solusi.

Apa yang Sartre jelaskan begitu relevan dengan kondisi saat ini. Dengan alasan kepentingan eksistensi, seseorang pasti membangun dirinya sesuai dengan keinginan dirinya. Namun menjadi sebuah obesitas ketika alasan eksistensi ia melakukan berbagai macam cara, termasuk menjadikan agama sebagai alat untuk membangun eksistensi tersebut.

Komodifikasi agama sangat sering dijumpai beberapa belakangan ini, menyusul dengan maraknya penggunaan media sosial yang menjadi akses berbagai kalangan. Orang-orang yang memiliki followers media sosial yang banyak, memiliki privilege untuk melakukan apapun. Termasuk ketika menggunakan senjata agama sebagai alat dalam meningkatkan ketenaran dirinya. Meskipun kita tidak mengetahui niat hati seseorang.

Aldi Taher misalnya. Salah satu influencer, artis yang namanya semoat menjadi viral belakangan ini bisa kita analisa sebagai figure yang haus popularitas, mabuk agama, hingga fenomena takfiri melekat dalam dirinya.

Dari sekian banyak akun instagram yang bisa kita jumpai. Baru Aldi Taher yang selalu membagikan kegiatan mengajinya di media sosial dengan bacaan yang bisa kita nilai kurang secara tajwid, dengan suara yang bukan seperti seorang qari’.

Aspek-aspek Hijrah

Dalam Buku “Tuhan Ada Di Hatimu” karya Habib Husein Ja’far Al-Hadar jelas bahwa setidaknya ada 4 aspek dalam proses hijrah, di antaranya:

Pertama, aspek sufistik tasawuf. Hijrah dilakukan senantiasa atas penghambaan dirinya menuju Allah. Aspek batin adalah aspek paling utama dalam mendekatkan diri kepada Allah. Idealnya, hijrah bermula dari spiritualitas yang simpulnya berada di hati. Karena rumusnya adalah tubuh mengikuti hati, bukan hati mengikuti tubuh.

Kedua, aspek kultural. Hijrah berarti mengakulturasi Islam yang datang dari Arab sesuai dengan nilai setempat. Selama nilai-nilai tak bertentangan dengan aspek substansi ajaran Islam.

Ketiga, aspek filosofis. Hijrah membawa umat Islam dari keterbelakangan menuju kemajuan. Maka, menjadi sesuatu yang kurang benar apabila kita hijrah justru mengenyampingkan persoalan keilmuan. Padahal, langkah kita di masa depan adalah bagaimana menjadi muslim yang bisa sejalan dengan kemajuan teknologi para ilmuwan Barat, sehingga umat Islam tidak terbelakang akibat kebodohan yang belum ada obatnya.

Keempat, aspek sosial. Hijrah bukan hanya sekadar hubungan vertikal dengan Allah Swt, tetapi lebih dari itu, jangan sampai ketika hijrah, kita bermusuhan dengan teman yang tidak memakai kerudung, merasa diri paling benar di antara yang lain.

Aspek-aspek tersebut menjadi penting untuk dipahami dalam proses hijrah. Apalagi hijrah sudah menjadi mode anak muda masa kini. Ditambah lagi di kalangan artis, pilihan hijrah justru akan meningkatkan popularitas dan semakin banyak digandrungi oleh para fansnya.

Apakah setelah hijrah lalu menobatkan diri sebagai ustadz sesuatu yang benar? Tunggu dulu. Jangan dikira hanya dengan modal baca Al-Qur’an lalu posting dan segala macam terus menobatkan diri sebagai ustadz dan bisa kita terima dengan tangan terbuka dan dengan seenaknya bisa belajar kepada sosok ustadz tersebut.

Memilih Guru Agama

Setidaknya kita harus bijak memilih guru agama yang akan dijadikan panutan dalam kehidupan. Keilmuan agama yang dimiliki oleh orang panutan kita harus jelas dan bagus. Jangan sampai belajar agama pada orang yang hendak berseteru dengan sosial, mengkafirkan, merasa diri paling benar dan selalu membuat kegaduhan.

Sebaiknya orang-orang seperti Aldi Taher, lebih giat lagi belajar Al-Qur’an, belajar tajwid, mengkaji Al-Qur’an, sebelum menobatkan diri sebagai ustadz. Aldi Taher beberapa waktu lalu juga sempat ramai dengan lagunya yang berjudul “Poligami Berkah”, dibawakan dengan begitu ceria dan amat sempurna.

Aldi Taher memang bukan satu-satunya orang dengan kasus demikian. Banyak artis-artis yang hijrah dan keseringan merasa dirinya paling benar, menyeru pada yang dianggapnya benar. Padahal pengalaman keberagamaannya sangat minim, lebih jauh jika sampai membuang aspek kemanusiaan dalam dirinya.

Parahnya, masyarakat kita lebih suka yang demikian, sesuatu yang viral dikalangan masyarakat kita jarang dijumpai dengan konten yang bermanfaat, esensial. Wallahu a’lam.

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru