27.3 C
Jakarta

Al-Zarqawi, Maha Guru ISIS dari Al-Qaeda (Bagian VII)

Artikel Trending

KhazanahTelaahAl-Zarqawi, Maha Guru ISIS dari Al-Qaeda (Bagian VII)
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Sejarah panjang ISIS sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa bagian sebelumnya telah mengulas tentang latar belakang dibentuknya, geneologi ideologi dan teologisnya. Hingga edisi kali ini tiba saatnya untuk membahas salah satu mahaguru ISIS yang menyejarah. Ia adalah Abu Mus’ab Al-Zarqawi, sang guru sekaligus inspirator al-Baghdadi.

Al-Zarqawi adalah penduduk asli Yordania. Menurut Najih Arromadloni, ia memiliki sederet nama samaran yang belum dimiliki oleh orang lain, yaitu nama Abu Mush’ab Al-Zarqawi.  Gelar ini belum diketahui oleh masyarakat kebangsaan mereka, Yordania sendiri. Nama itu adalah nisbat dari kota Az-Zarqa’ di mana ia dilahirkan di kota itu pada 30 Desember 1966. Penduduk kota ini relatif miskin dan menengah ke bawah.

Dalam berbagai sejarah ISIS dituliskan bahwa Al-Zarqawi adalah salah satu maha guru ISIS yang paling banyak menyisakan ajaran dan pemahaman tentang Islam salaf. Hal ini tidak dapat dipisahkan dengan latar histori Al-Zarqawi yang dilahirkan dari keluarga miskin dari klan Bani Hasan. Kalan Al-Zarqawi pada hakikatnya merupakan klan terbesar di Yordania, namun hanya keluarga merekalah yang relatif miskin dan memiliki pola pandang salafi.

Al-Zarqawi lebih memungkinkan untuk menjadi orang salaf ortodoks jika melihat pada lingkungannya yang bertetangga dengan badui. Orang badui adalah orang yang berwatak baik, cepat melupakan kesalahan orang; cintanya kepada orang lain bersifat sepintas lalu, tapi kekurannya badui mudah marah dan tersinggung. Karena mereka hidup di pedalaman. Watak badui ini tidak bisa lepas dari Al-Zarqawi dalam memahami atau dalam hubungannya dengan orang lain.

Masa Kecil Al-Al-Zarqawi

Al-Zarqawi menghabiskan masa kecilnya di distrik Ramzy, salah satu distrik kumuh berpenduduk padat, kota Az-Zarqa. Pada jarak puluhan meter dari kampungnya, ia suka bermain-main di sebuah kuburan di wilayah distrik Ma’shum yang merupakan distrik kumuh terkuno di kota Az-Zarqa. Distrik ini kemudian tumbuh pesat karena keberadaan kamp-kamp tertua tentara Yordania di sana sejak kerajaan dibangun. Kota Az-Zarqa kemudian menjadi kota yang menyedot arus urban ke sana—termasuk orang yang bekerja di luar kota ini—karena murahnya kehidupan (living cost).

Al-Zarqawi kecil, sedari dini, telah tumbuh kesadaran tentang hidup bersama kejahatan dan kebaikan sekaligus. Ia bisa hidup dengan dua hal yang kontradiktif ini. Selain masa kecil yang lama dia habiskan di antara kuburan-kuburan itu menumbuhkan perasaan “berdamai” dengan nilai-nilai kontradiktif antara kematian dan kehidupan. Di kuburan itulah, Al-Zarqawi merajut benang-benang terpenting persahabatannya.

Hingga sekolah menengah tingkat atas, Al-Zarqawi belajar di kota Az-Zarqa’, sebuah kota yang hampir semua jalan-jalan di kota itu dihiasi dengan masjid. Menginjak dewasa, ia menjadikan masjid Abdullah bin Abbas—yang berdampingan dengan rumahnya—sebagai rumah keduanya. Di masjid inilah, ia mulai merajut kembali tali persahabatan baru.

Teman-teman barunya kebanyakan berasal dari berbagai jamaah Islam. Beragam jamaah—dengan ijtihadnya yang berbeda-beda—sama-sama berusaha mendorong kaum muda untuk berjihad.Hingga ide jihad dan mati syahid tumbuh berkembang dalam diri Al-Zarqawi. Dengan demikian, langkahnya pun mantap untuk meninggalkan seluruh kenangan masa kanak-kanak dan remajanya yang ia bangun di pekuburan.

Pengalaman Pertama ke Afghanistan

Jalan jihad melawan komunis yang menjajah Afghanistan terbentang mudah di Yordania—seperti juga umumnya negara-negara Arab—bagi orang-orang yang merindukannya dan ingin mati syahid. Padahal Palestina lebih dekat bagi warga Yordania secara umum, dan bagi Al-Zarqawi secara khusus, baik dari sisi geografis maupun psikis. Setidaknya dengan melihat susunan demografi penduduk Yordania, yang separuhnya berasal dari para pengungsi Palestina dan sebagian yang lain warga Yordania yang asal-muasalnya berasal dari Palestina juga.

Dalam sebuah surat yang ia tujukan untuk saudara sesama klan, Al-Zarqawi menyeru saudara-saudaranya untuk berjuang demi mengibarkan panji Islam dan terjun ke medan jihad melawan setiap orang yang menghalangi perang terhadap Israel. Dalam suratnya itu, Al-Zarqawi menyatakan, asal-usul klannya berasal dari kota Jerussalem. Inilah isi suratnya:

Wahai kaumku, kembalilah kepada agama kalian. Islam adalah kejayaan dan kehormatan kalian. Ia adalah kejayaan ayahanda kalian dan nenek moyang kalian yang memperoleh kemuliaan untuk ikut serta di bawah panji Shalahuddin Al-Ayyubi di Hittin dan kemuliaan untuk ikut serta bersama suku-suku yang lain dalam membebaskan Jerussalem. Shalahuddin memberikan hak konsesi tanah di daerah-daerah sekita rJerussalem kepada suku-suku yang ikut serta bersamanya,adalah demi menjaga kota itu dari serangan kaum Salib. Shalahuddin berpesan, ‘Inilah tempat berisra’ kakek kalian ,maka jagalah ia’, yang ia maksud adalah Nabi SAW. Bagian konsesi bani Hasan adalah di bagian barat daya dari kota Jerusssalem. Di sanalah bani Hasan tinggal dan beranak-pinak di desa-desa Al-Walijah, Ain Karim, Al-Malihah, dan lain sebagainya…Wahai kaumku… Nenek moyang kita pada waktu itu telah menjaga tanah-tanah tersebut dan melindungi Jerussalem yang mulia, mereka hidup dengan kegemilangan dan kekuatan Islam, oh para bapak yang muhlisin”.

BACA JUGA  Idulfitri: Rajut Silaturahmi dengan Sikap Toleran Antarumat Beragama

Al-Zarqawi Sang Jihadis

Sebagaimana para pemuda Yordania Muslim yang lain, Al-Zarqawi mempunyai semangat pergi ke Afghanistan di akhir tahun 1980-an. Di sanalah para pemimpin seperti Abdullah Azzam dan Usamah bin Laden berada. Impian Az-Al-Zarqawi adalah berjihad dan bergabung bersama Abdullah Azzam. Al-Zarqawi pun memperoleh latihan militer. Pengetahuan agama dan politiknya berkembang di tengah-tengah perang yang seru antara mujahidin dari Arab dan Afghan dengan tentara penjajah Soviet.

Saat berada di Afghanistan, Al-Zarqawi tak lupa membuat hubungan yang erat dengan masyarakat Afghan-Arab. Seorang saudari kandungnya dinikahi salah seorang mereka, sebagai bentuk penghargaan Al-Zarqawi atas keberanian lelaki itu yang kehilangan salah satu kaki dalam perang melawan Soviet.

Dalam acara perayaan pengantin yang digelar, Al-Zarqawi memperkenalkan dirinya secara luas ke tengah-tengah komunitas itu, khususnya kepada Abu Al-Harits Al-Hiyari yang pernah memimpin perang melawan Soviet di kawasan Khost. Al-Hiyari memiliki sepak terjang yang sulit ditandingi dalam sejarah peperangan Afghanistan. Atas dasar hubungan sosial inilah kemudian Al-Zarqawi melangkah menuju loncatan baru.

Di antara hubungan terpenting yang dibuat Al-Zarqawi di Afghanistan adalah hubungan yang dibangunnya dengan ‘Isham Al-Burqawi yang dikenal dengan nama Abu Muhammad Al-Maqdisi tahun 1989. Al-Maqdisi adalah pilar ketiga dalam pembentukan watak Al-Zarqawi.

Dialah tokoh yang mula-mula menjadi pendamping perjuangan dan teman, sekaligus juga guru bagi Al-Zarqawi. Dialah yang memoles visi organisasi dan sepak terjang yang dimiliki Al-Zarqawi. Dia pulalah tokoh yang memonitornya, setelah Al-Zarqawi menjadi amir bagi sebuah kelompok dalam penjara. Kemudian dia juga tokoh yang mengkritik dan menasihati Al-Zarqawi tatkala ia berada di penjara Yordania sedangkan Al-Zarqawi berada di Iraq.

Kembali ke Yordania

Pasca hengkangnya tentara Soviet dari Afghanistan dan berkobarnya perang antara faksi-faksi Afghanistan, tidak ada lagi musuh yang bisa diperangi para mujahidin Arab. Akibatnya, impian mereka untuk berjihad di Afghanistan hilang percuma. Karena itu, mujahidin Arab yang mampu kembali ke negerinya tanpa bayang-bayang ancaman pihak keamanan setempat, kembali ke negara masing-masing untuk menularkan ilmunya.

Nampaknya, inilah yang mendorong Al-Zarqawi untuk kembali ke Yordania. Ia mendirikan organisasi dan mengembangkan pandangan-pandangannya. Ia bersepakat dengan Al-Maqdisi, yang lahir di Palestina dan datang dari Kuwait di mana keluarganya ada di sana, untuk masuk Yordania pada pertengahan 1993.

Tujuannya mendirikan organisasi keagamaan yang secara pemikiran ia maksudkan untuk menggalang para pemuda dan mendidiknya dengan ideologi jihad. Selanjutnya diikuti dengan langkah mengumpulkan senjata dan bom untuk latihan terlebih dahulu, lalu melakukan operasi militer terhadap Israel.

Abu Muhammad Al-Maqdisi sang arsitek utama organisasi ini—yang mereka namakan sebagai Jamaah At-Tauhid—mulai memberikan pelajaran dan kuliah di masjid-masjid dan tempat-tempat perkumpulan pemuda. Tujuannya menarik mereka menjadi anggota organisasi baru itu. Kebanyakan pendiri organisasi ini, termasuk Al-Maqdisi dan Al-Zarqawi, belum berpengalaman dalam berorganisasi.

Maka dengan mudah mereka jatuh dalam jaring-jaring pihak keamanan Yordania, hanya beberapa waktu saja setelah mereka mulai kegiatan. Keduanya dan juga anggota organisasi ini dijebloskan ke dalam penjara pada tanggal 29 Maret 1994. Mereka diseret ke pengadilan keamanan negara dengan tuduhan kasus yang oleh pihak berwenang Yordania dinamakan kasus Baiah Al-Imam.

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru